
"Sampai kapan kita begini? Kamu cinta atau tidak sebenarnya?"
Perdebatan semacam itu sudah berlangsung sejak lama. Perkara pembuktian cinta, mereka sudah hidup bersama sejak lima tahun terakhir. Meski Arga tidak selalunya di sana, apalagi akhir-akhir ini tetap saja mereka adalah suami istri yang nekat menikah diam-diam tanpa restu orangtua Arga.
"Cinta, jika tidak cinta untuk apa aku merebutmu susah payah dari Justin," balas Arga menatap pemilik bibir pucat yang saat ini tengah menatap bayangan dirinya di depan cermin, kian hari dia kian pucat sementara putranya masih butuh sosok Mama dan tidak bisa mengandalkan Arga jika dia tidak ikut bekerja.
"Cinta? Lima tahun kita begini-begini saja ... janjimu melegalkan pernikahan kita tapi apa?" Vanya menoleh dan melirik sekilas sosok pria yang sudah menggantikan posisi Justin sebagai pasangannya, ya meskipun seakan hampa dan pernikahan itu seolah mainan bagi Arga.
"Vanya!! Tolonglah mengerti, saat ini aku sedang berjuang ... kamu pikir melunakkan hati Mama itu mudah? Tidak, Vanya. Bagaimanapun kita butuh restu, aku tidak siap jadi gelandangan nantinya."
"Restu? Bisa-bisanya di saat begini kamu membahas restu. Dulu, aku bahkan mengkhianati suamiku hanya demi kamu, Arga."
Arga hanya menatap malas wanita itu, dia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar. Dia di titik stres, uang yang dia dapatkan dari Sigit atas pembayaran terakhir Agny sudah habis, belum lagi dia tidak bisa lagi memaksa Agny memberikan uang seperti dulu.
Pria itu sontak menoleh dan melangkah perlahan menghampiri Vanya, mantan istri orang yang dia bawa lari begitu saja. Kebodohan Vanya membuat Arga menang tentu saja, terlebih lagi saat itu Justin memang terlihat kurang mencintainya sebagai pasangan. Jelas saja, Vanya tergoda dan memilih kehangatan sementara Justin ke luar kota.
"Masih cantik."
Pujian itu membuat Vanya mengerutkan dahi, sudah lama tidak memuji dan kini tiba-tiba Arga melontarkan kata-kata semanis itu. Semenjak sakit dan fisiknya sedikit berubah, Vanya memang kurang mendapat perhatian dari Arga, bahkan kerap ditinggal dan tidak pulang cukup lama.
"Maksudmu?"
"Lumayan kencang juga, kita sudah lama tidak bermain ... aku merindukanmu," bisik Arga tiba-tiba dan sudah dapat diduga jika pria itu menginginkannya, akan tetapi malam ini Vanya memang sedang tidak bisa, terpaksa dia melakukan dengan cara lain untuk memuaskan Arga.
__ADS_1
Tidak dapat dipungkiri, meski tidak secantik dan sebaik dulu, Vanya tetap mampu membuat Arga mabuk dengan sentuhannya. Pria itu menggila dan mengerang ketika merasakan bagian bawahnya hendak mengeluarkan lahar panas dan membuat mulut Vanya penuh hingga wanita itu hampir mual seketika.
"Sudah kuduga kamu masih panas, aku yakin di mata Edward kamu masih ada harganya, Vanya," ucap Arga menelusuri bibir basah Vanya dengan jemarinya, pria itu tersenyum tipis hingga membuat Vanya menepis tangannya lantaran paham apa mau Arga.
"Kamu ingin menjualku? Setelah kemarin papamu menjual adikmu, bisa-bisanya kau juga ingin menjualku," ungkap Vanya tidak percaya jika pria yang sangat dia cintai ini tidak berbeda jauh dari Sigit.
"Vanya, hanya ini satu-satunya jalan kita bisa hidup ... dengan bantuan Edward aku yakin kau bisa mendapatkan pria kaya seperti adikku," ucap Arga yang sangat paham jika Vanya mudah sekali tergoda dengan kehadiran pria kaya.
"Apa artinya anak itu tidak jadi pelaccur lagi?"
"Ya, dan kamu tahu siapa yang menebus Agny dengan harga mahal dari Edward siapa?" Kedua alis Arga meninggi dan dan dia yakin setelah mendengar ini Vanya tidak akan berpikir dua kali.
"Siapa?"
"Justin ... Anderson," ucap pria itu yang membuat Vanya mengepalkan tangannya, wanita itu menatap Arga seketika dan sorot matanya menuntut penjelasan yang sesungguhnya.
"Ehm, Justin ... kau tidak ingin bernasib sama seperti Agny? Jika kau sudah mendapatkan pria kaya, kita akan kembali seperti dulu."
"Ck, ini semua karena kebodohanmu!! Sudah kukatakan jangan datang ke kamarku waktu itu ... andai saja tidak ketahuan, pasti saat ini Justin masih jadi suamiku," kesal Vanya menatap tajam Arga, jika saja mereka main halus mungkin Justin tidak akan tahu sama sekali.
"Ck, lupakan hal itu ... sekarang lebih baik pikirkan bagaimana agar hidup kita kembali seper_"
"Mommy."
__ADS_1
Belum selesai Arga bicara, anak kecil yang sejak dahulu dia anggap beban dalam hubungan mereka tiba-tiba berteriak memanggil Vanya. Tidak hanya itu, akan tetapi anak itu menangis dan membuat kepala Arga sakit sekali.
"Ck, sudah kukatakan gugurkan saja sejak dulu," gumam Arga namun tidak terdengar oleh Vanya lantatan wanita itu sudah sibuk menghapus air mata putranya.
"Kenapa? Bukankah sudah Mommy katakan jangan pernah berteriak malam-malam begini?"
"Takut, Mommy ... malam ini Aga tidur sama Mommy ya."
Vanya menatap datar putranya, dia menoleh ke arah Arga yang tampak membuang muka. Sudah dipastikan itu adalah sebuah penolakan dan memang sejak dahulu Arga enggan jika harus tidur bertiga bersama Renaga, buah hati Vanya yang sama sekali tidak dia akui sebagai putranya.
"Boleh ya, Mommy? Aga juga rindu Daddy." Dia menatap penuh harap ke arah Arga dan pria itu sontak beranjak dan tiba-tiba keluar dari kamar hingga membuat Vanya memutar bola matanya malas.
"Hm, Daddy marah sepertinya ... Mommy, kenapa Daddy tidak sayang Aga? Teman-teman Aga disayang Daddy-nya, kenapa Aga tidak? Aga anak Daddy, 'kan, Mommy?"
Vanya menunduk, ini adalah jawaban yang begitu sulit dia jawab. Dia sendiri tidak tahu anak siapa, akan tetapi dari mata dan garis wajahnya Vanya bisa simpulkan sendiri Renaga anak siapa.
"Mommy jawab."
"Hm? I-iya, Sayang ... anak Daddy dong," jawabnya asal demi membuat Renaga tenang, persetan dengan Arga yang memilih berlalu keluar begitu Renaga masuk ke kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -