
Dibuat lelah akibat kemarahan Justin tadi malam membuat Agny baru tersadar ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Belum terlalu terlambat, akan tetapi untuk manusia rajin seperti dia, sungguh disayangkan bangun jam segitu. Agny menggeliat perlahan dan merasakan tubuhnya kaku dalam dekapan, dia membuka mata perlahan dan terlihat jelas kini bagaimana wajah lelah Justin di hadapannya.
Tampan, tidak dapat dipungkiri pria itu memang tampan bahkan bisa dikatakan sempurna. Hanya saja, satu hal yang kerap Agny tidak suka Justin kerap semena-mena dan memang sejak dari awal pertemuan sudah begini. Sungguh tidak menyangka jika pria yang kini terlelap begitu damai bisa menyakitinya semudah itu.
Jika hendak menunggu Justin, tampaknya tidak akan bangun hingga matahari meninggi. Sementara Agny yang tidak terbiasa terbaring di tempat tidur di saat dirinya sudah tidak mengantuk lagi segera beranjak dan berusaha melepaskan pelukan Justin.
Agny yang terbiasa minum air dingin ketika bangun tidur jelas saja harus mengisi amunisinya sebelum melakukan ini dan itu. Tidak hanya haus, Agny juga merasakan lapar hingga dia mulai berpikir untuk menyiapkan sarapan. Jangan ditanya Agny akan masak apa, tentu saja dia beli.
Uang pemberian Justin kemarin masih cukup untuk membeli sarapan mereka berdua. Dia belum bersuami tapi memang sudah dibuat repot sendiri, Agny tidak paham apa yang Justin sukai. Akan tetapi bubur kemarin tidak terlalu buruk, pikirnya.
Sementara menunggu makanannya tiba, Agny merapikan ruang tamu lebih dulu. Mengingat bagaimana tadi malam Justin sempat menggila dan bisa dipastikan pakaiannya kemana-kemana. Sesekali dia melihat ke arah Justin yang kini masih terlelap dan belum ada tanda-tanda dia terbangun dalam waktu dekat.
Beberapa saat dia menunggu, Agny berlalu keluar ketika telepon dari jasa antar makanan sudah tiba. Dia yang memang terbiasa asal pergi tanpa peduli bagaimana penampilannya keluar begitu saja untuk menemui pria itu. Sama sekali dia tidak menyadari jika hal itu akan menjadi bencana beberapa saat lagi.
"Mba Agny ya?"
"Iya, Mas ... ini uangnya, sisanya ambil saja," ucap Agny yang kemudian tidak mendapat ucapan terima kasih dari pria berjaket hijau itu.
"Sisa? Uangnya pas begini sisa darimana ... gadis zaman sekarang, cantik-cantik sarap." Kalimat itu terungkap setelah Agny tidak lagi di hadapannya, beruntung saja pelanggannya cantik hingga tidak perlu mempermasalahkan hal itu.
Sementara Agny yang sudah merasakan panas di bagian lambungnya segera kembali masuk dengan langkah panjang dan langkahnya terhenti kala melihat Justin berdiri seraya bersedekap dada dengan mata yang memandangi Agny dari atas hingga bawah.
__ADS_1
"Kamu keluar begitu?" tanya Justin dengan suara serak dan matanya yang masih begitu sembab.
"Hm? Iya."
"Drivernya laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, kenapa memangnya?"
Agny bingung, kenapa tatapan Justin tiba-tiba setajam itu padahal beli bubur juga karena mengikuti pesanan Justin kemarin. Apa mungkin pria itu masih marah? Akan tetapi, bukankah semalam dia bahkan memeluk Agny sangat erat dan meminta maaf berkali-kali, pikir wanita itu bingung sendiri.
"Stupid girl," umpat Justin seakan ingin menguliti Agny hidup-hidup, dia berdecak sebal kemudian mengepalkan tangannya, sungguh Agny dibuat takut sendiri jika Justin sudah begini.
"Kenapa? Apa yang salah?"
Justin frustasi, dia sebal sekali dan ingin rasanya mengejar pria yang sudah melihat bagaimana penampilan Agny baru bangun tidur begitu. Agny sontak menunduk, dia baru sadar jika semalam melepas bra lantaran merasa tidak nyaman.
Sontak dia membungkuk agar tidak terlalu kentara tapi bukan itu yang Justin maksudkan. Jika berlindung saat ini, itu akan sangat percuma. Untuk pertama kalinya, Justin merasa rugi ratusan juta padahal belum tentu driver ojol yang tadi memerhatikan dengan jelas penampilan Agny.
"Aa-aku lupa, memang kelihatan ya?"
"Pakai tanya, iyalah!!"
__ADS_1
Entah Agny yang salah karena tidak sadar betapa seksinya dia pagi ini, atau memang salah Justin yang membelikan dia pakaian tidur setipis itu. Ya, memang alasan dia demi kenyaman matanya sendiri, nasib sial pagi ini apa yang seharusnya Justin miliki pribadi justru dilihat orang lain.
"Ya terus gimana dong?"
"Ya mau gimana, ini terakhir kali ... baju itu hanya boleh kamu pakai di kamar, paham?"
Ini adalah kali pertama Justin kecolongan, tidak bisa dia bayangkan bagaimana nanti setelahnya. Belum lagi, Justin memiliki sahabat yang tidak tahu etika seperti Keny, tidak menutup kemungkinan gadisnya ini tertangkap basah nantinya.
Memiliki Agny sama halnya Justin memiliki berlian, saat itu juga dia berpikir untuk merubah passcode apartement karena tidak lucu jika nanti Keny melihat dengan matanya sendiri bagaimana Agny dengan koleksi pakaian kurang bahan yang Justin belikan kemarin.
"Makanya Om kalau beliin baju yang tebelan dikit ... bukan salah aku lah."
"Itu sudah cukup pantas untuk jadi baju tidur."
"Tapi tetap saja ini tipis, kalau tidak tipis pasti cherry ku tidak akan muncul begini," jawab Agny santai karena dia merasa dirinya sama sekali tidak salah.
"Bantah saja terus, aku sudah tua, Agny." Justin mengikuti langkah Agny menuju meja makan. Tampaknya dia memang tidak boleh percaya ungkapan Keny dan Keyvan jika wanita yang terpaut jauh dibawahnya akan lebih gampang diatur.
.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -