
Bersembunyi di balik kata ngidam, seperti yang kita ketahui hal semacam ini lumrah sekali terjadi. Bayi dalam kandungan jadi senjata, dalam ajang penyiksaan sang suami. Entah kenapa Agny suka saja meminta hal aneh pada Justin. Namun, yang justru aneh ialah Justin mampu mengabulkan permintaan Agny sekalipun butuh waktu berhari-hari.
Tiga hari pencarian mereka, kambing jantan berzodiak Leo itu berhasil Justin dapatkan dengan bantuan Keyvan. Beruntung saja pria itu mampu menemukan jalan keluar, dia menghubungi beberapa peternak kambing dan mencari kambing kelahiran bulan Agustus itu.
Mereka mendadak pesta, tiga keluarga kecil itu berkumpul di rumah mewah milik Justin. Setelah melewati berbagai rintangan, kambing tersebut berhasil dilumpuhkan. Akan tetapi, untuk menyembelihnya, Justin menyerah dan terpaksa Keyvan yang ambil alih.
Bukan hanya karena geli melihat kambing itu, akan tetapi dia menghargai Keyvan serta anak dan istrinya. Sudah tentu Justin memikirkan kambing itu harus bisa dinikmati mereka semua. Yah, meski terjadi tragedi kejar-kejaran keliling kompleks antara mereka bertiga dan kambing tersebut, kini mereka sudah menyiapkan arangnya.
Demi mengikuti keinginan Agny, Justin membayar satu tukang sate khusus untuk hari ini. Hanya pendamping saja sebenarnya, karena memang semua hal mereka siapkan sendiri. Para pria meng-eksekusi kambingnya, sementara ketiga wanita cantik itu menyiapkan bumbu dan sebagainya.
Rumah Justin mendadak ramai tentu saja, jerit Zavia serta tangis Giska menyatu dalam irama ketika Renaga menyanyikan lagu dengan microphone andalannya. Hal itu sama sekali tidak jadi masalah, yang namanya anak-anak wajar saja bertengkar.
"Awwh shiitt ... asapnya kenapa jadi begitu, Pak?"
"Ini karena yang ngipasin salah arah, Den."
Keyvan mundur beberapa langkah kala Keny seolah sengaja membuat asapnya ke arah Keyvan. Memang benar-benar teman tidak ber-etika, Keyvan sudah berjalan ke sisi lainnya dan Keny tetap berusaha agar Keyvan tersiksa.
__ADS_1
"Nyalahin asap, kau jangan di sana gila."
"Itu karena ulahmu gila!! Aku harus jaga daging-dagingnya, kalau tidak lihat yang itu ... gosong karena ulahmu!!" sentak Keyvan menunjuk beberapa tusuk sate yang terlalu matang bahkan memasuki tahap gosong, untung saja bisa diselamatkan.
"Masih enak tapi, Van,"
Justin terlihat menikmati sate percobaan yang hampir hangus terbakar akibat Keny yang pembangkang. Percuma ada tukang sate aslinya, karena hal semacam ini terjadi juga.
"Gantian, Just ... panas."
"Ya ampun, Van begitu saja ngeluh ... coba kau lihat pak Seno, dia tidak muda lagi, tapi masih semangat jualan satenya."
Keyvan berdecak sebal, ini bukan ajang adu nasib. Dia memang merasa lelah dan ingin bergantian pada keduanya. Justin yang mengerti sahabatnya ini lelah, segera mengambil alih dan meminta Keyvan duduk istirahat sejenak.
Belum juga satu menit, dia mulai merasakan kebangshatan Keny. Di tengah dia yang fokus membalik daging tersbeut, Keny dengan otak minimnya mengibaskan kipas tersebut sekuat tenaga dan berusaha agar asapnya mengepul ke arah Justin.
Wussh
__ADS_1
Uhuk-Uhuk
"Hentikan, Bedebah!! Sesak gila."
Bukannya mikir, dia kembali terlihat santai seolah tidak berdosa. Sudah Keyvan katakan tugas mengipas bisa dipegang sekaligus oleh satu orang yang menjaga kematangan satenya. Akan tetapi, otak jahilnya selalu berusaha mengambil celah agar bisa membuat kedua sahabatnya tersiksa.
Dari kejauhan, Keyvan terbahak tiada hentinya melihat Justin naik darah. Entah kenapa persahabatan mereka, Berawal dari tiga remaja yang sama-sama terluka, bersatu saling menguatkan hingga darah yang mengalir dalam diri mereka tidak bisa berjauhan.
Buktinya, beberapa waktu lalu Justin mengutarakan keinginannya untuk membawa Agny segera ke Italia, tanah kelahirannya. Akan tetapi, Keyvan dan Keny berusaha mencegahnya, mereka tidak mengizinkan Justin kembali. Bukan tanpa alasan, Keyvan sebenarnya bisa saja tanpa Justin. Akan tetapi, takdir mereka memang seharusnya bersatu sekalipun sudah memiliki keluarga masing-masing.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1