
Meski Justin sudah mengenalkannya sebagai istri, bahkan cincin pernikahan yang tersemat di jemari mereka sudah menjadi bukti tetap saja Winarto menganggap Agny semurah itu. Hal ini sudah dia duga sebenarnya, dan Agny sama sekali tidak masalah.
"Katakan, dibayar berapa? Saya akan memberimu tiga kali lipat, manis."
"Saya bukan wanita bayaran!!"
"Cih, dasar munafik ... saya mengenal Justin, tidak mungkin pemuda nakal seperti dia serius menjalani hubungan, apalagi dengan pelaccur sepertimu."
Sejak tadi dia sudah jijik, Agny kian meradang mendengar ucapan Winarto. Wanita itu mengepalkan tangan dan berbalik hingga pada akhirnya mendaratkan pukulan tepat di batang hidung Winarto. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Jangan tanya bagaimana raasanya, meski tidak sekuat pukulan Justin, tapi hidung pria itu kini bersimbah darah.
"Saya sudah katakan jaga bicara Anda!!"
Tangan Winarto yang sejak tadi mencengkram pundaknya sontak terlepas dan kini beralih menutup wajahnya. Sakit yang tiba-tiba berdenyut bahkan hingga ke kepala, membuat pria itu berteriak seketika.
"Siallan!! Darah?!!."
Agny mundur perlahan, tanpa sedikitpun kekhawatiran korbannya akan pingsan, dia segera berlalu keluar sebelum saksi mata melihat kejadian itu. Tatapan matanya fokus ke depan dan dia melangkah panjang hingga kembali duduk di sisi Justin dengan dada yang masih berkecamuk tak karuan.
"Syukurlah kamu kembali."
"Tuh kan istrinya balik, Bang Just ... kan sudah kubilang, bentar lagi balik."
Justin mengelus dadanya seketika, dia mengenggam jemari sang istri di bawah meja. Sejak tadi dia terlampau khawatir dan gelagatnya diketahui oleh Khayla maupun Sonya.
Sempat menjadi bahan ejekan karena memang ini kali pertama Justin dibuat ketar-ketir padahal Agny sama sekali tidak lama. "Aku kelamaan ya?"
"Ehm, bukan lagi, Agny ... Justin sampai kumisan karena menunggu."
__ADS_1
Kalimat sarkas dari Keny membuat Justin mendengkus kesal. Entah kenapa pria itu merasa ada yang tidak beres walau menurut pandangan teman-temannya Agny tidak lama.
"Sayang, are you okay?"
"Iya, ak-aku baik-baik saja ... kenapa mukanya begitu?"
"Entahlah, aku gila sepertinya."
Justin mengusap wajahnya kasar kemudian menegak air putih yang ada di hdapannya hingga tandas. Agny yang masih dam keadaan tertekan, sengaja mendekat ke arah Justin bahkan kursi yang dia duduki hanya setengah.
"Kamu kenapa?"
"Dingin," jawabnya singkat hingga Justin melepaskan jasnya untuk sedikit melindungi tubuh sang istri.
Sedikit sebal juga kenapa pakaian yang Keyvan kirim untuk istrinya seseksi itu. Dengan alasan agar kompak, Sonya mengutarakan agar pakaian mereka harus kembar.
"Hm, mungkin."
Justin menjawabnya sedikit tidak niat, sementara Agny enggan menjawab dan memilih semakin mendekat ke arah Justin. Dia takut, sekuat apapun dia berusaha tetap saja perlakuan Winarto tadi membuat dirinya tidak baik-baik saja.
Hendak mengadu sekarang, akan tetapi Agny paham jika suaminya luar biasa emosian dan dia tidak ingin semua kacau hanya karena dirinya. Ada Evan dan Keny di sini, belum lagi tamu penting lainnya yang Agny yakin orang-orang berpengaruh. Akan tidak lucu jika Justin dianggap tempramen hanya karena dirinya.
Tidak berselang lama, Winarto kembali dan Agny hanya menunduk. Suaranya tetap membuat Agny bergetar, bukan karena cinta melainkan takut.
"Pak Winarto, Anda kenapa?"
Keyvan terkejut dengan kehadiran pria itu. Tidak hanya Keyvan tapi seluruh yang ada di meja benar-benar dibuat panik lantaran melihat hidung Winarto.
__ADS_1
"Ah, tadi ada kecelakaan sedikit ... saya tidak melihat ada tiang di depan sana, jadi terbentur," jawab Winarto berusaha baik-baik saja meski rasa sakitnya luar biasa.
"Astaga, tapi tiangnya tidak apa-apa, Pak?"
"Keny."
Keyvan sontak mendelik lantaran Keny melontarkan pertanyaan yang memperlihatkan dengan jelas jika dia menganggap musibah Winarto adalah hal yang lucu. "Ah iya, Bapak maksudnya."
Pertanyaan Keny adalah hiburan, buktinya beberapa orang yang lain tersenyum tipis. Akan tetapi, berbeda dengan Justin yang justru fokus terhadap sang istri lantaran genggaman tangannya kian erat saja.
"Bisa saja, Nak Keny ... aku suka yang begini."
Lihatlah, dia masih bisa bercanda setelah membuat Agny takut setengah mati. Wanita itu berusaha mengatur napasnya, dia akan tetap tenang sampai nanti benar-benar dizinkan pulang.
"Van, aku pulang." Justin yang merasa ada yang tidak beres segera mengambil tindakan dan membuat mereka terkejut.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Tidak apa, makan malamnya sudah selesai, 'kan ... aku khawatir hujan, sementara kami jauh dan istrimu sepertinya tidak enak badan," ucap Justin masuk akal sekali hingga membuat Keyvan dan yang lain memaklumi kepergiannya.
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1