
"Ulahmu?"
Jika Winarto sudah panik sejak dua jam yang lalu, saat ini Justin juga demikian. Bukan panik, akan tetapi sedikit terganggu dengan isu yang menerpa sang istri. Tidak hanya menyinggung Agny, akan tetapi namanya juga ikut terseret dan rumor tentang kekurangan Justin kembali mencuat.
"Tidak, sekalipun itu ulahku apa mungkin akan kusebut jelas nama istrimu di sana?"
Keyvan baru saja tiba, dia terlambat lantaran Zavia merengek minta dimanja. Ketika tiba di kantor, pria itu justru diserbu Justin dengan pertanyaan gila yang sempat membuat dia terkejut.
"Tapi yang tahu masaah ini hanya kau dan Keny ... dan yang bisa melakukan hal semacam ini hanya kau, Van. Aku tidak yakin jika Keny yang otaknya semili itu akan bertindak sepicik ini."
Meski bisa saja pria tengil itu yang turun tangan, akan tetapi rasanya tidak mungkin seorang Keny mampu melakukan segalanya dalam waktu cepat. Terlebih lagi, yang terseret dalam masalah ini bukan hanya satu orang.
"Jika kau menuduhku melakukannya, salah besar, Justin."
Keyvan merapikan kerah kemejanya, emosi Justin tampaknya memang tidak terkendalikan. Beruntung saja Keyvan memahaminya, pria itu segera melangkah dan masuk ke ruangannya. Justin menghela napas perlahan dan mengikuti langkah Keyvan segera, belum apa-apa dia sudah termakan adu domba dan mencurigai temannya sendiri.
"Selamat pagi."
"Ck, sejak kapan kau masuk ruanganku?" Keyvan terkejut, walau sebenarnya sudah biasa pria itu masuk semaunya. Jika saja bukan sahabat, mungkin sudah lama dia dipecat tidak hormat.
"Lupakan masalah itu, ada yang lebih penting, Van. Kau juga kenapa baru datang sekarang, ditelpon tidak diangkat, telat tidak kira-kira ... lihat jam berapa sekarang?"
"Putriku menangis, Khayla tidak bisa menghiburnya, Ken ... maaf sekali aku terlambat, aku juga tidak melihat televisi dan sosial media. Sungguh aku menyes_ tunggu, kenapa aku jadi minta maaf padamu siallan!!"
Karena terkejut dengan isu yang tersebar terkait Agny membuat Keyvan lupa bahwa atasan di sini adalah dia. Justin sedang dalam keadaan kacaunya dan duduk di sofa sembari mengacak rambutnya.
"Istrimu bagaimana?"
__ADS_1
"Dia belum tahu, dan aku tidak akan mengizinkan fitnah itu sampai ke telinganya."
Justin mengetahui hal ini lebih dulu dari Agny. Pagi tadi sang istri sibuk melakukan tugasnya, sementara Justin yang mengecek ponsel dibuat terkejut dalam diamnya. Tidak hanya itu, Justin juga memastikan isu tak sedap tersebut di televisi.
"Baguslah, tapi kau yakin bisa menahannya, Just? Aku lihat seluruh media isinya dia semua, istrimu jadi seleb dadakan_"
"Keny!! Ini bukan suatu pencapaian dan sama sekali tidak lucu."
Keyvan hanya diam kala Justin membentak Keny. Paham betul betapa emosinya seorang Justin kala bencana yang menimpa istrinya dianggap hal lucu bagi Keny.
"Maaf, Just ... Maksudku tidak begitu, aku hanya memastikan apa mungkin kau bisa membatasinya?" Yang Keny maksudkan adalah keberhasilan Justin membatasi isu tak sedap itu sampai kepada Agny.
"Untuk sementara hanya ini yang bisa aku lakukan, Ken. Istriku penurut, ponselnya sudah kusita dan dia juga tidak akan bisa menonton televisi selama isu ini masih ada."
Meski sempat menimbulkan tanya, Agny tidak berontak kala Justin menyita ponselnya. Alasan Justin adalah hukuman karena istrinya pernah menonton video dewasa, Agny yang merasa bersalah pasrah begitu saja padahal sebenarnya hal itu sudah terjadi sangat lama.
"Hah?"
Keyvan melongo, keny mengutarakan hal semacam itu. Jelas saja dia yang baru mengetahui hal ini dibuat terkejut, kenapa tiba-tiba keny bertindak seakan dirnya.
"Maaf, van ... kau lama sekali, wibowo sudah menghubungimu berkali-kali tapi tidak mendapat jawaban.'
Hendak marah, tapi memang saat ini terdesak dan demi kepentingan Justin pria itu memilih mengalah.nBiarlah, tidak mengapa sesekali Keny menjadi dirinya untuk mengambil alih agar semua lebih cepat.
"Tapi kenapa istriku yang jadi tumbalnya? Jika memang ada masalah denganku, bukankah seharusnya diselesaikan dengan cara jantan saja?"
"Ini bukan masalah jantan atau tidaknya, tapi lawanmu kali ini pandai membaca situasi dan memanfaatkan kesempatan dengan adanya Agny," tutur Keny terlihat sedikit cerdas hari ini, otaknya sedikit berfungsi bahkan mengalahkan Justin.
__ADS_1
"Aku setuju pada Keny kali ini, Just. Kau pasti tidak lupa bagaimana taktik adu domba, dia tahu kau dan Winarto saling membenci. Sementara di tengah kalian ada Agny, jelas saja ini jadi senjata untuk orang-orang yang ingin menghancurkan kalian berdua."
Dugaan Keyvan dan Keny hampir sama, mungkin karena keduanya dalam keadaan tenang hingga mampu berpikir logis. Berbeda dengan Justin yang tengah diserbu amarah, ketakutan dan merasa terhina dalam satu waktu.
"Tapi siapa? Apa mungkin Arga?"
"Belum bisa dipastikan, tapi aku rasa tidak ada alasan Arga menghancurkan Winarto."
"Tapi ada alasan dia menghancurkan Justin, Ken." Keyvan menyela, hal itu adalah fakta dan dia sedikit berbeda pendapat dari Keny untuk yang satu ini.
"Kalau begitu ... Eum begini saja," ucap Keny seakan suah menemukan jalan keluarnya, Justin mendongak dan menunggu ide cemerlang Keny.
"Apa?"
"Kau dan Winarto bersatu saja."
"Ck, menyebalkan sekali ... memang salah berharap berharap pada manusia, terlebih lagi yang otaknya hanya semili sepertimu."
Keny merasa itu ide paling brilian, akan tetapi Keyvan dan Justin memutar bola matanya malas bersamaan. Memang benar, berharap pada Keny adalah hal paling sia-sia di dunia.
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1