
Setelah Sigit benar-benar berhasil Justin lumpuhkan, barulah Agny sedikit bebas jika hendak pergi. Dahulu, kemanapun sang istri dia batasi. Tujuannya hanya satu, khawatir istrinya dijadikan sapi perah untuk kedua kalinya. Apalagi, dengan status Agny sebagai istrinya, mungkin saja Sigit berambisi menjadikan Agny jalan pintas memeras Justin.
Bukan berarti Justin khawatir kekurangan harta, sama sekali tidak begitu. Akan tetapi, sepeserpun dia memang takkan rela jika Sigit yang nikmati. Hari ini Agny masih setia melakukan tugasnya sebagai sosok ibu. Menemani Renaga sekolah, meski sudah bersama pengasuh kadang kala Renaga tetap butuh Agny di sisinya.
Wanita itu duduk tidak jauh dari kelas putranya, cukup lama dia menunggu perutnya sedikit keroncongan. Padahal baru jam setengah sembilan, sarapan juga baru beberapa saat lalu. Pengaruh bayinya yang tubuh sehat membuat Agny sukar merasakan kenyang.
Dia masih punya waktu, apalagi bubur ayam yang tadi sempat dia lewati di depan sekolah Renaga ramai sekali. Pasti enak, Agny membantin dan mulai berlalu usai pamit pada Ester, pengasuh sekaligus teman berdebat Renaga.
Sudah lama Agny tidak merasakan hal ini, sebelum menikah dia kerap kali sarapan pasti di luar. Akan tetapi, semenjak dalam kekuasaan Justin, dia tidak sebebas itu. Rasa lapar yang tadinya dia rasa, semakin menggila kala tukang bubur itu semakin dekat dengan jangkauan matanya.
Buru-buru Agny menghampiri mereka, pasangan suami istri yang tampaknya menyambut baik kehadiran Agny. Mungkin karena penampilannya, wanita itu cantik dengan perut yang mulai terlihat.
"Pak mau buburnya satu, pakai telur di belah simetris terus kerupuknya jangan taruh di mangkuk," ucap Agny semangat sekali, dia berucap tanpa jeda hingga berakhir dengan helaan napas panjang.
__ADS_1
"Habis, Neng."
"Yaaaah, kok habis ... ini baru jam berapa? Masa begitu sih, Pak."
Sayang sekali, keberuntungan tidak dia dapatkan hari ini. Agny memelas, dia sangat ingin bubur ini dan tidak tertarik dengan yang lainnya. Sudah dia bayangkan betapa nikmatnya, bubur hangat dinikmati bersama telur rebus dan bawang goreng ekstra seperti yang dia lihat di mangkuk pria tampan tidak jauh darinya.
"Besok-besok saja, Neng ... Bapak jualannya di sini tetep."
Bukan masalah itu, keinginan bayinya mengatakan harus sekarang juga. Agny tertunduk lesu dan hendak berbalik, tapi sumpah melihat bubur yang sampai saat ini belum disentuh juga oleh pemiliknya hati Agny merasa tergores.
Seorang istri Justin Anderson, begitu berharap pada semangkuk bubur pinggir jalan bahkan tidak masalah jika harus memakan sisa-sisanya. Dia benar-benar ingin, jika ada Justin di sini mungkin sudah merengek minta sang suami masak sekarang juga.
"Waduh, habis juga, Neng ... lihat sendiri kalau tidak percaya."
__ADS_1
Perdebatan mereka terdengar cukup mengganggu rupanya, Agny yang nekat memastikan sendiri menimbulkan suara tidak nyaman akibat gesekan centong dengan pinggiran dandang.
"Ck, Shut up!! Bisakah kalian diam?"
Agny melihat ke sumber suara, pria itu tampak memperlihatkan wajah kusutnya. Namun, beberapa saat kemudian dia mengerjapkan mata dan menutup mulutnya. Begitupun Agny yang sama terkejutnya, dia bahkan melemparkan centong itu ke dasar dandang hingga membuat penjual bubur yang sudah tua itu hampir jantungan.
"Tu-tunggu, aku tidak salah lihat, 'kan?" tanya Agny mendekat, dia terkejut dengan kehadiran seseorang yang cukup lama menghilang dari kehidupannya.
"Oh my god, Biby 'kah?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -