
Keduanya tengah berada dalam situasi tidak aman sebenarnya. Persis korban pencurian yang kehilangan seganya dan tidak mampu melakukan apa-apa. Akan tetapi, entah kenapa Justin merasa damai meski dia terjebak begini.
"Agny, bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Justin serius seraya menatap sang istri yang kini tampak mengubur kekecewaannya.
"Aku baik-baik saja, aku harap semua memang salah dan kamu tidak menelantarkan anak itu," ujar Agny lagi dan lagi hanya terfokus dengan poin yang menyeret Renaga.
"Kamu hanya peduli dengan itu? Isu miring tentang kita bagaimana?"
"Soal itu, bukankah sudah baik-baik saja? Gosip sudah biasa, 'kan? Toh lama-lama redup sendiri. Terserah mereka mau menghinaku bagaimana, aku tidak hidup dari mereka."
Demi apapun, Justin sungguh terkejut dengan reaksi Agny setelah semua yang menimpa mereka. Semua aib Justin di masa lalu dan isu miring tentangnya dan Winarto sama sekali tidak Agny gubris. Andai saja Justin tahu mental sang istri akan mampu bersikap bodo amat begini, jelas saja dia akan menghadapinya berdua.
"Aku bukan pria sungguhan kata mereka, pemabuk, mantan pemakai ... kamu baik-baik saja dengan suami yang seburuk ini, Agny?" tanya Justin melemah dan memang dia perlu menanyakan hal ini.
"Nasib, mau bagaimana lagi ... Tuhan kasih jodohnya begini ya terima saja." Berharap jawaban romantis, tapi justru ini yang Justin dengar.
"Eum, aku lelah sekali hari ini. Lari-lari, sarapan saja belum dan kita terperangkap di sini. Kejam sekali, kalau tadi tidak aku kejar di bus bagaimana? Apa kamu akan meninggalkan aku juga seperti Mamaku?" tanya Justin menyandarkan tubuh tingginya pada Agny, memang pria itu kerap tak sadar diri.
"Aku tidak akan pergi, sudah kukatakan tempatku kembali di sini ... tadi pagi aku hanya merindukan orang tuaku saja," ungkap Agny masih menempelkan jemarinya di dada Justin.
Justin adalah tempatnya kembali, sejak pria itu menikahinya, sama sekali Agny tidak punya dunia selain Justin. Karena itu, sekalipun dia kecewa setengah mati mengetahui Justin menelantarkan anaknya, Agny tidak punya rencana untuk meninggalkan Justin dalam hidupnya.
"Benarkah?"
"Iya, tapi memang sedikit kecewa ... aku tidak marah, dan tidak pernah berpikir untuk pergi juga."
Lihatlah kedua orang ini, mereka begitu mesra padahal hanya di bawah pohon dengan begitu banyak polusi di depan sana. Akan tetapi, Justin dan Agny merasa lebih nyaman di sana. Selain karena mereka tidak memegang uang untuk berdiam di restaurant mahal, tempat ini belum pernah Justin rasakan sebelumnya.
"Maaf, Sayang ... seharusnya aku tidak menutupi apapun kemarin, aku hanya terlalu sayang padamu."
"Iya, sudah tidak perlu dipertegas."
Agny paling tidak mampu jika Justin sudah bicara selembut itu. Apalagi didukung dengan wajah melas dan penampilan menyedihkan sang suami, hati Agny kian terkoyak rasanya.
"Oh iya, semalam kamu judi, 'kan?"
"Hah? Kok tau?"
__ADS_1
Justin gelagpan, tanpa dia duga jika sang istri hanya pura-pura tidur. Pengakuan memalukan itu Agny dengar begitu nyata. "Memang hobi ya?"
"Ti-tidak, aku sudah lama tidak berjudi ... dulu memang iya, tapi sekarang tidak lagi. Semalam, aku hanya ingin melumpuhkan Arga, jika bukan karena itu aku tidak akan melakukannya." Justin menjelaskan panjang lebar padahal sama sekali tidak diminta bagian sana.
"Huft, aku membencinya ... tapi setelah dia meninggal, kenapa sedih ya."
"Jangan bersedih untuk pria sebejjat dia, Agny. Kamu tahu konsep hidup selain give and take?"
Agny menggeleng, Justin tengah mengajaknya berbincang dengan mode yang lebih serius lagi. Wanita itu meneguk salivanya pahit kala Justin menatapnya kian tajam saja.
"Membunuh atau dibunuh," bisik Justin membuat bulu kuduk Agny meremang, entah kenapa di matanya saat ini Justin lebih mengerikan daripada pencopet yang membuat onar tadi.
"Kenapa begitu?"
"Dalam kasus menghadapi musuh seperti Arga, kamu harus tegas mengambil langkah. Jika tidak mau dibunuh, ya kamu harus membunuh ... terdengar kejam, tapi itulah fakta dunia, Sayang."
Gleg
Siapa lawan bicara Agny sekarang, wanita itu mendadak terdiam dan bingung hendak menjawab apa. Justin terlihat berbeda, tatapan mata dan cara bicaranya saat ini membuatnya takut, apalagi situasi di sini sedikit sepi.
"Ti-tidak, bingung penjelasannya."
Agny memilih pura-pura tidak mengerti, dia malas memahami ucapan Justin karena sepertinya yang Jutsin bahas memang benar-benar nyawa, bukan istilah.
"Ya sudah, suatu saat kamu akan paham sendiri." Justin meraih pundak sang istri agar mereka lebih dekat. Tidak peduli bagaimana orang-orang yang melihat mereka.
.
.
Mungkin sebagian akan mengerti mereka adalah pasangan konglomerat dan terlihat begitu manis dengan kesederhanaan yang ada. Akan tetapi, sebagian juga menganggap mereka benar-benar gembel yang tidak memiliki tempat tinggal.
"Kamu belum mau pulang? Tidak malu jadi gembel di sini?" tanya Justin dengan harapan istrinya masih ingin di sini.
"Gembel? Gembel dari mana ... nanti saja, aku suka duduk di sini."
"Tapi nanti kita dikira pengemis, Sayang," ungkap Justin kembali sebal dengan perlakuan dua manusia siallan yang menjatuhkan uang untuknya.
__ADS_1
"Tidak akan."
Krruuuukk
Perut Justin berbunyi, wajar saja dia lapar karena memnag sarapan saja tidak. Justin bersemu merah kala Agny mendongak, pria itu mengalihkan pandangan dan menutupi rasa malunya.
"Lapar?"
"Hm? I-iya, sedikit,,' jawab Justin pelan, padahal dia sangat amat lapar.
"Uang sepuluh ribu tadi masih ada, aku cari makan di sekitar sini kalau mau."
"sayang ...." Justin masih gengsi, dia tidak mengatakan asal uang itu yang sesunguhnya.
"Atau kita pakai buat naik angkot saja? Terus makannya nanti, masih bisa tahan?" tanya Agny seolah tengah mengkhawatirkan adik-adiknya di panti.
"What? Angkot? Yang benar saja naik angkot ... Panas, bau dan aduh sopirnya kalau jalan asal gas, aku tidak mau," jawab Justin menggeleng dan dia memang musuh bebuyutan sopir angkot sejak dahulu.
"Sayang, ayo buka matanya. Kita hanya punya uang segini, ponselku lowbet dan kamu juga tidak bawa apa-apa ... hanya ini harta kita berdua, jadi pilih mau makan atau naik angkot?"
Ini adalah titik terendah hidup Justin, dia bingung dan mengusap kepalanya kasar. Dia lapar, tapi tidak mungkin sepuluh ribu cukup untuk makan berdua. Naik angkot? Yang benar saja, sungguh Justin dibuat dilema apalagi uang itu pemberian atas rasa kasihan padanya.
"Makan kamu saja boleh tidak?"
"Ck, serius. Kita pulang saja ya? Kamu juga belum mandi begitu, wajar saja takut dikira pengemis," ungkap Agny seakan sengaja membuat Justin kembali tertekan.
"Ya Tuhan, apa benar mirip pengemis, Sayang?" tanya Justin memastikan dan jika benar Agny menjawab iya demi apapun rasanya dia ingin tenggelam ke permukaan bumi untuk saat ini.
"Iya, sedikit mirip."
.
.
- To Be Continue -
Justin : Hallow, Abang dah up banyak hayu stor Votenya❤
__ADS_1