
"Vasektomi?"
"Iya, supaya aku bebas juga melakukannya dengan banyak wanita tanpa khawatir anakku dimana-man_"
"Maksudnya?"
Ucapan Justin terhenti ketika Agny memotong pembicaraannya, wajah wanita itu benar-benar berubah ketika Justin mengutarakan hal itu secara terang-terangan. "Aku rasa sudah jelas, jadi jangan ditanya lagi ya ... aku lapar, ayo makan."
"Tunggu sebentar, maksudnya apa? Melakukannya dengan banyak wanita ... lalu bagaimana denganku? Aku tidak mau kembali ke tempat itu," rengek Agny menghadang tubuh tegap Justin kala pria itu hendak melewatinya.
"Ehm setelah kupikir-pikir, aku ingin kembali seperti dulu ... tanpa anak ataupun istri tampaknya jauh lebih menyenangkan, apalagi setelah aku tahu mencari istri itu lebih sulit daripada membayar wanita penghibur. Kamu tetap di sini, tidak perlu khawatir karena aku tetap butuh kamu," ujar Justin kemudian berlalu untuk segera mencuci tangannya, sontak Agny ketar-ketir ketika Justin mengutarakan niat semacam itu.
Ini bencana dan Agny tidak mau, entah kenapa dia tidak rela jika Justin harus melakukan hal seliar itu. Padahal, yang dia jalani juga sama akan tetapi entah kenapa batin Agny tidak terima. "Om akan bawa mereka ke sini juga?"
Justin terdiam sesaat, dia menatap Agny yang kini melayangkan tatapan super tajam ke arahnya. "Iya, kenapa memangnya? Boleh, 'kan?" tanya Justin seraya tersenyum tipis dan hatinya benar-benar merdeka ketika melihat betapa pucatnya wajah Agny.
"Tidak, aku mau kemana kalau Om bawa perempuan lain ke sini?"
"Kamar kita ada dua, kamu pindah dulu ke kamar tamu selagi aku main dengan perempuan lain ... atau kamu mau ikut? Boleh kalau mau," ungkap Justin sekenanya dan hal itu berhasil membuat mata Agny memerah, bahkan memanas dan kemungkinan besar dia akan segera menangis sebentar lagi.
"Tidak akan, pokoknya tidak boleh ... kalau mau sama perempuan lain Om tidur di luar saja," ucapnya bersedekap dada dan menurut Justin saat ini Agny lucu sekali, bahkan dia merasa seperti menghadapi istri yang benar-benar meminta suaminya tidur di luar.
"Ngusir? Tuan rumahnya siapa?"
"Terserah, Om sendiri yang bilang aku selamanya di sini artinya ini tempat tinggalku dan aku tidak sudi ada perempuan lain yang buat tempat ini kotor. Kenapa? Om mau protes? Om sendiri yang bilang gitu, aku tidak mungkin lupa ya."
__ADS_1
Justin tidak marah sama sekali melihatnya yang kembali kekanak-kanakan seperti ini. Baginya Agny lucu dan dia ingin merasakan kemarahan wanita itu terus menerus, selamanya, seutuhnya. "Hotel boleh berarti?"
Lama sekali Agny menjawab, dia seperti berhati-hati hingga ketika Justin menghampirinya, wanita masih belum menemukan jawaban padahal sangat mudah untuk Agny menjawab boleh atau tidak. "Hm, bagaimana? Boleh tidak? Kalau di hotel kamu tidak akan terganggu, cuma mungkin aku akan sering tidur di luar, tidak masalah?"
Justin sengaja menunduk demi menyesuaikan tinggi badan Agny. Wanita itu mendongak sekilas dan dia menatap wajah tampan yang saat ini tengah menunggu jawabannya, hingga beberapa saat terlewati Agny menggeleng pada akhirnya.
"Jawab yang jelas, tidak boleh atau tidak masalah aku tidur di luar?"
"Tid-tidak boleh," jawab Agny singkat kemudian memalingkan wajahnya yang bisa dipastikan saat ini pasti tengah memerah, dia tidak mampu berbohong hingga pada akhirnya tertangkap basah di hadapan Justin betapa khawatirnya dia akan kehilangan.
"Ya sudah kalau tidak boleh di hotel, di sini saja berarti."
"Ck, ih!! Tidak boleh main perempuan ... bukanya tidak boleh di sini!!" bentak Agny seraya berusaha menahan malu hingga Justin terkekeh kemudian, senyum itu terbit begitu tipis bersamaan dengan Justin yang kini meraih dagu Agny dengan jemarinya.
"Kenapa? Tadi katanya boleh asal tidak di sini."
Agny berlalu ke meja makan dengan sengaja meninggalkan ayam goreng yang sudah Justin siapkan padanya. Pria itu tidak memintanya melakukan ini dan itu, akan tetapi Justin bergerak sendiri dan memilih untuk mengalah karena sepertinya gadisnya ini tengah memperlihatkan betapa kesalnya ia hingga berontak seperti itu.
Makan siang mereka lalui dengan sedikit berbeda, Justin terlihat biasa saja sementara Agny memandangi pria itu begitu lekat entah apa alasannya. Bahkan hingga Justin hampir menghabiskan ayam goreng tersebut Agny masih tetap diam, entahlah yang jelas ucapan Justin membuatnya sedikit terusik, itu saja.
"Kamu kenapa? Makan," titah Justin pelan karena memang hingga saat ini Agny masih memilih diam.
"Mau sayapnya, Om."
Pyar
__ADS_1
Justin memejamkan matanya, dia benar-benar dibuat bungkam kala Agny mengutarakan keinginannya sementara bagian sayap sudah Justin makan sebagian. "Kenapa baru bilang?"
"Pengen lihat punya Om," ujarnya menatap sendu ayam milik Justin dan demi Tuhan ingin rasanya pria itu membenturkan kepalanya ke meja saat ini juga.
"Yang lain saj_"
"Tapi pengennya itu, sisanya dada semua ... Om sih kenapa tidak tanya aku dulu, Agny maunya sayap atau dada? Cowok tu biasanya begitu, ditanya pasangannya bukan malah sibuk sendiri."
Ya Tuhan, jika di saat begini pikiran Justin kadang jernih dan dia berpikir Agny tolak lamarannya itu bukanlah sesuatu yang buruk. Sungguh, bahkan ketika dia lihat Agny saat ini memang jauh dari kata cocok jadi istri yang mengutamakan suami.
"Makan saja yang ada, nanti malam kita beli lagi."
Agny terdiam kemudian, dia mendorong piringnya segera dan naffsu makannya mendadak hilang. Justin menghela napas kasar kemudian mulai sedikit bingung apa maunya anak ini. "Terus maunya gimana? Beli lagi sana, delivery ini ponselku di saku ... ambil sendiri."
"Lama, aku ambil yang ini saja boleh ya? Om ambil yang baru saja kan itu banyak."
"Sudah kugigit."
"Tidak masalah, aku mau yang ini," ucapnya seenak hati dan memberanikan diri mengambil ayam jatah Justin padahal pria itu belum mengucapkan iya. Tanpa alasan yang jelas, Agny hanya menginginkan ayam itu.
"Dasar aneh ... perkara ayam saja dia berani begini, sepertinya benar kata Evan jika mental anak ini sama sekali belum siap punya anak. Sabar, Justin."
.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -