
"Kamu menggodaku?" bisik Justin kemudian menatap makan malam Agny yang baru berkurang sesendok itu, kembali menyiapkan suapan kedua karena sang istri sudah persis balita yang malas makan hingga mencari cara agar Justin tidak menyuapinya lagi.
"Kamu tergoda? Padahal niatku tidak begitu," ucapnya sengaja mendekat hingga napasnya dapat Justin rasakan.
Justin heran, sejak kapan istrinya jadi agresif begini. Terlebih ini tempat ramai, sementara jika berdua Agny sangat berbeda dan yang selalu memulai adalah Justin sendiri.
"Om Justin ... tisue dong, lihat tadi airnya tumpah ke dadaku ... abisnya kaget jadi gini deh." Sudah lama Agny tidak memanggil Justin dengan sebutan maut itu, biasanya Justin selalu berdesir setiap Agny memanggilnya demikian.
"Ck, jangan sok imut, ayo habiskan makanmu."
Justin mencengkram dagu sang istri agar membuka mulutnya. Entah istrinya kerasukan apa hingga sedikit sinting begini, apa mungkin pengaruh tauge seperempat sendok tadi hingga akibatnya fatal.
Usaha Agny tampaknya gagal, pria itu benar-benar memaksa makan malam sang istri harus habis. Agny sengaja bersendawa di hadapan Justin untuk menunjukkan jika dia memang sudah kenyang. Jika tidak begitu, Justin akan kembali memakssa agar Agny makan lebih banyak lagi.
Usai makan malam, mereka tidak segera pulang. Agny yang merasa lidahnya benar-benar habis makan rumput meminta agar Justin mau mengunjungi cafe tempat dia biasa menghabiskan waktu.
Memang dasar wanita, berani sekali dia mempermainkan Justin. Setelah menggoda, tiba-tiba meminta agar tidak pulang lebih dulu dengan alasan rindu suana di luar pada malam hari.
"Ah aku sudah lama tidak ke sini, nyanyi ke depan boleh?" tanya Agny yang terlampau senang dan tertarik untuk menyumbangkan sebuah lagu di depan sana.
"Tidak, janji awalnya tidak begitu ... mau apa kamu nyanyi? Cari perhatian di depan mereka?" tanya Justin menunjuk beberapa anak muda yang mungkin seumuran Agny di depan sana. Bukan perkara cemburu, akan tetapi dia tidak suka walau sebenarnya Agny belum melakukan apa-apa.
"Hm, ya sudah kalau begitu ... tapi kita di sini sampai malam ya? Lagian di luar hujan."
__ADS_1
"Kita pakai mobil, bukan sepeda. Di luar hanya gerimis, bukan badai."
Mereka berdebat, istrinya merindukan malam di luar sementara sang suami sudah tidak sabar ingin menghabiskan waktu di kamar. Hingga keduanya harus mengambil keputusan karena tidak ada yang mau mengalah.
"Gunting, batu ker ... tas!! Ker ... tas!! Ker ... Tas!! Iyes aku yang menang, fiks 45 menit lagi ya."
Kali pertama Justin rela dibodohi lawan seperti Agny. Keduanya mungkin kembali menjadi pusat perhatian, Justin kembali mengusap wajahnya kasar. Ternyata benar istri yang lebih muda tidak selamanya penurut, ada saatnya mereka pembangkang dan egois tentang keinginan mereka.
"Hm, iya ... terserah kamu saja, asal kita pulang," ucap Justin pasrah karena sepertinya dia memang tidak punya kuasa untuk melawan otak Agny.
"Okay kalau begitu, mau minum apa?" tanya Agny bahagia luar biasa karena dia yang menang dan bisa sedikit lebih lama di luar kali ini.
"Vodka," jawab Justin sekenanya dan membuat Agny menghela napas pelan.
"Tidak ada yang begitu di sini, kalau mau begitu kita ke club sekalian ... Eh tapi sepertinya seru, aku belum pernah ikut dugem beneran."
"Agny, kamu mau kubuat pingsan nanti malam?"
"Pingsan? Ih mau ... sambil mabok berarti ya? Aku belum pernah, sepertinya enak."
"AGNY!! Tolonglah mengerti, suamimu ini sabar sekali, Sayang. Paham?"
Justin berusaha menahan diri, dia paham sedang ramai tapi demi apapun Agny menyebalkan sekali malam ini. Pria itu hanya bisa pasrah dan berusaha paham jika ini adalah keinginan istrinya.
__ADS_1
"Jangan marah-marah dong, aku tidak setiap malam minta keluar ... masa begitu saja marah." Bibirnya maju beberapa centi, Agny merogoh ponselnya karena Justin menyebalkan malam ini.
"Tidak marah, Sayang ... aku serius, kalau club tidak akan pernah aku izinkan."
"Halah, tidak marah apanya urat lehernya sampai keluar begitu," jawabnya tanpa menatap Justin hingga membuat pria itu menggigit bibirnya, dia kurang hati-hati sepertinya.
Bagaimana urat Justin tidak keluar jika tingkahnya sejak di restaurant ngajak perang. Jika saja Agny laki-laki, mungkin Justin sudah menjitak keningnya itu kuat-kuat. Kekesalan Agny berlangsung hingga kemudian pelayan mengantarkan pesanannya.
"Ehem!! Dia suami saya, senyummu biasa saja kan bisa."
Agny bersuara lantaran wanita yang tampak lebih dewasa darinya terlalu lama menatap Justin padahal hanya mengantarkan minuman. Agny yang memang sejak tadi panas semudah itu dipancing emosinya hingga Justin mengu-lum senyuman. Tadi dia marah pada Justin. Namun, dia semarah itu ketika Justin ditatap lawan jenis. Hanya ditatap, belum disentuh.
"Itu bagian dari etika terhadap pengunjung, Sayang ... kamu sendiri yang bilang harus sopan."
"Itu ganjen, bukan sopan."
Yayaya, Justin mengangguk pelan. Dia yang tersenyum pada Keny dianggap bagian dari etika, sementara jika Justin mendapat perlakuan sama dianggap berbeda. Tidak mengapa, memang sesulit itu memahami wanita, pikir Justin.
.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -