Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 116 - Sempurna


__ADS_3

Enam bulan berlalu semenjak kejadian itu, Devano seakan ditelan bumi. Tepatnya Justin yang membatasi, pria itu sama sekali tidak mengizinkan sang istri untuk berhubungan dengannya, tidak peduli sekalipun itu sepupu atau sebatas teman kecil.


Perut Agny yang kian membesar membuat ruang geraknya amat terbatas. Sebagai suami siaga, jelas saja bukan perihal ngidam yang menjadi tanggung jawab Justin. Akan tetapi, hal-hal kecil seperti potong kuku bahkan siri dan mengikat rambut juga Justin yang ambil alih.


Terkesan berlebihan, bahkan Keny tengah mengolok-oloknya lantaran kini Justin seolah tengah menjilat ludah sendiri. Dahulu, Justin kerpa melontarkan kalimat kasar lantaran kesal Keny yang rela pulang demi sang istri hanya karena tangannya terluka.


Kini, Justin juga berlaku demikian. Bahkan, dia lebih sepele dari itu. Tidak jarang ketika sedang berkumpul bersama teman-temannya di luar, Justin akan pulang lebih dulu lantaran Agny yang tidak bisa membuka tutup botol.


Manjanya sang istri sama sekali tidak membuatnya mengeluh. Akan tetapi, sahabatnya yang justru sibuk sendiri mengomentari hidup Justin. hal itu mmebuat Justin kerap tidak diajak setiap mereka menghabiskan waktu di luar di sela-sela kesibukan.


Seperti saat ini contohnya, Keyvan yang merayakan peringatan hari pernikahan mereka. Kehadiran Justin bersama Agny jelas saja mengundang jiwa keny untuk berghibah.


"Kau juga mengundangnya?"


"Iya lah, masa tidak ... apa kata dunia sampai Justin tidak diundang," ungkap Keyvan menggeleng pelan.


Sebenearnya, dia paham maksd Keny apa. Jelas pria itu enggan jika suatu waktu Agny membuat Justin memilih pulang padahal acara belum selesai. Apalagi, melihat perut istri sahabatnya itu prasangka buruk Keny kian menjadi.


"Hadeuh, semoga baik-baik saja ke depannya," ucap keny pasrah dan dia mencoba berpikir positif bahwa tidak akan ada bencana yang nantinya akan menyapa mereka.


"Rokok, Just."


"Tidak lagi," tolak Justin mengerutkan dahi kala keny menawarkan benda itu. Entah tengah mengejek usahanya atau bagaimana, Justin juga tidak mengerti.


"Ah, baiklah aku kembalikan pada om Babas kalau begitu."

__ADS_1


Justin memutar bola matanya malas, lihatlah dia benar-benar berusaha sekeras itu untuk menggoda Justin. Beruntung saja tekadnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi selama menjadi suami Agny sudah bulat. Sama sekali dia tidak akan tertarik hanya dengan sebatang rokok itu, nikmatnya tidak sebanding dengan omelan Agny andai ketahuan menyesap nikotin tersebut diam-diam.


"Lihatlah, istri-istri kita cantik sekali ... jadi pengen nambah."


Bibir asal sebut Keny memang sedikit kurang ajar, sontak Keyvan dan Justin menjauh karena tidak ingin terperangkap dalam bahaya dan mereka menjadi sasaran kemarahan sang istri.


Bukan karena mereka takut istri, tapi lebih baik menghindari. Mengingat usia istrinya memang belum begitu dewasa perihal perasaan, apalagi membahas hal sensitif terkait rumah tangga begini.


"Penakut, baru begitu saja sudah ciut ... Lihatlah, Zean mental kakak iparmu lembek ternyata."


Keyvan sudah berusaha agar menjauh lantaran di sana ada adik iparnya, Keny justru mengatakannya secara terang-terangan. Mata tajam Zean membuat Keyvan menghindar secepat kilat, pura-ura tidak mendengar demi menghindari tuduhan dari mulut pedasnya.


"Maksudnya?" tanya Zean singkat seraya menikmati minuman di gelasnya, sebuah pencapaian tertinggi bagi Keny lantaran Zean bersedia mendengarkannya bicara.


"Seorang pria yang hanya patuh pada satu wanita, berarti mentalnya lemah," jawab Keny serius sekali, Zean yang tadinya tidak tertarik mendadak berpikir sebelum kemudian dia bertanya kembali.


"Sonya, Zean ... Panggil istriku kak sonya, sampai kapan kau memanggilnya keriting?"


"Iya Kak Sonya maksudnya, lebih simple saja panggilnya keriting," jawab Zean santai seakan Keny adalah pria yang seusia dengannya.


Ingin marah, tapi kekuasaan anak ini mampu membuatnya kehilangan masa depan. Keny benar-benar dibuat terdiam jika sudah bicaa bersama Zean ataupun Sean.


"Hm, terserah kau saja ... oh iya, kau sendiri bagaimana? Sudah punya pacar?"


"Tidak punya."

__ADS_1


"What? Setampan ini tidak punya pacar?"


Keny sedang merangkai keakraban bersama Zean. Memang sejak dahulu dia memiliki keahlian mengenal seseorang dengan mudah, maka dari itu tidak heran jika teman-teman Justin memang banyak.


"Iya tidak, memangnya harus punya?" tanya Zean mengerutkan dahi, Keny adalah manusia kesekian yang menyarankan dia untuk pacaran sebagaimana yang saat ini dilakukan saudara kembarnya, sean.


"Ya haruslah, kau tahu apa yang harus dimiliki pria?"


"Apa?"


"Harta, Tahta dan Wanita," jawab keny seakan benar-benar memiliki hubungan spesial dengan zean.


"Cih, kata mama tidak perlu ... Apalagi masih kecil sepertiku, nanti ada waktunya."


"Masih kecil apanya, kau sudah SMA ... itu adalah masa awal, manfaatkan masa mudamu, Brother."


"Ehem, kalian sedang membicarakan apa?"


Keny pias seketika kala menyadari siapa pria yang kini berdiri di sampingnya. Mikhail, dengan mata tajam dan melirik Zean sekalian membuat sendi Keny seakan terlepas semua.


"Jangan mengajari putraku yang tidak-tidak kalau masih sayang hidung jelekmu itu," ungkap Mikhail dan hal itu terdengar oleh Keyvan serta Justin, jelas ini adalah kesempatan mereka meledek keny yang terlalu banyak bicara.


"Masuk Zean, bangunkan Sean ... mau jadi apa anak itu."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2