Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 55 - Tidak Perlu Disesali


__ADS_3

Ini adalah malam pertama bagi mereka sebagai pasangan suami istri. Wanita itu berdiam di Balkon kamar sembari menunggu Justin selesai mandi, pakaian sang suami sudah dia siapkan di atas tempat tidur, dan kini dia memandangi cincin pernikahan yang tersemat di jemarinya, demi apapun hati Agny berdesir bahkan setiap kali menatap berlian itu bersinar di sana.


Memang tidak terlihat dari belakang, Justin hanya tersenyum tipis sembari memandangi sang istri yang tidak dia ketahui dengan jelas apa kegiatannya. Pria itu kemudian melangkah lebih dekat dan memposisikan diri di belakang Agny seraya melingkarkan tangan di perut sang istri.


"Kamu sedang apa?" tanya Justin basa basi sembari mengecup pelan pundak Agny hingga wanita itu tertunduk geli.


"Aku suka di sini, pemandangan kota di malam hari tidak pernah munafik ya."


"Iya, kamu benar ... karena itu aku suka malam."


Meski sudah sempat merasakan Agny secara keseluruhan, tetap saja perasaannya masih sama. Bahkan pria itu merasa lebih berhak tanpa khawatir Agny melayaninya tanpa perasaan.


"Kamu bahagia?"


"Tentu saja, masa sedih."


Agny tertunduk malu pasca Justin bertanya demikian. Hadirnya Justin sebagai pelindungnya adalah hal manis yang tidak pernah Agny duga, sempat mengutuk Justin sebagai penghancur hidupnya, kini wanita itu pahami bahwa tidak selamanya segala sesuatu yang dianggap buruk akhirnya akan buruk.


"Siapa tahu, syukurlah jika memang bahagia ... maaf ya, seharusnya dari dulu aku menikahimu."


Jika ditanya Justin menyesal atau tidak, jelas saja iya. Dia yang setakut itu soal pernikahan membuat gadis sepolos Agny jadi korban, pria itu mengeratkan pelukannya. "Tidak masalah, jangan disesali ... sudah terjadi dan aku tidak apa-apa."


Agny tersenyum tulus dan memang dia tidak merasa itu adalah masalah, hadirnya Justin memang penyelamatnya karena waktu itu nasib Agny memang hanya berakhir dalam pelukan dua pria, jika bukan Justin ya pria tua yang dahulu Edward katakan.


"Kamu tidak sedang berusaha menghiburku, 'kan?"


"Hm? Kenapa tanya begitu?"


"Jawabanmu meragukan, kata Evan anak kecil itu sulit dipercaya ... hari ini dia jawab apa, besoknya berbeda dan biasanya tidak sesuai antara ucapan dan isi hatinya."


"Jadi maksudnya labil?" tanya Agny menoleh hingga dia mampu melihat dengan jelas wajah Justin yang kini bersandar di bahunya.

__ADS_1


"Itu adalah fakta, tapi aku harap kamu tidak begitu ya."


Agny terdiam sesaat, apa mungkin perubahan keputusan tersebut membuat Justin bingung sendiri. Padahal, sama sekali dia tidak berbohong dan memang begitu kata hatinya. Dia berpikir bukan hanya perkara khawatir Justin membuangnya suatu saat nanti, akan tetapi dia takut sekali jika Justin benar-benar kembali ke jurang kenikmatan tanpa ikatan itu.


"Ayo masuk, udara di sini dingin."


Sebagaimana janjinya yang tidak akan pernah protes, Agny mengangguk dan menuruti langkah Justin. Dia tidak menjawab dengan seribu alasan seperti sebelumnya, entah karena baru saja menikah, atau memang Agny yang berubah.


"Tidurlah, aku tahu kamu lelah."


Justin tidak munafik, dia tetap menginginkan Agny. Akan tetapi, wanita itu memang tampak kelelahan, malam ini dia hanya ingin memeluk dan merengkuh tubuh sang istri dengan sejuta kehangatan, itu saja.


"Tumben, tidak mau makan aku dulu?"


"Ck, aku susah payah berusaha ... cepat tidur, aku khawatir kamu kelelahan nanti," ungkap Justin memejamkan mata kemudian memeluk erat bahu sang istri, sudah berusaha baik dan Agny justru cari mati, sungguh membuat Justin tak habis pikir.


"Tapi kenapa? Apa aku sudah tidak menar_"


"Shut, Sayang tidur yuk ... hargai waktu istirahatmu, karena ketika bulan madu nanti aku tidak akan melepaskanmu walau sesaat," bisik Justin berhasil membuat bulu kuduk Agny meremang, walau memang sudah berkali-kali tetap saja dia sedikit takut manakala Justin memberikan ancang-ancang untuk menyerangnya.


"Hm, siapkan rahimmu karena aku menginginkan anak dan tidak cukup jika hanya dua seperti anjuran pemerintah di negara kita," ungkap Justin yang memang sejak dahulu benci peraturan, entah kenapa tidak ada yang masuk dalam diri Justin.


"Tiga?"


