
Kehadiran malaikat kecil bernama Gracia itu benar-benar menyempurnakan hidup Justin. Sekalipun harus begadang dan tidur hanya tiga jam, tapi tidak masalah. Justin sangat bersyukur dengan apa yang kini dia terima.
Mata pandanya tidak bisa berbohong, hal itu benar-benar menjelaskan jika Justin kelelahan. Agny sudah meminta Justin tidur lebih cepat, akan tetapi pria itu menolak dan rela menanggung semua resikonya.
Begadang jangan begadang ... kalau tiada artinya.
"Ken diamlah, kepalaku sakit."
Hampir setiap hari, dua bulan sudah Justin selalu mendengar syair tidak berguna itu dari mulut Keny. Entah mengejek atau memang tengah berusaha asah kemampuan hingga dia terus saja bernyanyi walau sama sekali tidak diharapkan.
Begadang boleh saja ... kalau ada artinya.
"Yihi ... gimana rasanya, Just? Begadang, sudah pusing atas bawah belum?"
Keny tengah meledeknya, dia paham betul Justin paling tidak mampu menahan gejolak dalam dirinya. Kini, semenjak Agny melahirkan dia mungkin saja tersiksa, akan tetapi jelas saja tidak mampu protes karena Gracia adalah tanggung jawab mereka bersama.
"Pertanyaanmu berbobot sekali, Ken."
Menyebalkan memang, sengaja masuk ke ruangannya hanya untuk bernyanyi semacam itu. Ingin rasanya Justin memasukkan Keny ke mesin penggilingan daging saat ini juga.
"Sudah dua bulan, apa benar istrimu belum kau sentuh, Justin?"
Terdengar konyol, tapi memang benar. Justin tidak ingin istrinya celaka, dia memilih tidak egois soal itu. Meski dia menjadi bahan tertawaan kedua sahabatnya akibat mengatakan hal itu, tapi tentu saja tidak masalah.
"Kau kenapa, Van? Apa aku tidak bisa dipercaya?" tanya Justin mendelik ke arah sahabatnya.
"Bisa, tapi keren saja maksudku."
"Keren kepalamu, sudah kalian lebih baik keluar dari sini ... pekerjaanku banyak sekali."
"Halah santai saja, Just. Jangan terlalu lelah, lagipula Evan tidak akan memecatmu."
Tiada hari tanpa keributan, ya itulah kalimat yang menggambarkan mereka bertiga. Keyvan dengan sejuta kesabaran dan Keny dengan segala pembahasan konyolnya adalah hal yang seimbang dikonsumsi otak Justin.
Beruntung saja saat ini dia sudah memiliki obat atas rasa lelahnya. Kehadiran Gracia dan juga Renaga yang sangat menyayangi adiknya adalah pengusir lelah paling nyata bagi Justin.
Usai dengan pekerjaan dan pertikaiannya bersama dua orang itu, Justin kini beranjak pulang. Akan tetapi, nasib sial memang selalu melekat dalam diri Justin. Keny yang tiba-tiba minta antar pulang membuat pria itu mengurut dada.
__ADS_1
"Sesekali, Just ... mobilku rusak, tanya saja sama Evan."
"Huft, setidaknya kau bisa naik taksi atau angkutan umum, Keny. Arah kita berlawanan dan kau tidak lupa itu, 'kan?" tanya Justin memastikan, dia khawatir jika Keny amnesia tanpa diduga.
"Aku harus hemat, Just."
"Astaga, ongkosmu kesana tidak seberapa, Keny!" Kesal? Jelas saja, akan tetapi sekesal apapun dia tetap saja tidak mampu menolak karena memang prinsip hidup Justin ialah membantu selagi mampu.
Terpaksa, dia harus mengantarkan paduka Keny lebih dulu. Meski demikian, jelas saja dia mengemudi secepat kilatan petir dan berharap Keny trauma hingga tidak berani memintanya melakukan hal semacam ini lain kali.
"Bang-ke!! Mati ngajak-ngajak!!"
Sudah diberi kebaikan, tapi justru mencaci. Begitulah hal yang mendefinisikan Keny dan kini Justin hanya terkekeh pelan, terserah dan dia sama sekali tidak peduli.
"Istriku menunggu, sana turun."
Keny turun dengan tubuh yang tidak begitu seimbang, kelemahan pria itu memang berkendara dengan kecepatan tinggi. Justin tidak peduli Keny baik-baik saja sampai ke dalam rumahnya atau tidak, yang jelas dia ingin pulang lebih cepat untuk saat ini, itu saja.
.
.
Tibanya di rumah, Renaga sudah menyambutnya. Sungguh rasa lelah Justin gugur seketika, pria itu berjongkok dan demi menyesuaikan tinggi Renaga.
"Aga sudah mandi? Sama siapa?"
"Sendiri, Daddy."
"Woah pintar sekali, Mommy mana, Sayang?" tanya Justin usai mengecup kening putranya yang masih saja persis dilumuri tepung, pasti ulah Agny.
"Sama Cia-ku, Daddy."
Cia-ku, itu adalah panggilan Renaga yang tersemat untuk adiknya. Nama yang menegaskan jika Cia hanya miliknya, Justin bahkan kerap terkekeh mendengar ucapan sang putra.
"Cia-mu sedang apa?"
"Tidur, Daddy. Tadi Aga buat Cia nangis ... maaf."
__ADS_1
"It's okay, god boy."
Setelah memiliki adik, Renaga justru semakin membuat Justin kagum. Setiap Cia menangis karena dia dekati, Renaga akan menganggap itu kesalahannya. Padahal, yang namanya bayi jelas saja tidak lepas dari menangis.
Keduanya berjalan beriringan menuju kamar, menghampiri pelipur lara Justin yang lain tentu saja. Baru saja masuk, Justin sudah disambut senyum hangat Agny di sana.
Istrinya tengah menyusui si kecil, Justin hendak mengecup Gracia usai mengecup sang istri. Namun, secepat mungkin Renaga menarik rambut Justin hingga pria itu hampir saja menjerit.
"Daddy no!!"
"Kenapa, Aga?"
"Mandi dulu, Daddy kotor. Nanti pipi cia-ku merah-merah seperti kemarin," titahnya dengan serius hingga membuat Justin memelas pada sang istri.
"Sayang?" Berharap sekali Agny memberikan toleransi, akan tetapi jawaban istrinya juga sama.
"Mandi dulu, Aga memang benar."
"Tapi aku bersih, Sayang."
"Daddy kotor, bau!! Jangan kiss cia-ku."
Susah payah Renaga masuk di antara mereka hingga membuat Justin menyerah. Pria itu menghela napas kasar dan meratapi kekalahannya dari Renaga yang kini jadi tameng untuk sang adik.
"Jangan saja sampai besar kau begini, Renaga," gumam Justin sebelum kemudian beranjak ke kamar mandi.
"Daddy bilang apa?"
Telinganya tajam sekali, Justin menggeleng cepat dan memilih kamar mandi sebagai tujuan utama. Akan tidak lucu jika dia harus kembali bergelut sampai kesulitan bernapas seperti kemarin lantaran membuat Renaga marah.
"Mommy, Daddy tadi bilang apa?"
"Daddy bilang, Renaga sudah besar," jawab Agny lembut lantaran paham Renaga mungkin mendengar ucapan Justin barusan.
.
.
__ADS_1
- Bonus Chapter -