
Tidak selamanya lapar berarti ingin makan nasi, ada kalanya harus makan istri. Itu adalah sebuah kalimat penyemangat mereka bertiga. Jika dahulu mungkin Justin tidak bisa merasakan maknanya, kali ini dia memahami dengan sejelas-jelasnya.
Pasca mendapatkan amunisi tadi malam, keesokan harinya Justin paling semangat. Pria itu berangkat ke kantor usai mengantarkan putra dan sang istri ke sekolah, tentu saja dengan bantuan pengasuh juga.
"Jarang-jarang direktur kita ramah, kerasukan, Om?" tanya keny menyadari perubahan besar dalam diri Justin. Pria ini berbeda dan tidak seperti kemarin, bahkan bisa dibilang sangat energik lantaran semua diasapa.
"Seperti kata Evan ... senyum adalah ibadah."
"Heh?"
Tidak hanya Keny, Keyvan juga dibuat bingung dengan pernyataannya. Justin membahas hal semacam itu, ya sebenarnya bukan hal yang aneh seorang Justin berkata demikian. Akan tetapi, Keyvan justru memiliki sedikit harapan untuk Zavia.
"Ayo masuk, kenapa kalian berdua kusut semua? Belum di-service?"
"Kau pikir kipas angin?" ketus Keyvan melangkah pergi, biasanya jika Justin susldah sesumbar begitu, artinya dia dalam keadaan bahagia. Ya, bahagia dimanjakan istrinya.
"Lah, tidak mesti kipas angin saja yang diservis ... ada kalanya beo dan perkutut perlu service."
Mulutnya sembarangan sekali, Keyvan memijat pangkal hidungnya dan merasa pria di hadapannya ini sedikit kurang akal. Jika hanya mereka berdua tidak masalah, pasalnya ini adalah lobby perusahaan dan bayangkan saja berapa banyak telinga karyawan yang mendengar perdebatan terkait service tersebut.
"Sorry milikku bukan perkutut, tapi elang, Bro!!"
Justin saja sudah pusing, Keny justru menambah beban Keyvan. Mungkin beberapa karyawan akan sadar jika dua pria ini layaknya jadi tukang parkir saja.
"Cih elang, kelihatannya perkutut itu ... atau burung pelatuk, kan kecil.'
"Heh bedebah, kecil dari mana? Kau lupa barang siapa paling bagus di antara kita?"
"Evan lah."
Percayalah, Keyvan Wilantara tidak ada harga dirinya oleh dua pria ini. Ingin dia bentak, tapi jelas akan percuma hingga pria itu memilih mengalah dan menganggap dua manusia ini adalah beo yang baru belajar bicara.
"Ehem ... kalian tolong naik lift yang lain saja, kepalaku sedikit sakit," ucap Keyvan sedikit pucat.
"Kenapa begitu, Van? Aku memujimu padahal, kami sudah mengalah ... milikmu pal_"
"Justin!! Kau ingin aku kremasi hidup-hidup? Kenapa menyebalkan sekali."
Justin angkat tangan, tampaknya suasana hati Keyvan sedang buruk hingga dia enggan menghadapi candaannya. Pria itu melirik ke arah Keny yang tengah memerhatikan bagian bawah perutnya.
"Kau sedang apa?"
__ADS_1
"Elangku, kenapa tidak muncul ya?"
"Sarap."
Sekumpulan manusia tidak sadar diri terus bercengkrama tanpa peduli jika Keyvan kesal pada mereka. Entah berapa lama tawa mereka bertahan, yang jelas Keyvan sangat ingin melihat mereka kusut hari ini.
.
.
Jangan terlalu senang. Karena bisanya akan menangis setelahnya.
Siapa yang tidak mengenal kalimat itu, tentu saja familiar di berbagai kalangan. Hal itu yang berkali-kali Keyvan tekankan lantaran kedua sahabatnya tidak ada habisnya tertawa padahal sama sekali tidak lucu.
Sore hari, tepatnya ketika pulang kantor Agny menghubungi sang suami dan merengek minta sate madura. Terdengar mudah bukan, Justin tersenyum simpul melihat pesannya. Akan tetapi, senyum pria itu pudar kala melihat permintaan utamanya.
Tapi kambingnya kamu yang potong.
Justin mengerjapkan matanya, dia berdegup tak karuan seraya menggigit bibirnya pelan. Potong kambing? Yang benar saja, sejak dahulu dia paling takut dengan hewan itu.
Menurut Justin hewan paling menakutkan adalah kambing. Karena sorot mata mereka persis manusia dan dengan alasan apapun Justin tidak suka. Pengalaman buruk semasa SMA membuatnya trauma, akibat srudukan kambing jantan yang sudah cukup dewasa Justin sampai harus dirawat di rumah sakit beberapa minggu.
Apalagi permintaannya? Sejak kapan juga kambing memiliki akta kelahiran, pikir Justin mulai pusing sendiri. Ingin marah, tapi wanita ini adalah bidadarinya. Mana mungkin Justin tega.
"Kenapa begitu, Sayang? Tidak bisa asal kambing?"
Tidak bisa, zodiak kambingnya harus leo.
Persetan dengan zodiak, ya Tuhan Agny. Justin memejamkan matanya seraya memukul setir mobil sesekali. Hancur sudah, apa mungkin ini akibat dia tertawa terlalu puas, pikir Jutsin bingung sendiri.
"Memangnya kenapa dengan zodiak Leo?"
Suka saja, kamu kan zodiaknya leo .. jadi sate kambingnya harus dari kambing yang berzodiak leo.
"Iya, aku segerakan ... love you, Sayang."
Justin mengetik demikian, tapi percayalah dia kacau balau memikirkan kambing jantan berzodiak leo yang Agny minta. Hingga ditengah kebingungannya, tampak Keyvan hendak memasuki mobilnya. Sontak pria itu keluar dan menghampiri Keyvan dan mengutarakan niatnya.
"Ada yang lebih aneh lagi?"
"Tolonglah, Van ... demi istriku."
__ADS_1
"Ck, aneh-aneh saja istrimu, kalau Gemini saja gimana?" Di saat kepala Justin pusing, Keyvan justru bercanda hingga membuat pria itu sebal luar biasa.
"Harus Leo, Van."
"Sagitarius deh, atau kalau tidak Capricorn ... biasanya ambisius," tambah Keny yang kini sudah ikut bergabung tanpa diminta sama sekali.
"LEO Telinga kalian tuli atau bagaimana?"
"Hahahahahahah semua wanita itu sama, 'kan, Justin? Merepotkan," ungkap Keny tengah menikmati karma Justin.
"Ck, terserah ... aku tidak mau tahu, intinya temani aku cari kambing syalan itu."
"Minta Wibowo saja lah, atau Om Babas."
"No, Van ... dia ingin perjuanganku."
"Ya sudah cari sendiri, kalau sampai Agny tahu kambing itu kami yang cari percuma, Just."
"****** kalian berdua!! Hubungi peternakan terdekat, pastikan zodiaknya Leo," titah Justin seolah bos besar, dan Keny yang cepat tanggap justru berperan seakan benar-benar asisten pribadinya.
"Hallo, jual kambing, Pak?" Keyvan mulai curiga, Keny bergerak cepat sekali padahal sejak dahulu mereka tidak ada kenalan peternak kambing.
"Ah oke-oke, maaf ya, Pak."
"Kenapa, Ken?"
"Salah ternyata, ini nomor mertuaku ... aduh, bagaimana ya? Sampai tidak direstui seumur hidup bagaimana?"
"Terserah!!" umpat Justin berlalu meninggalkan Keny yang tengah meratapi kebodohannya.
.
.
To Be Continue -
__ADS_1