"Aku tidak suka ganjil, minimal empat."


Empat, sementara Agny setakut itu jika sampai melahirkan banyak anak. Dia sudah meyakinkan diri untuk memilki bayi seperti yang Justin mau, akan tetapi hanya satu karena dia khawatir tidak mampu menjalani peran sebagai ibu dan menjamin buah hatinya tumbuh dengan kasih sayang cukup di masa depan.


"Banyak sekali, yang hamilnya aku sendiri?"


"Terus sama siapa? Kamu ingin aku menikah lagi atau apa?"

__ADS_1


"Bu-bukan begitu tapi ya ampun, empat?"


"Iya kenapa memangnya? Mau enam?"


Bukannya berkurang, keinginan Justin justru bertambah hingga membuat Agny mengalah dan dia kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Justin. Dia tengah meratapi bagaimana nasibnya di masa depan sementara dari cerita Mikhayla, melahirkan sangat-sangat menyiksa bahkan membuat wanita yang hampir seumuran dengannya itu trauma.


"Terserah kamu saja, aku tetap mau selagi berdua."


Lindungi aku, Tuhan ... punya anak segitu banyak, apa mungkin tidak robek? Aih membayangkannya saja aku ngilu.


.


.


.


- To Be Continue -


Hai-hai, sebelum lanjut aku mau jelasin sesuatu. Mohon dibaca karena ini penting dan menyangkut kelangsungan novel Justin. Jadi tadi ada yang komentar begini ...



Jadi, terkait dengan komentar itu aku ingin meluruskan lagi siapa tahu masih ada juga pembaca yang mikirnya seperti itu (Padahal udah aku bahas di bawah Bab Justin kemarin-kemarin). Jadi cerita ini bermula sejak Justin selesai asuh Zavia yang sampai buat dia capek di kantor Keyvan, yang mana sore itu Justin ketemu cewek di kendaraan umum, dapat dikatakan novel ini flashback ke sana (Sebagian pembaca paham sih jika Justin mulainya dari peristiwa itu, tapi masih ada komen kalau ceritanya ga masuk).


Teros, kalau dengan alasan di akhir cerita Tawanan Cinta Pria Dewasa, dimana Zavia sudah berusia enam tahun dan menurutnya disitu Justin belum menikah. Sementara di sini, Zavia umur dua tahun, dan Justin sudah menikah. Okay aku jelasin dan tolong pahami supaya nggak salah paham lagi. Di Bab Akhir Keyvan-Khayla apakah aku ada nyebutin Justin belum menikah sampai di hari itu? Jika memang ada maafkan siapa tahu aku lupa.


Akan tetapi, seingatku aku menuliskan Justin memang berhalangan ikut karena ada urusan (Bisa jadi yang dimaksud sibuk sama kehidupannya masing-masing, termasuk keluarga) hingga yang nemenin Zavia adalah Keny, ini tidak hanya sekali bahkan ketika usia Zavia masih dua tahun itu sudah aku singgung dan kasih potongan percakapan Keyvan dan Keny kalau Justin beralasan sibuk dengan urusan bisnis (Kalau sudah baca Agny kalian bisa jawab maksud bisnis Justin waktu itu apa).


Tidak perlu disuruh cek lagi, aku sudah memikirkan alur Justin sejak aku nulis adegan Justin sama Agny di kendaraan umum waktu itu, akan tetapi kenapa tidak disebutkan siapa Agny dan bagaimana kehidupan Justin secara jelas di Keyvan? Karena saat itu Justin belum rilis dan semua sama sekali tidak punya bayangan bagaimana nasib Justin, walau memang sudah ada yang nebak Justin sibuk sama perempuannya. Tapi memang kalau untuk aku sendiri, jika belum terjawab di lapak dia sendiri maka memang sengaja di sembunyikan!! Sama seperti Syakil yang aku nyebutin "Istrinya" Di Keyvan sementara tidak aku katakan istrinya siapa (Karena waktu itu pembaca masih di titik penasaran apa benar Amara yang jadi istrinya).


Boleh dipahami dari cuplikan Bab ini untuk membuktikan jika Justin memang tidak bisa ikut karena "Kesibukan manusia berbeda-beda". (Kalau pembaca peka sebenernya bisa nebak sih Justin pasti ada urusan pribadi, ya pasti nggak jauh dari perempuan)

__ADS_1



Aku harap setelah penjelasan ini dapat dipahami dan Justin dapat diterima dengan baik. Ya, sebenarnya yang komentar ceritanya ga masuk cuma satu sih, karena kemaren juga udah aku bahas dan pembaca lain udah jawab "Paham, Thor". Cuma rada gemes gitu lihatnya🤣 lagi fokus crazy up ketemu komen kalau ceritanya ga masuk ewkwk, btw namanya Zavia bukan Xavia ya, Wak. Ini bukan marah, tapi aku hanya membela jalan ceritaku karena aku merasa tidak ada yang salah. Terima kasih, salam hangat dan love-love sekebon untuk para pembaca yang mau memahami isi novel ini dari hatinyašŸ˜™ā¤


__ADS_2