
Kepergian Vanya sama sekali bukan pertanda baik, terkhusus bagi Agny. Dia sangat memahami bagaimana perasaan Renaga saat ini, kehilangan sosok ibu yang melahirkan serta membesarkannya dengan segala kesulitan yang ada jelas saja menciptakan luka. Setelah beberapa waktu lalu dia bahagia dengan kepergian Arga, kini Renaga harus mengubur dalam-dalam mimpi indah tentang hidup berdua bersama sang mama seperti janji Vanya.
Anak sekecil itu harus merasakan kehilangan malaikat penjaganya. Belum sempat Renaga menyapanya, padahal dia sudah menyiapkan begitu banyak cerita setelah tiga hari tidak mengunjungi Vanya. Dalam pelukan Agny, pemilik tubuh mungil itu meraung memanggil mommy-nya. Disaksikan beberapa orang di sekelilingnya, kali pertama Renaga menangis hingga kesulitan bernapas.
"Aga."
Melihat Renaga yang benar-benar tidak terkendali, Justin mengambil alih putranya, jelas saja dia khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan pada kandungan Agny. Hancur sudah hati putranya, Renaga terus menangis bahkan Keny ikut-ikutan mencoba dan berakhir dengan pukulan dari Renaga tepat mengenai mata kirinya.
Tolonglah, saat ini sedang berduka. Namun, tragedi yang menimpa Keny membuat Justin susah payah menahan tawa. Segera Justin berpindah dan menenangkan putranya sendirian, tampaknya memang butuh ketenangan dan tidak betah kala terjebak dengan keramaian.
"It's okay, Daddy's here."
Justin berbisik pelan dan berusaha meyakinkan jika dia tidak sedang sendiri. Ada Justin di sini, Renaga masih punya dunia dan masa depan nantinya walau tanpa kehadiran Vanya. Sayangnya, mau sekuat apapun Justin memberikan ketenangan Renaga tetap menangis hingga berhenti ketika hampir kehabisan tenaganya.
.
.
Hari itu benar-benar menjadi duka. Sekalipun bukan lagi bagian hidup Justin, pria itu tetap menangis kala Vanya dikebumikan. Mantan istrinya memang tidak memiliki keluarga sejak dahulu, oleh karena itu Vanya haus kasih sayang dan butuh seseorang yang benar-benar merengkuhnya dalam kehangatan. Sementara, ketika menikah dengan Justin dia tidak mendapatkan apa yang dia mau hingga memilih Arga sebagai jalan kebahagiaan menurutnya kala itu.
Meski demikian, Justin tetap memperlakukannnya sebagai bagian dari keluarga Anderson, atas permintaan Agny tentu saja. Hal itu membuat Keny dan Keyvan kagum luar biasa, bagaimana bisa Justin kembali menerima seorang pengkhianat seperti Vanya. Padahal, biasanya pria itu tidak pernah sudi memaafkan seseorang yang telah menorehkan luka dalam benaknya.
Kehilangan sosok ibu adalah luka tersakit, apalagi di posisi Renaga sudah mengerti jika Vanya bukan tidur biasa. Dia bukan anak kecil yang bisa dibodoh-bodohi. Terlalu lelah lantaran menangis tiada hentinya, saat ini dia terlelap di kamar bersama Agny di sisinya.
__ADS_1
"Panas tidak?" tanya Justin yang kini ikut duduk di tepian ranang dan memastikan suhu tubuh putranya, khawatir saja jika terlalu lama menangis membuat kondisi Renaga memburuk.
"Tidak, cuma kecapekan mungkin."
Dapat dimaklumi, siapapun jelas akan begitu lelah jika menangis dalam waktu yang luar biasa lama. Mata Renaga bahkan bengkak. Ingin sekali Justin marah pada Vanya yang menyiksa putranya dengan kerinduan tak berpenghujung.
Beberapa waktu dia pandangi, hingga mata Justin membola kala kaki putranya hampir saja mendarat tepat di perut Agny. Kebiasaan tidur putranya memang seburuk itu, darah Justin seakan tumpah rasanya. Beruntung saja dia bertindak cepat dan menangkap kaki Renaga.
"Ck, apa kakinya memang terbiasa menendang begini?"
"Jangan berisik, nanti dia bangun ... sudahlah, lagipula tidak kena. Jangan berlebihan."
Justin hampir saja marah, entah kenapa dia setakut itu Agny kenapa-kenapa, tapi secepat mungkin dia mendekati sang putra dan berbaring di sisinya. Sedikit lebih mendekatkan Renaga padanya. "Kamu kenapa?" tanya Justin kala menydari Agny tengah menatap datar diirnya. Entah apa yang Agny pikirkan hingga sampai menatapnya begitu.
"Tadi di pemakaman Vanya, kamu menangis ... apa itu tulus?"
"Kenapa tanya begitu? Cemburu?"
Agny menarik sudut bibirnya, sama sekali dia tidak cemburu pada Justin. Hanya saja dia merasa bersyukur karena suaminya tidak menjadi pria pendendam dan masih memiliki hati yang lembut. Agny menggeleng kemudian hingga Justin menghela napas lega.
"Bukan begitu, tapi aku senang andai memang tulus artinya kamu memaafkan Vanya."
"Tepatnya memaafkan ibu dari anakku, bukan wanita itu."
__ADS_1
Sampai titik akhir, seorang Vanya tidak akan berubah di mata Justin. Dia tetap sama, sekalipun Justin menangis tadi, jelas karena dia memikirkan Renaga seorang, bukan Vanya.
Beberapa saat keduanya terdiam, Justin menghela napas pelan. Kemudian menatap Renaga dan Agny bergantian, dia merasa Tuhan tengah membuka mata Justin dan menegaskan kebahagiaan itu milik setiap insan.
"Agny."
"Iya ... kenapa?"
"Terima kasih, kamu tidak meninggalkanku sekalipun aku seburuk itu," ucapnya pelan setelah beberapa lama mereka terdiam, hati Justin masih saja menganggap dirinya buruk dengan sejuta kekurangan dalam dirinya. Namun, Agny justru sebaliknya.
"Kamu tidak buruk, sampai kapan menganggap dirinya buruk terus?"
"Itu faktanya, kamu hanya menghiburku saja ... tapi terima kasih, kamu sudah bersedia jadi istri sekaligus mommy untuk Aga, cintaku padamu semakin berlipat ganda, Agny." Dia berucap seraya menatap lekat istrinya. Terlihat jelas Justin tengah berusaha menggodanya.
"Kenapa tiba-tiba bilang gitu, ada maunya ya?"
"Tidak, Renaga sedang berduka ... lagipula kamu baru saja membaik," balas Justin bijaksana sekali, sejak Agny masuk rumah sakit dia tidak memiliki keberanian untuk menyentuh istrinya. Berat memang, tapi Justin tidak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1
Hai-hai, bagaimana sampai part ini? Yang nunggu Renaga dan Zavia dewasa sabar ya. Oh iya, sementara aku up lagi, mampir di novel temen aku yang satu ini ya.