Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 58 - Bukan Mimpi


__ADS_3

"Ini terlalu gila, kenapa aku tidak ada puasnya?"


Mata Agny yang sendu menatap netra Justin, ini benar-benar nikmat dan mungkin kali pertama Agny merasakan bagaimana fantasy bersama Justin. Tidak dapat dia jelaskan, hembusan angin, birunya langit dan hamparan lautan luas seakan menjadi saksi napas mereka yang menggebu.


Kali kedua Agny meremmas bahu Justin hingga kembali membuat sang suami terluka. Meski sedikit perih, percayalah Justin sangat suka itu. Agny menyembunyikan wajah di ceruk Justin, pria itu meremmas bagian belakang Agny yang dia pegangi sejak tadi.


"Belum selesai?" tanya Agny lemas dan memang Justin belum menunjukkan dia selesai, pria itu membawa Agny keluar dari kolam. Kecupan di dagu dan leher wanita itu tidak pernah berhenti hingga Justin membawanya ke tempat tidur, air membasahi lantai dan Justin tidak peduli itu.


Beberapa waktu berhenti, mereka kembali melanjutkan pergulatan surgawi demi membuat suaminya mencapai puncak kenikmatan kali ini. Mengimbangi Justin memang cukup sulit, terlebih Agny pemula dan terkadang dia dibuat lemas lebih dulu oleh sang suami.


Faktanya benar, penyatuan setelah menikah nikmatnya tiada tara dan perasaan ini sangat-sangat berbeda. Tidak ada ketakutan, ataupun penyesalan setelah dia melakukannya. Justin mengerang, seketika itu Agny menerima genggaman tangannya. Tanpa kata Justin mengecup bibirnya Agny begitu lama dengan penuh perasaan, jika biasanya Justin hanya melakukan pelepasan semata-mata untuk kesenangan, bersama wanita ini dia berbeda dan ada barapan ketika selesai.


Agny menyeka keringat Justin yang bahkan menetes dari ujung hidungnya. Wajah yang dapat dia katakan nyaris sempurna, bisa Agny simpulkan sebenarnya dia sedikit tidak yakin pria setampan Justin mengatakan jika mencintainya. Awalnya menyeka keringat, namun lama kelamaan gerakan itu berubah menjadi belaian di wajah Justin hingga pria itu kembali membuka matanya.


"Kenapa? Kamu mau lagi?"


"Bukan, sedang bingung saja ... apa aku sedang bermimpi?"


"Ehm menurutmu?"


Sejak kemarin-kemarin Agny merasa dirinya tengah bermimpi, semua seakan tidak nyata dan kehadiran Justin yang benar-benar menyelamatkan hidupnya membuat Agny masih mempertanyakan takdirnya.


"Aku tidak yakin, tapi seingatku kemarin masih bisa merasakan perih." Kali ini berani mengakui jika cukuran Justin membuat bagian intinya terasa perih, goresan kecil yang pada akhirnya membuat Agny trauma bahkan enggan melakukan hal konyol semacam itu lagi.

__ADS_1


"Oh iya? Sepertinya perlu dibuktikan dengan cara lain agar yakin ini tidak mimpi."


"Caranya?" tanya Agny penasaran hingga mengerutkan dahi dan percaya jika Justin akan membuatnya yakin ini bukan mimpi.


Justin hanya tersenyum kemudian dia menurunkan wajahnya. Beberapa detik, Agny merasakan sakit tak terkira di bagian dadanya.


"Aaarrrgghhh, sakit ... sakit, sumpah!!" Agny menarik rambut Justin lantaran pria itu benar-benar membuktikan jika semua bukan mimpi dengan cara bodoh hingga membuat Agny mengeluarkan air mata.


"Tidak mimpi, 'kan?" tanya Justin kemudian mengusap pelan bagian yang Justin gigit, gigi runcingnya tidak berotak bahkan mungkin saat ini lecet.


Agny yang tadinya bersikap lembut mendadak emosi lantaran suaminya berubah persis bayi yang baru tumbuh gigi. Bayangkan saja, digigit anak kecil saja sakit luar biasa, kini pria dewasa seperti Justin justru menggigitnya seakan tanpa dosa.


Dengan kasar Agny mendorong tubuh Justin hingga pria itu terkekeh kemudian, bukannya berpikir cara menenangkan istri, Justin justru kembali menelusupkan tangannya di punggung Agny. Aku tidak akan tergoda kali ini, Justin.


"Mandi? Nanti dong, belum waktunya mandi ... sudah kukatakan jika kita di sini tidak akan kulepas," ucap Justin menahan tubuh sang istri kala wanita itu hendak beranjak.


"Mainnya kasar, sakit ... pasti berdarah," gerutu Agny kemudian menunduk dan berusaha memeriksa sendiri, sayangnya dia tidak dapat melihat bekas luka akibat gigitan Justin. Akan tetapi, demi Tuhan rasanya benar-benar menyakitkan.


"Tidak, aku tidak menggigitnya sekeras itu ... kamu mau balas? Ini jariku."


Kata Keyvan, cara melihat seberapa besar cinta wanita adalah dengan begitu. Bumbu percintaan dengan saling gigit biasanya akan kembali panas di saat pasangan sudah lelah, Justin hanya mencoba dan itu bertepatan dengan Agny yang penasaran ini mimpi atau bukan.


Ditengah pertikaian manis mereka, ponsel Justin tiba-tiba berdering tak hanya sekali dua kali. Dia berdecak sebal namun Agny memintanya untuk menerima panggilan itu lebih dulu. "Ck, nanti saja lah."

__ADS_1


"Angkat dulu, siapa tahu penting ... sana," ujar Agny mendorong pelan dada Justin yang memang sudah berusaha kembali mengikis jarak dengannya.


Pria itu mendengkus kesal kemudian berlalu dan meraih ponselnya dengan sedikit tak ikhlas. Waktunya bersama sang istri diganggu dan hal semacam ini membuat Justin tidak suka.


"Siapa? Apa Evan ganti nomor?" Justin mengerutkan dahi, dia bingung karena nomor ponselnya saja baru diganti beberapa hari lalu. Belum banyak yang dia hubungi dengan nomor itu, nomor yang sengaja dia gunakan untuk di tempat ini.


"Hallo, siapa?"


"Ehem ... Hai, Justin ... kau mengingat suaraku?"


Tangan Justin mengepal dan dia sontak menoleh ke arah Agny, wanita itu tampak kelelahan dan sepertinya akan terlelap sebentar lagi. Tidak ingin pembicaraannya diketahui, Justin sedikit menjauh dan mendengar dengan jelas apa kehendak manusia satu ini.


"Ada apa? Mau apa kau menghubungiku?"


.


.


.


- To Be Continue -


Dudududu, gatau gelap aku mau di vote udah😙

__ADS_1


__ADS_2