
Mengetahui jika Justin hendak melakukan vasektomi, Agny gusar seketika. Terlebih lagi dia mencari lebih lanjut bagaimana nanti dampak jika Justin benar-benar melakukannya, bukan tidak mungkin pria itu semakin bebas dan bisa jadi semua yang tadi Justin katakan benar-benar akan dia lakukan. Ya, menjalani hubungan terlarang dengan banyak wanita.
Malam, tanda-tanda Justin akan keluar kembali terlihat. Agny memperhatikan dengan jeli Justin memilih pakaian, bisa dipastikan pria itu akan keluar setampan mungkin. Apalagi, ketika Justin mulai menggunakan parfum hingga hidup Agny dibuat terbius dengan aroma maskulin yang kerap dia hirup dari tubuh Justin secara langsung.
"Dia beneran mau pergi lagi? Cih, mana wangi banget lagi ... kalau sampai dapat yang lebih cantik dari aku gimana? Aku geli kalau harus kembali ke tempat itu."
"Om ... mau kemana?"
"Ada urusan," jawab Justin seakan tengah menjawab pertanyaan adiknya, pria itu menjawab seadanya dan tidak ada hal yang terlihat akan dia tutup-tutupi.
"Urusan? Urusan apa?" Agny penasaran, dua jawaban kemana perginya Justin sudah melayang di otaknya. Akan tetapi, tidak mungkin dia akan menemui dokter dengan penampilan begitu, belum lagi ini adalah malam hari.
"Ada lah, anak kecil tidak boleh ikut campur dulu."
Semakin resah Agny ketika Justin mengedipkan matanya, ingin rasanya dia membuka piyamanya sekarang juga demi membuat Justin mengurungkan niat.
"Ays ... sudah kubilang jangan, dia ngeyel!"
Agny menggerutu, dia sebal sendiri lantaran Justin seakan tidak menghiraukan ucapannya tadi siang. Kacang kulit yang sejak tadi menjadi cemilannya bahkan dia masukkan ke dalam mulut sampai ke kulit-kulitnya, terlalu kesal lantaran Justin membuat ulah semacam itu dia sampai tidak fokus.
"Dah aku pergi, kamu tidur duluan saja kalau aku belum pulang."
Pria itu pamit dan hendak melewati Agny begitu saja, akan tetapi belum sempat Justin melangkah, Agny segera loncat dari tempat tidur dan berdiri tepat di hadapan Justin.
__ADS_1
"Kenapa? Ah iya, lupa."
Cup
Justin mengecup keningnya sebelum melangkah, mungkin saja Agny menginginkan hal semacam itu. Akan tetapi, tampaknya bukan kecupan yang dia inginkan melainkan hal lain hingga pria itu mengerutkan dahinya.
"Apa? Sudah dicium, 'kan? Uang atau apa?"
"Tawaran kemarin, masih berlaku?"
Tawaran apa, Justin mengerutkan kening lantaran wanita ini tiba-tiba saja melontarkan sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak pernah Justin pikirkan. "Tawaran? Tawaran yang mana?"
"Jadi istri Om Justin, apa masih boleh." Agny berucap pelan namun tidak berarti ragu, dia hanya takut Justin menolaknya malam ini hingga sesulit itu untuk Agny mengungkapkan ketakutannya.
Katakanlah iya, Agny memerah kala Justin bertanya hal semacam itu. Apa yang sebenarnya telah dia lakukan malam ini, pikiran buruk Agny tentang Justin yang kemungkinan besar akan mencari hiburan di luar sana membuat Agny kehilangan cara hingga dia sontak menghalangi langkah Justin.
"Bukan melamar, tapi hanya menjawab ... waktu itu aku kan bilangnya pikir-pikir dulu, dan sekarang aku sudah punya jawaban."
Justin menarik sudut bibir setipis itu bahkan tidak terlalu kentara jika dia tengah tersenyum. Dia memerhatikan bagaimana Agny yang kini meremmas jemarinya di hadapan Justin, tampak menutupi malu namun dia tengah berusaha untuk tak mati kutu.
"Oh iya? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Kamu sudah mencintaiku? Atau tidak rela wanita lain merasakan pelukanku juga, Agny?"
Pertanyaan jebakan, entah kenapa dia membuat Agny terjebak hingga wanita itu terdiam untuk beberapa saat. Dia juga bingung mendefinisikan perasaan, bagi wanita yang sama sekali belum pernah menjalin hubungan seperti Agny jelas saja bingung sebenarnya apa yang dia mau.
__ADS_1
Dia memang nyaman di sisi Justin, sangat-sangat nyaman bahkan bisa dikatakan Agny merasa sempurna ada di sisi Justin. Akan tetapi untuk mengatakan dia memang cinta atau tidak sebenarnya tidak paham juga, dia hanya mengerti sebuah cinta akan melahirkan hubungan yang penuh cinta dan kasih seperti kedua orang tuanya.
"Baiklah, sudah kuduga kamu belum mencintaiku ... jadi untuk apa kita menikah, bukankah kamu pernah bilang dalam pernikahan harus ada cinta?"
Gawat, Justin bicara serius. Sementara pengetahuan Agny tentang cinta begitu minim, bahkan mungkin hanya sejumput teori yang dia ketahui perkara cinta dan memang hal itu merupakan suatu keharusan dalam hubungan, itu saja.
Justin memilih berlalu dan melewati Agny beberapa langkah. Tanpa terduga wanita itu memeluknya dari belakang dengan tangan mungil yang kini melingkar erat di perut Justin. Ini adalah perbuatan paling nekat yang Agny lakukan, Justin yang mendapatkan perlakuan semacam ini jelas saja tersentak hingga langkah kakinya terhenti.
"Aku siap menjalaninya, sekalipun hamil seperti yang Om mau ... aku tidak akan protes dan menolak lagi, obatnya tidak akan aku beli lagi, aku mau semuanya tapi jangan bawa perempuan lain ataupun mencari perempuan lain, aku mohon."
Agny sedang bunuh diri, iya dia akui tengah bunuh diri demi membuat Justin menetap. Membayangkan jika Justin membelai wanita lain hati Agny tidak rela sekalipun dia tahu memang begitulah resiko menjadi wanita seorang pria seperti Justin.
"Hm? Kerasukan apa dia? Ambil keputusan seperti tahu bulat."
Meski tidak dapat dipungkiri Justin memang senang, akan tetapi dia masih bingung kenapa wanita itu mengambil keputusan serba dadakan layaknya tahu bulat.
"Katakan sekali lagi, aku ingin dengar lebih jelas," titah Justin masih dengan posisinya membelakangi Agny sementara wanita itu memeluknya semakin erat seakan takut malam ini kembali Justin tinggalkan.
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -