Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 106 - Piranha


__ADS_3

Menghadapi seseorang yang hancur karena kehilangan bukan hal mudah. Terlebih lagi Renaga yang memang sejak dahulu dicekam ketakutan bersama Vanya. Kesabaran Agny benar-benar diuji selama beberapa hari ini, Renaga memang tidak berontak layaknya anak nakal. Hanya saja, dia yang memilih diam dan tidak mau dihibur dengan cara apapun adalah ujian tersulitnya.


Tidak satu cara Agny lakukan bersama Justin. Mereka membawa Renaga ke berbagai tempat yang sekiranya mampu membuatnya sedikit tersenyum. Namun, tidak ada taman bermain yang membuat Renaga tersenyum, tidak ada mainan yang mampu menarik perhatiannya.


Diam, hanya diam dan Justin frustasi dengan perubahan Renaga. Kesabarannya yang memang setipis tisu kerap kali mengeluh dan membentak Renaga, hal inilah yang membuat Agny menjadi marah. Meski Agny paham itu hanya bentuk ungkapan menyerah dari Justin, tetap saja berteriak seperti tidak dibenarkan.


Kini, hal itu kembali terjadi. Pagi-pagi Justin sudah dibuat sakit kepala lantaran Renaga menolak sarapan. Dia memang tidak melontarkan kata-kata yang membuat Agny terluka, hanya saja diamnya Renaga membuat Justin muak.


"Bisa kau dengarkan Mommy, Renaga!! Makan!! Apa susahnya?!" bentak Justin mengusap wajahnya kasar, sama sekali tidak dia rencanakan, namun ketika bertahan beberapa menit dia sakit lantaran Agny diabaikan putranya.


"Aga benci Daddy!!"


Lihatlah, dia kembali pembangkang seperti ketika awal Justin membawanya ke apartement. Susah payah Agny membuatnya luluh, Justin tidak kuasa melihat Renaga yang menguji kesabaran istrinya.


"Terserah!!"


Agny memejamkan matanya, sulit sekali di posisi ini. Justin emosian, sementara Renaga tidak bisa diatur. Kepergian Vanya membuatnya kembali menyalahkan Justin, memorinya mengingat Justin sebagai penyebab Vanya jatuh sakit terakhir kalinya.


"Kenapa dibentak? Kamu yang begitu hanya membuat dia takut," ungkap Agny menggeleng pelan, dia paham Justin tidak akan mampu menghadapi Renaga. Hanya saja, dia memposisikan diri sebagai penguat sekalipun tidak Renaga butuhkan.


"Ak-aku tidak suka dia yang begitu, Agny ... jika dibiarkan sampai dewasa dia akan semena-mena, kamu istriku dan tidak seharusnya dia tidak sopan begitu."


Justin paham lelahnya Agny, istrinya hamil muda dan harus melayani kebutuhannya. Ditambah lagi, saat ini Agny harus mencoba mengambil celah agar putranya makan lantaran pengasuh Renaga tidak mampu membuatnya luluh.


"Tidak begitu caranya, Renaga anak baik dan dia begitu karena suasana hatinya sedang kacau ... tolonglah mengerti, kalian sama-sama keras dan jangan gunakan cara itu untuk mendidiknya," jelas Agny dan lagi-lagi Justin yang salah.

__ADS_1


Justin menggigit bibirnya, mungkin benar dia yang salah sampai kini harus merasakan bagaimana mendapat omelan dari sang istri. Semua hanya spontan dan sama sekali tidak ada niat untuk dia marah pagi ini.


Justin sudah benar-benar mengalah, dia paham putranya butuh sosok Agny. Akan tetapi, putranya masih sama seperti hari kemarin dan luar biasa menyebalkan. "Maaf, aku hanya tidak ingin dia terbiasa, Sayang."


Cara mereka mendidik anak tampaknya akan berbeda. Namun, tetap saja Justin mengalah dan dia hanya bisa mempersilahkan Agny kala wanita itu memilih mengikuti Renaga ke kamarnya.


"Ck, menurun dari siapa sikapnya itu," kesal Justin kemudian menikmati selembar roti dengan olesan selai kacang di atasnya.


Sejak Renaga menjadi pemurung itu, Justin sedikit terabaikan dan tidak bisa bermanja-manja seperti dahulu. Namun, hendak protes juga percuma karena Agny jelas akan memilih Renaga.


.


.


"Tidak, Sayang ... Daddy tidak marah, tapi dia terlalu bersemangat meminta Aga sarapan, apalagi dari kemarin Aga belum makan sama sekali, 'kan?"


Anehnya, meski Renaga tidak bisa dibodoh-bodohi. Dia kini seakan percaya pada ucapan Agny, mungkin sebenarnya dia sedikit takut sedikit takut dengan amarah Justin beberapa saat lalu.


"Benar begitu, Mommy?"


"Iya, Daddy sangat sayang Aga ... sayangnya selebar dunia, mana mungkin dia marah," jelas Agny mengusap air mata yang kini membasah di sudut matanya. Justin memang benar-benar sinting, pikir Agny menyadari imbas dari bentakan sang suami beberapa saat lalu.


"Tapi mata Daddy tadi besar, kata Mommy kalau mata besar itu marah, Mommy." Dia mulai berceloteh dan menyampaikan nasehat Vanya semasa hidup.


"Hahaha tidak dong, Aga tahu sendiri kalau mata Daddy memang besar."

__ADS_1


"Hihihi iya, Mommy. Mata Daddy besar seperti mata ikan," ujar Renaga dan kini berhasil membuat Agny terbahak seketika.


"Oh iya? Ikan apa, Sayang?"


"Ikan Piranha, Mommy," jawabnya seraya tersenyum simpul, berawal dari kemarahan Justin, kini Renaga tampaknya sedikit berbeda.


"Astaga serem, kenapa ikan piranha?"


"Daddy galak, suka gigit sama marah-marah seperti Piranha," ungkapnya dengan kekesalan mendalam dan selalu mengingat bagaimana Justin yang suka sekali marah-marah.


"Mommy pikir Daddy lebih mirip Ikan asin, Ga." Merasa lucu dengan diri sendiri, Agny terbahak padahal niat awalnya adalah menghibur Renaga.


"Ahahahah bau dong, Mommy."


Mereka bersenang-senang, tanpa keduanya sadari saat ini didepan pintu kamar yang sedikit terbuka dengan menunggu dengan wajah masamnya. "Ikan piranha? Ikan asin? Dasar menyebalkan, mereka sedang menjadikanku bahan candaan?"


.


.


- To Be Continue -


Hai-hai, selamat pagi. Seperti biasa author ingin membawakan rekomendasi novel untuk bahan bacaaan kalian ya.


__ADS_1


__ADS_2