Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 114 - Imbas Kecemburuan


__ADS_3

Masalah dalam rumah tangga memang tidak sebaiknya tersebar ke pihak lain, karena biasanya akan berdampak buruk dan menimbulkan spekulasi yang tidak baik. Sejak hari itu, Justin kembali menjadi luar biasa posesif. Renaga yang juga mengerti keinginan sang papa tidak membantah dan merasa baik-baik saja tanpa ditemani Agny.


Satu minggu setelah pertemuan Agny dan Devano, pria itu selalu memantau Agny lewat rekaman cctv yang ada di rumahnya. Bahkan, dia akan mulai menghubungi asisten rumah tangganya kala tidak mendapati kehadiran sang istri di depan matanya.


Bak terpenjara cinta, Agny tidak mengerti kenapa Justin semakin berubah. Padahal, dia merasa baik-baik saja dan bersyukur sekali lantaran Justin memberinya kebebasan. Akan tetapi, saat ini keluar rumah saja tidak Justin perbolehkan.


Hingga, sesuatu dalam dirinya berontak dan pagi ini Agny mendadak demam tanpa sebab. Mungkin stres Justin kurung sedemikian rupa. Baru saja dia menikmati segarnya udara pagi di luar rumah, Justin kini melarangnya luar biasa ketat bak putri raja.


Dari hasil pemeriksaan, Agny hanya kelelahan dan sedikit stres. Justin mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter, tapi tidak sadar sama sekali penyebab istrinya stres adalah dia sendiri.


Pulang dari rumah sakit, Agny meminta waktu untuk duduk di taman kota. Ini adalah hal yang bisa dia lakukan demi menepis jenuh ketika nanti pulang. Berbagai hal Agny lakukan, terlihat jelas obat paling ampuhnya adalah cuci mata di luaran sana.


"Cepat sekali sembuhnya," gumam Justin kala menyadari sang istri tampak tidak ada beban seraya menikmati telur gulung kesukaannya.


Sama seperti Khayla, semenjak hamil dia kerap mengidam makanan semasa kecil. Jika sedang begini, terasa sekali usia mereka sangat jah berbeda.


"Kamu suka di sini?"


"Suka, kita pulangnya nanti ya ... aku masih betah," pinta Agny penuh harap jika sang suami akan mengabulkan keinginannya.


"Hm, tapi stop jajan yang begini, Agny."


Justin mengeluhkan beberapa makanan yang Agny beli dan hanya dimakan sedikit. Sementara yang tanggung jawab memegangnya adalah Justin, kedua tangan pria itu sudah penuh dengan jajanan Agny.


"Aku boros ya?"

__ADS_1


"Bu-buka begitu, Sayang ... tapi lebih baik makan yang lain, kamu lagi hamil dan ini makanannya ya Tuhan ... Gizinya dimana?"


Agny mendelik seketika, mulut suaminya memang tidak difilter sepertinya. Jika bicara hanya padanya tidak masalah, akan tetapi kali ini Justin bicara di hadapan penjualnya.


"Ck aku salah bicara, maaf tidak bermaksud."


Kali pertama Justin takut pada pedagang kaki lima. Dia spontan saja, karena memang jika dia lihat mau bagaimana bentuknya tetap saja gizi dipertanyakan.


"Gimana, Neng? Siomaynya jadi?"


"Jadi, Mang."


Agny yang kini merasa tidak enak meminta maaf berkali-kali pada pria paruh baya itu. Justin yang khawatir dicakar istrinya memilih mengalah dan duduk di sebuah bangku kosong yang berjarak tidak begitu jauh dari istrinya.


Itu adalah pesan dari Keyvan yang selalu dia ingat. Semenjak menikahi Agny, kesabaran pria itu memang benar-benar diuji. Akan tetapi, selelah apapun hati Justin, dia sama sekali tidak bercita-cita pernikahannya akan kandas seperti yang sudah-sudah.


Beberapa menit menunggu, kini istrinya kembali dengan menampilkan senyum manisnya. Wanita itu membawa sepiring siomay yang dia beli beberapa saat lalu, alasannya karena khawatir Justin lapar.


"Aaaa, ayo makan."


Justin diam beberapa saat, dia seperti ragu hendak membuka mulutnya. Akan tetapi, sang istri memaksa hingga mau tidak mau Justin harus terima.


"Makan siomay doang susah ... gimana, enak?"


Tidak ada jawaban, Justin sedang menyesuaikan lidahnya. Dia memang trauma dengan banyak hal, beberapa kali makan makanan semacam ini dia kerap mendapat bonus sehelai rambut dan hal itu tertanam jelas di kepala Justin hingga enggan untuk mengulang.

__ADS_1


"Aaaa ... lagi."


"Kamu belum," protes Justin bingung sendiri kenapa sang istri justru terus mendahulukan dirinya.


"Aku kenyang, kamu yang belum makan dari siang."


Kenyang katanya, jelas saja kenyang. Makanan yang dia beli saja sampai membuat tangan Justin pegal. Tidak pernah meminta Justin membelikan tas mahal atau yang lainnya, tapi sekali minta ditemani Justin dibuat memijat pangkal hidungnya.


"Sayang katanya tadi sakit, apa sudah sembuh?"


"Sudah, sebenarnya aku cuma mumet di rumah ... keluar pagar saja tidak boleh, gimana bisa betah," gerutu Agny tanpa dia tutup-tutupi dan berharap sekali Justin akan mengerti.


"Karena aku ya?"


"Hm, mungkin."


"Maaf, aku hanya takut kamu pergi dariku ... kehilangan Vanya lima tahun lalu membuatku hampir gila, dan hal itu bermula karena aku mengabaikan dia yang kerap bertemu pria lain. Aku penakut, Agny tolong pahami."


.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2