Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 90 - Kepastian


__ADS_3

Hari pertama yang membuat mata Justin berubah memandang dunia. Walau gengsinya setingggi langit dan meminta Agny naik taxi saja, pada akhirnya Justin kalah. Bagi Agny selagi ada uangnya tidak salah naik angkot saja, apalagi dia juga memegang uang dan jelas masih cukup untuk mereka sampai di tujuan.


Pria itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur, setelah melalui hari yang terasa panjang, Justin menghubungi Wibowo untuk menegaskan penolakan terkait undangan Winarto. Ya, setelah mengetahui nama Agny terbebas dari fitnah menyebalkan itu, Winarto meminta Agny memperbaiki pernyataan Arga.


Memang benar-benar keras kepala, padahal publik sudah mempercayai Arga. Akan tetapi, Winarto tetap pada pendiriannya dan meminta Agny mengaku sebagai keponakannya. Lama menerawang sembari menatap langit-langit kamar, Agny muncul dengan kimono yang membalut tubuhnya.


Benar-benar pemandangan paling menenangkan bagi Justin. Pria itu terus saja memandanginya tanpa berkedip, jika ditanya seberapa besar rasa kagumnya pada Agny, mungkin Justin takkan mampu mengutarakannya hanya dengan kata.


Malam ini Justin bisa sejenak lebih tenang, ketakutan terkait istrinya yang akan pergi dan dia terpisah begitu lama kini tidak akan terjadi. Meski tadi sore dia harus sakit kepala lantaran Keyvan karena telah membuatnya kerepotan.


Hanya karena luka di telapak kakinya membuat Justin tidak hanya manja pada Agny, melainkan pada kedua sahabatnya. Hal itu jelas saja membuat Keyvan yang sudah kerepotan dengan anak serta istrinya jengkel tak terkira.


Keyvan pikir sahabatnya itu patah kaki, sengaja dia menjenguk Justin setelah menyelesaikan semua masalah mobil Justin yang sengaja dia tinggalkan di jalan itu. Namun, Keyvan benar-benar dibuat menganga tak percaya kala mengetahui bagaimana keadaan Justin sesungguhnya.


"Lain kali aku tidak akan pernah mau menjengukmu sebelum masuk peti mati."


Kalimat penutup yang Keyvan lontarkan sebelum dia berlalu meninggalkan Justin. Tergambar jelas jika atasan sekaligus sahabatnya itu marah besar, Justin hanya tertawa sumbang dan merasa dirinya memang tidak salah. Lagipula benar dia memang terluka, lalu kenapa Keyvan mendadak marah.


"Tadi ada yang telepon."


Sejak tadi Justin memilih diam, kini Agny justru bersuara dan hal itu membuat lamunan Justin buyar seketika. "Siapa?"


"Asisten pak Winarto, dia memintaku datang besok pagi," ucap Agny dan sontak membuat Justin mengerutkan keningnya, dia sama sekali tidak suka dan ingin rasanya menghajar Winarto dengan tangannya.


"Kamu jawab apa?"

__ADS_1


"Kutolak."


"Bagus, istriku pintar ternyata," puji Justin tulus kemudian duduk dan menunggu Agny di tepian ranjang.


Andai saja telapak kakinya baik-baik saja, mungkin Justin akan segera menghampiri dan memeluk istrinya dari belakang dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi, tampaknya terlalu manja membuat kaki Justin benar-benar tidak berdaya.


"Masih sakit?" tanya Agny duduk di sisi Justin, hanya luka tapi seakan diancam malaikat pencabut nyawa.


"Lumayan, tapi jangan khawatir."


Agny tersenyum kemudian, menandakan istrinya memang tidak marah sama sekali. Padahal, masalah yang menimpa rumah tangganya cukup rumit. Andai saja bukan Agny yang jadi istrinya, mungkin Justin sudah kewalahan menghadapi ego sang istri.


"Besok, aku akan menemui Vanya. Kamu butuh kejelasan tentang hal itu, 'kan?"


"Iya, bukan hanya aku. Tapi memang hak anak itu. Ehm, dan juga bukankah kamu ingin anak sejak lama?" tanya Agny menatap lekat mata pria itu, sebagaimana yang Agny ketahui bahwa Justin begitu menginginkan anak darinya.


"Anak darimu, bukan wanita lain."


.


.


.


Tidak ingin terjebak keraguan, keesokan harinya Justin mendatangi Vanya secara terang-terangan. Dia melakukan semua ini atas nama Agny, bukan secara pribadi.

__ADS_1


"Istriku yang meminta, kau jangan terlalu percaya diri," ketus Justin bicara tanpa menatap Vanya.


Wanita itu sedang berduka, kematian Arga tetap membuatnya terkejut. Sungguh, sama sekali dia tidak menduga jika Justin benar-benar membuat pria itu kehilangan nyawanya.


"Untuk apa? Sudah kukatakan dia anakku ... soal namanya akan aku hapus, Justin."


"Bukan soal itu!!" sentak Justin membuat jantung Vanya berdegup tak karuan, pria ini tampaknya memang terlahir menakutkan.


"Istriku ingin kejelasan, dia ingin aku bertanggung jawab atas Renaga ... kau mau mengelak pakai cara apa, wajahnya mirip denganku, tidak mungkin spermaa Arga, 'kan?"


Memang sejak dahulu dia terbiasa frontal begitu. Vanya memejamkan mata lantaran Justin seakan tidak peduli sekalipun dia wanita.


"Jangan berteriak, Justin ... Renaga masih tidur."


"Jangan menguji kesabaranku, kau tahu aku tidak sesabar itu."


"Baik, lakukan semaumu. Setelah itu, tidak perlu mengganggu kami. Sekalipun dia memang anakmu, aku masih mampu menghidupinya."


Lihat, percaya diri sekali dia. Justin mengepalkan tangan melihat penuturan mantan istrinya. Wajah pucat, dan tubuh yang kurus kering begitu akan sebatas mana mampu mengurus anak, pikir Justin.


"Jadi benar dia anakku?" tanya Justin tanpa melepaskan Vanya dari tatapannya, kalimat Vanya barusan menciptakan kalimat tersirat.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


Hai, mungkin banyak yang akan kecewa dengan kisah Justin. But, tidak ada kisah yang selalu sempurna ya. Maafin authornya🙏❤


__ADS_2