Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
Bonus Chapter #Part 04


__ADS_3

"Zavia I love you."


Suara Fabian menggema disertai dengan kecupan dari dua jemarinya. Tolonglah, masih terlalu kecil untuk mengerti cinta dan sebagai sahabat yang dia paksa ikut malam ini jelas saja Zavia mual.


"Sarap!!"


Giska terbahak mendengar jawaban Zavia, kedua sahabatnya ini tidak akan pernah baik-baik saja. Entah itu sebatas bercanda, atau memang nyata karena memang begitu interaksi mereka.


"Diam Giska ah, jangan direkam dong malu," protes Zavia tak terima kala menyadari Giska tengah mengarahkan ponsel ke arahnya.


"Kenangan, Via."


"Ck, hapus, Giska!! Mending foto pangeran kamu saja," ujar Zavia merampas ponsel Giska.


Namun, sebagai seseorang yang sangat menghargai kenangan jelas saja Giska akan mempertahankannya. Tidak ada satu pun jejak mereka selama hidup boleh dihapus, Giska bahkan menyimpan semua kenangan mereka berempat sejak kecil.


"Jangan coba-coba menghapusnya, Via ... kamu tahu kalau aku marah gimana, 'kan?"


Giska akan selalu mendadak serius ketika membahas hal semacam ini. Melihat mata tajam Giska, Zavia mengalah dan tidak ingin Renaga marah lantaran mengira keduanya bertengkar.


"Okay, aku yang pegang hp-nya."


"Boleh deh, fotoin kak Aga sekalian ya."


Giska menatap Zavia dengan penuh permohonan. Sudah berapa kali dia berusaha, tapi Renaga seakan sengaja menghindar hingga tidak ada satupun yang berhasil dia dapatkan.


"Ayolah, Via, kamu tahu sendiri dia anti difoto dan kamu paparazi," rengek Giska benar-benar meminta hal itu pada Zavia.


Malas sebenarnya, Zavia sedikit enggan berurusan dengan Renaga. Laki-laki itu pemarah, dia juga bingung kenapa Giska sekuat itu menginginkan Renaga. Akan tetapi, melihat wajah melas Giska, bidadari kecil Keyvan ini berbaik hati dan dia maju selangkah agar lebih dekat.


Sadar jika Zavia hendak mendokumentasikan mereka yang ada di lapangan, Fabian sengaja cari perhatian sok ganteng di hadapan Zavia. Dia berjalan ke tepi lapangan dan dan menyisir rambutnya dengan sela-sela jari.


"Bian awas, kamu ngapain di situ?"

__ADS_1


"Mau foto aku, 'kan? Buat apa? Posting di ig ya, Beb?" tanya Fabian konyol meski dia tahu bahwa tidak akan mungkin gadis sedingin tomat beku itu rela melakukan hal semacam itu.


"Idih, udah sana-sana ... aku takut kena bola, Bian."


"Aman, Sayang, ada aku di sini."


Zavia memutar bola matanya malas, dia sudah benar-benar frustrasi menghadapi sahabat karibnya ini. Ingin dia kubur hidup-hidup, tapi mau bagaimana lagi, orangtua mereka terlalu dekat.


Hingga satu kesempatan Zavia berhasil mendapatkan momen dimana Renaga sengaja menatap ke arahnya. Lihat betapa galaknya wajah itu, Zavia bahkan lebih takut pada Renaga dibandingkan papanya.


Kesempatan itu dia gunakan demi memenuhi keinginan Giska, beberapa foto yang sama dia dapatkan. Hingga di kali terakhir, tatapan mereka terkunci satu sama lain dan senyum tipis Renaga terlihat nyata di ponsel Giska.


"Ck, aku juga cepetan!!"


Fabian sibuk sendiri, Zavia terpaksa mengarahkan ponsel Giska ke wajah Fabian. Cowok idaman di SMP yang merupakan ketua OSIS, tapi bagi Zavia sama sekali tidak menarik.


"Nih udah!!" kesal Zavia asal foto hingga yang terlihat di ponsel Giska hanya hidung dan bibirnya saja, jahat sekali memang Zavia.


"Pelit!!"


"Nih, jangan nangis lagi nanti malem."


"Thanks, Via ... aku suka, fotonya bagus," puji Giska seraya tersenyum memandangi wajah tampan Renaga di ponselnya.


Susah payah dia berusaha, bahkan berteriak berkali-kali demi mendapatkan perhatian Renaga. Sayangnya, dia sama sekali tidak Renaga pedulikan. Sementara Zavia yang hanya berdiri di pinggir lapangan, tanpa teriakan dan lainnya Renaga justru melihat jelas ke kamera.


Dunianya tidak adil, Giska akui itu. Namun, hadirnya Zavia sebagai sahabat yang memahaminya membuat Giska merasa bahagia. Yah, setidaknya dia tidak terlalu sedih kali ini.


.


.


Sampai permainan berakhir, Giska tidak hentinya tersenyum lantaran berhasil mendapatkan apa yang dia mau malam ini. Ketika pulang, Fabian si perut karet memaksa makan bersama di sebuah warung kaki lima.

__ADS_1


"Bian, sudah jam delapan ... aku takut dimarahin Papa."


"Kan sama Kak Aga, jadi boleh dong."


Renaga Anderson adalah laki-laki yang dipercayakan menjaga mereka bertiga. Seiring dengan pertumbuhannya yang memang berdarah campuran Italia - Jerman, membuat Renaga terlihat lebih dewasa dibandingkan teman seusianya.


Sebenarnya Renaga enggan mengikuti keinginan Fabian. Akan tetapi, jika dia biarkan Fabian bersama Zavia saja maka lebih bahaya. Dia mengangguk walau malas, melihat Renaga memberikan respon begitu Giska segera mengekor dan naik ke atas motor Renaga.


"Bian!!" teriak Renaga kemudian membuat Fabian mendekat, dengan Zavia yang kini sudah duduk manis di belakangnya.


"Apa, Kak?"


"Bisa kita ...." Dia menatap Zavia yang sudah duduk manis dengan helm tertutup di belakang Fabian.


"Jalan, Bi."


Renaga terlalu lama, hingga membuat Zavia memerintahkan Fabian untuk melaju segera. Sebagai pangeran yang hanya patuh pada bidadari impian, Fabian menurut begitu saja. Meninggalkan Renaga dan Giska yang kini masih belum bergerak.


"Kak Aga mau apa? Pinjemin jaket buat Giska ya? Kakak perhat_"


"Diam, aku ingin Zavia yang bersamaku ... kamu lepas dariku sehari saja bisa tidak, Giska?"


Percayalah, untuk bisa bertemu Zavia tidak semudah itu bagi Renaga. Kini, dia ingin lebih dekat sekali saja bersama gadis itu. Tapi karena seorang Giska, dia tidak bisa melakukan hal yang dia mau.


"Ini sudah Giska lepas, Kak. Jangan ngebut tapi ya, Giska janji tidak akan peluk Kakak."


"Terserah!! Aku mau modif motor besok pagi."


"Woah, modif jadi gimana, Kak? Kalau bisa ada sandarannya, Kak biar Giska aman."


"Modif biar tempat duduknya hanya satu!!"


.

__ADS_1


.


Hai, aku mau tanya lagi deh. Untuk novel baru mereka berempat, mulai dari mereka remaja atau langsung pas dewasanya.


__ADS_2