Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 42 - Larangan Justin


__ADS_3

Hari yang tadinya Justin rasakan terlampau panjang akhirnya terlewati, ini adalah kali pertama Justin menyesal luar biasa karena tidak menuruti nasihat Keyvan. Terobsesi ingin subur, bibir Justin justru bengkak dan hal itu berlangsung cukup lama hingga membuat dia malu ketika berhadapan pertama kali dengan Agny.


"Ck, kamu bisa berhenti, Agny? Ini tidak lucu sama sekali," omel Justin tidak terima lantaran Agny menjadikannya bahan candaan hingga hari sudah gelap begini.


"Lucu ... lagipula salah sendiri kenapa masih dimakan kalau sudah tahu alergi," ucap Agny menatap kembali wajah Justin yang cukup memperihatinkan, selain bibirnya yang bengkak, wajah dan tubuhnya juga menunjukkan reaksi yang tak kalah gila pasca dia makan siang.


Sebenarnya sudah lebih baik dari beberapa jam lalu, Justin juga bingung kenapa bisa selama ini. Dia berdecak frustasi sementara janjinya malam ini adalah menemani Agny mengambil barang-barang di rumah pamannya.


"Apa tidak ke rumah sakit saja? Nanti makin parah gimana?"


Meski sempat Justin semprot lantaran ketahuan tertawa di atas penderitaan Justin, wanita itu tetap bersikap baik dan lembut setelahnya. Bahkan dia mengusap pelan wajah Justin yang masih sedikit merah-merah akibat alergi yang dia derita.


"Tidak, nanti sembuh sendiri ... tunggu ya, mungkin satu atau dua jam lagi kita ke rumah pamanmu," ucap Justin pelan dan dia memang seyakin itu alerginya akan menghilang sebentar lagi, walau bisa saja dia nekat menemani Agny saat ini, akan tetapi akan tidak lucu jika ada gelak tawa yang lain ketika melihat bibirnya persis digigit tawon begitu.


"Yakin, Om? Aku bisa nyetir kok kalau Om tidak bisa ... Om cukup duduk manis dan tunjukkin jalannya," ucap Agny begitu yakin namun sama sekali tidak membuat Justin percaya.


"Oh iya? Tapi di dompet kamu tidak punya SIM, berarti belum bisa," ungkap Justin kemudian menangkap jemari Agny yang sejak tadi menelusuri wajah Justin, sudah tahu tidak nyaman masih saja disentuh, pikir pria itu.


"Iya memang tidak ada, tapi aku sering nonton video tutorial mengemudi, Om."


Cukup!! Memang benar tidak ada hal yang boleh Justin percaya, gadis ini memang sedikit membuat Justin tidak habis pikir. Kenapa bisa ada wanita yang mengakui suatu hal begitu mudah padahal belum pantas sama sekali.


"Nyetir tidak sama seperti memasak, artinya kamu belum bisa ... jangan coba-coba lakukan tanpa pengawasanku," ujar Justin mewanti-wanti sebelum Agny nekat suatu hari karena dari yang Justin lihat wanita itu percaya diri sekali mengakui kemampuannya.


Mendengar ucapan Justin, dia hanya mencebikkan bibir. Padahal, niatnya untuk membawa Justin ke rumah sakit sudah begitu besar, sejak dahulu dia benar-benar memiliki keinginan jika apa yang mendiang papanya ajarkan akan berguna bagi banyak orang. Ya, sebenarnya Agny hanya bercanda yang mengatakan jika hanya belajar dari video semata, satu tahun sebelum papanya pergi Agny seakan diberikan banyak pelajaran oleh sang papa.


"Dengar tidak? Hm?" Justin menyadarkan lamunan Agny yang melayang jauh saat ini, sejak tadi Justin perhatikan dan dia berpikir jika ekspresi datar Agny sebagai bentuk pemberontakan gadis itu.

__ADS_1


"Iya dengar."


Dia penurut, berbeda dengan tadi pagi yang menjawab asal mau. Entah karena tengah kasihan lantaran bibir Justin yang mengembang itu, atau memang watak asli Agny penurut, pikir Justin.


.


.


.


"Jam berapa sekarang?" tanya Justin kemudian baru menyadari jika Agny sudah cukup lama menemaninya terbaring di tempat tidur sejak pulang kerja, wanita itu bahkan setia sekali meski Justin tertidur beberapa saat Agny tidak pergi dari sisi Justin sama sekali.


"Hampir jam delapan malam, kenapa tanya jam?"


"Ayo siap-siap ... aku sudah mendingan, kita makan di luar malam ini," ucap Justin kemudian beranjak dari tempat tidur, Agny yang melihatnya jelas saja panik karena di matanya Justin masih terlihat mengkhawatirkan.


"Apa tidak besok saja?"


Sebenarnya tubuh Justin sudah lebih baik sejak beberapa jam lalu. Akan tetapi entah mengapa dia justru sedikit manja hingga kemerahan yang sudah pudar tersebut masih jadi masalah dan memilih tiduran cukup lama, sungguh Justin bingung dengan dirinya sendiri.


"Om mau kemana?"


"Ganti baju, di rumah itu ada keluargamu, 'kan?" tanya Justin menoleh sekilas pada Agny yang terlihat bingung kala melihat dirinya mulai membuka lemari.


"Aku ganti baju juga kalau gitu."


Sibuk sendiri, Justin hanya bisa menghela napas pelan kala Agny sengaja berdiri di hadapannya demi meraih pakaian untuknya. Akan tetapi, mengingat pakaian Agny banyak yang terbuka dia bingung sendiri dan kini berbalik menatap Justin yang tanpa dia sadari sejak tadi memandangi tubuh Agny begitu intens.

__ADS_1


"Aku pakai baju yang mana jadinya?" tanya Agny mendongak dan dia benar-benar bertanya pada Justin seakan pria itu adalah ibunya.


Mata Justin sama sekali tidak bisa diajak berpikir positif ketika melihat dada Agny yang terpampang nyata hingga tanda kemerahan akibat ulah Justin tergambar jelas disana. Hanya saja, entah Agny tidak tahu bencana atau tidak sadar jika hal yang dia lakukan bisa menghambat perjalanan atau tidak.


"Tetap pakai yang ini, tapi pakai jaketku ... bellahanmu kelihatan, aku tidak ingin orang lain melihatnya," ucap Justin terang-terangan dan dia sama sekali tidak memikirkan jika wanita itu akan merasa malu dengan kalimatnya.


"Ambilin, aku tidak sampai," pinta Agny baik-baik dan Justin mengerti jika wanita seumuran Agny tampaknya memang banyak mau.


"Ini?"


"Seperti jaket pelaku pembunuhan, aku tidak suka."


Oke, Justin mencari yang lain yang sekiranya tidak akan terlalu membuat tubuh Agny tenggelam. Sialnya, jaket-jaket dia ketika tubuhnya belum setinggi ini memang yang kerap dia gunakan untuk bertarung sejak sekolah.


"Ini?"


"Sepertinya terlalu panas, Om ... aku tidak suka, banyak bulunya jadi terlalu feminim."


Diberikan yang sederhana Agny anggap jaket kriminal, dan ketika diberikan yang lain justru dikatakan terlalu feminim, padahal mereka tidak hendak menghadiri pesta. "Eh bentar, ngomong-ngomong ini bulu apa, Om?"


"Mana kutahu, Agny ... yang pasti bukan buluku, banyak sekali protesmu, pakai saja ya Tuhan," keluh Justin mengeluh dan dia kembali merasa jika Agny kemungkinan akan lebih menyebalkan dari ini.


.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


Wait, sebelum lanjut aku tanya deh kenapa komen Justin jadi seuprit begitu? Ini para pasukan yang nunggu Bang Justin mana Hei!!


__ADS_2