
Selama merekam Arga, mata Justin memanas kala mendengar penuturan Arga. Pria itu menginginkan kejujuran, Justin tidak mau istrinya terpenjara dalam fitnah berkepanjangan.
"Cukup, kau boleh pergi."
Justin melemparkan kontak mobil setelah Arga mengungkapkan pernyataannya berdurasi lima menit itu. Singkat, padat dan memang hal itu yang Justin mau. Arga yang terlampau bahagia jelas saja bergegas mengumpulkan uang yang telah menjadi miliknya itu.
Persetan dengan perjanjian sebelumnya, bagi seorang Arga tidak ada yang lebih penting dibandingkan uang. Siapa yang berani membayarnya lebih tinggi maka pihak itulah yang akan dia ikuti. "Justin, apa benar kau akan melindungiku setelah ini?"
"Hm, tentu saja."
Ada satu ketakutan Arga sebelum mengaku, ya dia jelas saja takut dengan kekuasaan pria yang dia khianati beberapa saat lalu lantaran tergiur dengan imbalan Justin. Akan tetapi, Justin meyakinkan Arga bahwa dia akan baik-baik saja, tanpa perlu khawatir hidupnya terancam.
"Terima kasih, Justin."
Justin mengangguk, dia tersenyum tipis bahkan sampai tidak terlihat sama sekali. Matanya menatap datar Arga yang tampak tergesa meninggalkan dirinya, hingga setelah pria itu dipastikan menghilang, Justin merogoh ponselnya.
"Sekarang."
Satu kata yang kemudian membuat Justin terkekeh. Sangat mudah melumpuhkan manusia bodoh itu, andai saja sejak kemarin dia percaya dengan keraguannya. Mungkin fitnah tentang dirinya tidak akan mencuat, Justin berlalu keluar ketika dia memastikan semua telah terlaksana dengan baik.
"Bagaimana?"
"Aman, aku pastikan dia tidak akan selamat ... cih, anak nakal! Kau masih gila ternyata," puji William menepuk pundak Justin, sudah dia duga Justin tidak berubah. Dia masih Justin yang sama, hanya saja dia menutupi yang sebenarnya saja.
"Terima kasih, maaf mobilmu harus hancur kali ini," ungkap Justin berjalan berdampingan dengan William.
Banyak uang yang Justin keluarkan, tapi tidak mengapa selagi Agny dan dirinya selamat dari fitnah itu maka tidak masalah. William harus rela mobilnya hancur bersama Arga malam ini, meski Justin jelas akan menggantinya nanti tetap saja sangat disayangkan.
__ADS_1
"Santai saja, aku tunggu gantinya."
"Cih, masih sama perhitungan."
Sebagaimana kedua sahabat yang sudah lama tidak bertemu, Justin dan William tampak bicara santai tanpa beban setelah merencanakan kematian Arga di dalam mobil mewah dengan sejumlah uang yang dia bawa malam ini.
Justin terbahak, apalagi kala dia mendapat laporan bahwa anak buah William mulai bergerak dan mengejar Arga. Hal itu sengaja mereka lakukan agar Arga panik dan jelas menambah kecepatan, biasanya kecelakaan karena rem blong akan lebih membunuh jika pengendaranya melaju dengan kecepatan tinggi, pikir William.
"Turut prihatin dengan yang terjadi padamu, kau bisa tidur dengan tenang malam ini ... semua yang kau mau sudah kau dapatkan, Justin? Nanti lupa record, tidak lucu jika harus mengejar Arga ke neraka," canda Wiliiam dan hal ini seakan terdengar lucu sekali bagi mereka.
"Sudah, aku juga sudah kirimkan pada Keyvan. Ternyata penguasa di negeri ini haus sekali ... bahkan istriku harus terseret permainan mereka."
Justin mengepalkan tangannya, pria itu menatap nanar tanpa arah dan menegak minuman yang William berikan. Tidak bermaksud mabuk, lagipula hanya sedikit jadi tidak masalah.
Dugaan Keyvan memang benar, pihak ketiga yang menginginkan kehancuran Winarto. Arga yang juga membenci dirinya memanfaatkan isu tersebut untuk membuat Justin benar-benar hancur. Sejujurnya ingin sekali dia menghabisi Arga dengan tangannya, tapi malam ini Justin berubah pikiran dan dia sedikit malas jika harus membereskan mayat Arga nantinya.
Jam tiga, dia pergi cukup lama dan tidak sadar sama sekali. Segera Justi berlalu pergi setelah mengucapkan terima kasih pada William, beruntung sekali pria itu mau bertindak cepat begitu Justin meminta bantuannya. Tidak hanya William sendiri, tetapi anak buahnya turut bergerak dan membuat langkau Justin semakin mudah.
.
.
Sementara di sisi lain, Arga yang tengah bahagia dengan kekayaannya sama sekali tidak menyadari jika dirinya tengah menginjak rancau yang akan meledak beberapa detik lagi. Mobil mewah pertama yang dia dapatkan dengan mudah, Justin memang semudah itu dikuras, pikir Arga.
"Ck, apa maunya mereka?"
Arga mulai merasa terusik dengan beberapa orang yang mengikutinya di belakang. Terlalu kentara jika mereka memang berniat buruk, helm yang menutup wajah mereka membuat Arga sulit mengenali siapa mereka. Mata pria itu membulat sempurna kala salah satu dari mereka mengeluarkan senjata tajam, Arga tidak mungkin salah lihat dan jelas saja dia mengira bahwa mereka tengah mengincar hartanya.
__ADS_1
"Siallan!! Mereka hendak merampokku? Kita lihat apa mampu mengejarku."
Tanpa keraguan sama sekali, Arga menginjak pedal gas hingga mobilnya melaju dengan kecepatan super tinggi. Kondisi jalan yang memang sepi membuat pria itu berkuasa dan dia bahkan menggila lantaran takut hartanya hilang begitu saja.
"Shiitt!! Mereka semakin dekat."
Dia yang kian panik semakin menggila hingga ketika hendak melewati sebuah tikungan maut, Arga kebingungan lantaran kecepatannya tidak berkurang ketika dia menginjak rem. Baru saja menyadari keadaan tersebut, Arga panik dan matanya membeliak kala mobil yang dia naiki menabrak pembatas jalan hingga terpental beberapa meter.
Dentuman terdengar begitu keras dan dia masih dalam keadaan sadar, Arga membuka matanya perlahan dan menatap pepohonan di luar sana terlihat terbalik. Dia belum mati, masih ada harapan hidup hingga Arga mencoba untuk keluar.
Namun, nasib baik tampaknya memang tidak akan pernah ada. Baru saja hendak berusaha, mata Arga sudah dibuat silau akibat lampu dari sebuah kendaraan berat yang melintas di hadapannya.
"Aaaaaaaaaarrrgggghhh!!"
Mobil mewah milyaran rupiah itu kembali terpental kala truk menghantamnya dari sisi kiri. Bersamaan dengan jeritan Arga malam itu, tetesan air hujan turun bersamaan dengan darah Arga yang mengalir di tingkungan maut tersebut. Lagi dan lagi, tingkungan itu memakan korban setelah beberapa hari lalu sempat dikabarkan membunuh satu keluarga besar yang hendak berlibur.
.
.
.
- To Be Continue -
Hai semuanya, apa kabar? Semoga kalian selalu baik-baik saja dan tetap dalam lindungan pencipta ya. Khusus hari ini aku sengaja up banyak sebagai hadiah di akhir desember❤ Selamat menyambut tahun baru, Gengs.
Banyak yang aku lalui di tahun 2022, tahun ini Tuhan begitu baik. Meski memang tidak selamanya tentang kebahagiaan, tapi aku bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan saat ini. Semoga di tahun 2023 kita semakin lebih baik lagi ya, sehat selalu dan semoga Tuhan memudahkan semua langkah kita. Oh iya, masihkah bersedia menampingi aku berkarya di tahun-tahun selanjutnya? Semoga masih ya temen-temen, love you❤ Sehat selalu pokoknya, semoga di tahun 2023 harapan yang belum terlaksana di tahun sebelumnya akan segera Tuhan berikan.
__ADS_1