Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 46 - Belum Siap


__ADS_3

Dua minggu pasca ambil barang tersebut, kehidupan Agny tampak damai-damai saja. Justin sepakat untuk menunggu Agny siap menjadi istrinya, sembari dia yang terus berharap Agny menyerah atau kalau perlu wanita itu benar-benar berhasil dia buat hamil.


Pagi-pagi sekali Justin sudah siap dengan kemeja yang melekat di tubuhnya. Sementara Agny tampaknya tengah menyiapkan sarapan sederhana untuk Justin. Anggap saja mereka adalah pasangan yang memang sudah siap menikah beberapa waktu lagi.


Justin hampir selesai, namun setelah dia melewati kaca di luar kamar, pria itu merasa ada yang kurang dengan penampilannya hingga dia kembali ke kamar segera. Justin tidak suka warna dasinya, hendak meminta bantuan Agny dia tidak tega jika harus memanggil pemilik tubuh mungil itu direpotkan setiap saatnya.


"Ck, mana dasinya? Apa kotor ya?"


Justin mencari ke tempat lain dan nalurinya berkata untuk membuang lemari tempat pakaian Agny, siapa tahu memang salah tempat. Beberapa menit mencari pria itu dikejutkan dengan obat yang sangat tidak familiar di matanya, ada di antara pakaian Agny dan hanya menyisakan beberapa kapsul saja.


"Dia sakit? Kenapa tidak bilang padaku?"


Justin mencoba mencaritahu sendiri obat jenis apa itu. Tidak ada petunjuk dokter atau apapun itu, dia yang memang bodoh segera bertanya pada Keyvan dan mempertanyakan perihal obat itu. Siapa tahu, istri sahabatnya itu paham jenis obat apa yang Agny simpan.


"Dia sakit apa kira-kira, Van?"


"Kata Khayla itu hanya penunda kehamilan, dia tidak sakit, Justin tenang saja."


Tenang? Sejak tadi hingga saat ini Justin tahu jika itu adalah penunda kehamilan, Justin sama sekali tidak tenang bahkan jiwanya benar-benar merasa terancam. Dadanya terhenyak kala mengetahui wanita yang dia harapkan bisa didapatkan dengan cara hamil sebelum menikah ternyata cari aman lebih dulu.


Dada Justin bergemuruh, dia marah sekali. Pria itu mengepalkan tangan kemudian mengepalkan tangannya, susah payah dia menjaga nutrisi Agny agar wanita itu segera hamil, nyatanya kelinci kecilnya lebih pintar untuk menghindari dan mematahkan keinginan Justin.


"Justin?"


"Ah, iya, Van ... ka-kau yakin?"


"Iya, sepertinya dia tahu niatmu."

__ADS_1


Keyvan benar, Agny paham niat Justin dan dia berlindung dari segala kemungkinan buruk itu hingga dia melakukan hal curang di belakang Justin. Usai menghubungi Keyvan, Justin mengurungkan niat untuk mengambil dasi. Dia berlalu keluar kamar setelah menutup lemari dengan tenaga dalamnya.


Langkah Justin benar-benar cepat, hanya butuh beberapa saat saja untuknya hingga kini tiba di dapur dan melihat Agny yang tampak serius sekali menuangkan susu hangat ke gelas itu. Hati Justin yang tadinya meledak-ledak, perlahan redam dan dia memilih untuk memasukkan obat yang dia temukan di lemari Agny ke sakunya segera.


Justin mendekat ke arahnya dan melingkarkan tangan ke perut Agny yang memang benar-benar sedatar itu, jelas saja datar. Kemungkinan hamil saja tidak, Justin menyandarkan dagunya di pundak Agny. Niat hatinya untuk meluapkan amarah pagi ini Justin tahan sebisanya dan dia memilih bersikap selembut mungkin.


"Selamat pagi, Sayang."


"Pagi, sarapannya sudah siap ... jangan ditolak," ucap Agny berharap sekali Justin tidak pergi begitu saja seperti kemarin.


"Hm, tapi sebelum itu aku ingin peluk kamu sebentar ... sebentar saja."


Ini adalah sesuatu yang aneh dalam diri Justin. Mereka tidur bahkan berpelukan, rasanya aneh sekali seorang Justin merasa kurang dan meminta waktu hanya untuk sekadar pelukan.


"Agny ... boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Geli, Om kalau peluk tidak bisa diam," jawabnya sepolos itu dan sama sekali tidak peka jika Justin berharap jawaban Agny akan menyinggung masalah cintanya.


"Geli? Hanya geli?"


"Iya, geli."


"Kalau begini bagaimana?" tanya Justin tiba-tiba mendudukkannya di atas meja hingga Agny kembali dibuat was-was pria itu akan memakannya pagi ini.


"Coba lihat mataku, apa benar sama sekali tidak ada perasaan untukku? Aku sudah menyentuhmu berkali-kali, berapa malam yang kita lewati dan bibirmu selalu menyebut namaku setiap mencapai puncak ... setelah semua itu terjadi, kamu belum mencintaiku juga? Katakan padaku, siapa yang ada di sini sampai kamu sesulit itu menerimaku," ucap Justin benar-benar putus asa, karena dia terkecoh dengan pasrahnya Agny yang seakan menjalani segalanya dengan perasaan.

__ADS_1


"Kenapa pertanyaannya jadi banyak?"


"Ya sudah sederhana saja, apa yang harus kulakukan supaya kamu mencintaiku?"


"Tidak ada, dan jangan tanyakan perasaanku."


"Kenapa?"


"Untuk kita berdua, cinta adalah hal terlarang dan tidak seharusnya hubungan semacam ini melibatkan cinta, aku tidak mau terikat dengan alasan apapun itu." Agny sangat menyadari seberapa rendah dirinya hingga dia bahkan tidak merasa berhak ada sebagai wanita di hati Justin.


"Jadi karena itu kamu minum ini? Hah?!!"


Pada akhirnya, dia membentak juga. Justin mengeluarkan obat yang Agny dapatkan dari Edward sejak pertama kali melayangi Justin. Dia melongo dan bingung hendak menjawab apa kala Justin menatapnya setajam itu, sedetik kemudian Justin melemparkan benda kecil itu hingga obat yang menjadi penyelamat Agny berhamburan tak karuan.


"Kamu tidak ingin hamil karena takut terikat denganku? Tega kamu, niatku baik ... aku tidak menuntut hal macam-macam, aku kurang apa? Kurang keras iya? Maunya dipaksa atau bagaimana? Hm?" Justin bisa saja jika dia ingin cara paksa seperti yang Keyvan lakukan. Akan tetapi, dia hanya berpikir dan tidak selamanya pernikahan tanpa cinta itu berakhir seperti kisah mereka.


"Bu-bukan begitu."


"Lalu apa?!!"


"Aku hanya belum siap kalau harus jadi ibu_ coba pahami aku ... jangan memaksa, aku belum mau." Agny menatap Justin penuh permohonan sementara pria itu kini dibuat bingung menghadapi Agny yang menangis sesenggukan bahkan wajahnya memerah.


"Ck, dia menangis dan aku belum melakukan apa-apa."


.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2