
Serba salah, dengan cara lembut dia membantah namun keras sedikit dia menangis. Sepanjang hari Justin sama sekali tidak tenang lantaran Agny yang menangis tadi pagi, alasan Agny tidak ingin punya anak karena belum siap. Tanpa dia ketahui seberapa ingin Justin mengikatnya dengan segala cara.
"Van, bagaimana menurutmu?"
"Mau bagaimana, dia yang belum siap ... khawatir jika nanti dia stres, Justin. Terlebih lagi, Agny tidak punya keluarga," ungkap Keyvan mencoba memahami posisi Agny juga.
Sebenarnya wajar saja wanita itu menolak, statusnya sebagai wanita bayaran Justin dan tiba-tiba diminta melakukan sesuatu yang bukan tanggung jawabnya jelas saja menolak. Apalagi, posisi Agny bukan berasal dari keluarga yang baik-baik saja seperti Mikhayla, tidak dapat di samakan wanita penuh tekanan dengan wanita yang bahagia setiap harinya.
"Tapi Khay_"
"Jangan pernah jadikan Khayla sebagai acuan, hidupnya berbeda dengan Agny ... kau bayangkan saja, jika suatu saat nanti punya anak apa bisa 24 jam kau menemaninya? Khayla berbeda, Just ... sewaktu Zavia bayi, tugas Khayla hanya makan agar ASI-nya lancar, setelah itu mertuaku yang merawat Zavia selama aku tidak di rumah."
Itu adalah fakta, bayangan Justin tentang Mikhayla sebagai istri sempurna adalah hal yang sangat-sangat salah. Banyak kekurangan yang memang tidak Keyvan perlihatkan, istrinya bahkan belum bisa melakukan tugas di dapur, anak dijadikan lawan berebut kasih sayang suami, bahkan Zavia kerap dia buat menangis padahal masih bayi.
"Lalu bagaimana? Dia menolak dinikahi, saran Keny untuk menghamilinya ternyata gagal ... Agny bergerak lebih cepat dari aku," keluh Justin mengacak rambutnya, demi apapun ini melelahkan dan kali pertama pria itu frustasi padahal mau bagaimanapun Agny tidak akan lari.
"Saran Keny?"
Justin mengangguk dan hal itu membuat Keyvan menoyor kepala Justin hingga kepala pria itu hampir saja terbentur ke tembok, terlalu geram Keyvan mendengar ucapan Justin yang berada di luar nalar itu.
"Bodoh!! Pertimbangkan resikonya!! Dipaksa hamil, dia masih muda dan mentalnya belum siap ... istriku saja yang waktu itu merasa mentalnya siap aku masih pikir-pikir, dan kau? Hanya karena mengikuti saran Keny ... sabar sedikit, paksa untuk jadi istri boleh tapi kalau dia sudah sampai menangis karena takut hamil jangan coba-coba, Just."
__ADS_1
"Ah menyebalkan, kalian bilang yang muda penurut kenapa dia berbeda?"
"Ah tentu dong, tapi bukan berarti harus dipaksa ikut kemauan kita, Just ... pikirkan batinnya juga," ungkap Keyvan mencari cara untuk tetap membuat Justin percaya jika gadis belia lebih penurut dibandingkan wanita dewasa.
"Dia suka bayi?"
"Aku tidak tahu, Van ... tidak tanya juga," ucapnya kemudian memijat pangkal hidung dan rasanya memang sangat sulit bagi Justin untuk bisa menyimpulkan alasan Agny menolak hamil sampai segitunya.
"Ya tanya, kau bisanya maksa tapi pendekatannya kurang ... apa perlu aku yang mendekatinya?"
"Ck, janganlah!! Berani mendekatinya kubawa lari istrimu," ancam Justin sungguh-sungguh dan hal itu berhasil membuat tanduk Keyvan keluar, mana mungkin dia rela istri terkasihnya dibawa lari oleh pria sinting semacam Justin.
"Aku serahkan semua padamu, pengalamanmu sudah lebih dari aku ... aku jelaskan saja intinya, jangan pernah memaksa jika dia sudah menangis, itu saja."
.
.
.
Sementara di apartement Justin, Agny memandangi obat yang kembali dia kumpulkan setelah berceceran oleh Justin. Dia bingung, kenapa bisa semarah itu padahal memang sejak awal tidak ada perjanjian harus ada anak.
__ADS_1
"Apa aku salah? Aku hanya melindungi diriku ... tidak lebih."
Agny mempertimbangkan banyak hal, terlebih lagi jika dia mengetahui masa lalu Justin yang sampai menikah hingga dua kali dan berakhir kandas semua. Dia hanya takut akan bernasib sama, jika masih sendirian maka tidak masalah, akan tetapi jika sudah ada anak maka tentu akan semakin menjadi masalah, pikir Agny.
Hingga siang hari Agny tidak banyak melakukan apapun dan terus saja memandangi obat itu sembari duduk di sofanya. Tidak berselang lama seseorang masuk dari luar dan Agny cepat-cepat memperbaiki posisi duduknya.
"Pulang? Ada yang ketinggalan ya?"
Tanpa mengabarkan apapun padanya, Justin kini berdiri dengan membawa makan siang yang Agny yakini sebagai ayam goreng kebanggasaan di negeri ini. Air liurnya tiba-tiba mengalir dan entah kenapa aromanya lebih wangi dari biasanya.
"Tidak, aku ingin makan siang bersamamu ... teman-temanku makan sama istrinya hari ini," ucap Justin sudah sengaja menyebutkan kalimat istri agar sampai ke telinga Agny. Biasanya, gadis lain akan menawarkan diri untuk jadi istrinya, akan tetapi tampaknya kalimat itu akan sulit jika dia berharap dari Agny.
Justin menatap Agny yang kini tampak menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Secepat itu Justin mengambilnya dan dia hanya tersenyum getir ketika melihat obat yang tadinya Justin buang tiba-tiba Agny kumpulkan lagi.
"Kotor, nanti beli lagi kalau memang butuh ... atau kalau kamu masih khawatir, aku akan melakukan vasektomi," ucap Justin kemudian melempar obat milik Agny hingga masuk tepat di kotak sampah.
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -