Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 63 - Dendam Tanpa Sengaja


__ADS_3

"Pulanglah, terima kasih sampaikan pada Evan ... Aku masuk besok pagi, hari ni masih lelah."


LIhatlah, betapa mulianya akhlak seorang Justin. Keny sudah susah payah mengangkat koper hingga ke unit Apartement sahabatnya itu, bukannya ditawari minum ataupun istirahat walau sejenak, Justin justru memintanya untuk pergi segera.


"Setidaknya minum, Justin ... etikamu mana?"


Tidak ingin perdebatan itu berlangsung lama, Agny menjadi penengah dan segera berlalu ke dapur untuk menyediakan minum untuk Keny. Dia terpaksa turun tangan karena memang jika menunggu Justin dan Keny damai, sama sekali tidak akan ada habisnya.


"Susu ya, Agny."


"Tidak ada susu, kau tahu kami pergi berapa lama, Keny?" Ini adalah alasan kenapa Justin malas, biasanya seorang Keny akan begini. Konsep hidup dikasih hati minta jantung sudah melekat dalam diri pria berdarah campuran itu.


"Aku bercanda, kau sensitif sekali ... istrimu saja santai, ada masalah apa denganmu, Justin?"


Justin memang sedikit aneh, biasanya dia memang pemarah. Akan tetapi, setelah menikah dia lebih pemarah lagi, bahkan keny tidak bisa berucap seenaknya seperti dulu. Entah karena Justin sudah memiliki dunia baru, atau memang ada sesuatu yang salah dalam diri Justin, entahlah. Nampaknya, keny harus mencari tahu lebih jelas terkait sahabatnya ini.


"Entahlah, aku sedikit emosi akhi-akhir ini," jawab Justin kemudian duduk di sofa empuk itu.


Dari sorot matanya dia akan membicarakan hal serius pada Keny. Pria itu mengusap wajahnya kasar kemudian menghela napas perlahan, ada seustau yang benar-benar mengganggu batinnya setelah bulan madu.


"Kau kenapa sebenarnya? Ada masalah?"


"Arga mengusikku."


Justin mulai angkat bicara, Keny sontak membeliak kala kembali mendengar nama keramat itu. Tidak pernah dia duga jika kehidupan Justin yang mulai damai dan sejahtera kembali dikacaukan oleh pria yang dahulu sempat menjadi duri dalam pernikahannya.


"Ar-arga? Arga mana yang kau maksud? Apa Arga yang waktu itu?" tanya Keny memastikan dan dia memang butuh penjelasan secara khusus agar tidak salah paham.


"Ck, memangnya Arga ada berapa? Kau jangan membuat suasana hatiku semakin buruk, Ken."


"Mantan mertua Ev_"


"Itu Agra!!" sentak Justin tertahan karena dia tidak ingin sang istri ampai mendengar pembicaraan mereka ini,


"Oh iya lupa ... jadi benar Arga yang merebut Vanya darimu? Woah mau apa lagi dia?"

__ADS_1


"Entahlah, kenapa aku harus kembali melihat wajah badjingan itu," gerutu Justin kemudian memejamkan matanya, sebenarnya dia juga bingung sendiir kenapa harus dipertemukan dengan pria itu lagi.


"Kapan dan dimana kau bertemu dengannya, Just?"


"Sudah lama, ketika aku mengambil barang-barang istriku ... dan kau tahu, Arga adalah putra dari Sigit, tua bangka yang menjual istriku pada Edward."


Penjelasan Justin membuat mata Keny membola, demi apapun ini adalah fakta yang cukup membuat tenggorokannya kering dan harus segera disegarkan. Akan tetapi, sepertinya Agny masih cukup lama.


"Ini gila!! Jadi Agny ada hubungan keluarga dengan pengecut itu?"


Justin mengangguk, lagi dan lagi Keny terpaku. Dia yang mengetahui bagaimana sakitnya di posisi Justin kala itu hanya bisa menggeleng pelan begitu mengetahui Agny memiliki hubungan dengan musuh besar Justin.


"Ya, mau tidak mau itu fakta ... Sigit adalah adik kandung orangtua istriku, cih lucu sekali."


.


.


.


Beberapa tahun lalu, Justin pernah bersumpah akan membuat keluarga Arga menanggung akibat perbuatannya. Jika bukan Ibu Arga, maka adik perempuannya, tidak peduli kandung ataupun bukan yang jelas niat Justin untuk menghancurkannya sudah tertanam sejak lama.


"Dendam apanya, Ken."


"Kau lupa sumpahmu waktu itu? Sewaktu Arga merebut istrimu?"


Demi Tuhan, Ibu atau adik perempuannya harus membayar semua dosa yang dia berikan padaku.


Terbayang jelas di kepala Justin, dia menatap Keny yang tampak memancing ingatannya. Memang benar dia berkata demikian dihadapan Keny dan juga Evan, kalimat itu dia utarakan setelah Vanya memilih pergi dari Justin bersama Arga.


"Sdah ingat?"


"Lupa."


Justin menarik napas dalam-dalam dan dia tidak ingin membuat Keny kembali mengusiknya hingga menimbulkan rasa bersalah. Karena pada faktanya, Justin memang menghancurkan Agny bahkan membuat wanita itu kehilangan mahkota dengan cara curang semacam itu.

__ADS_1


"Hadeuh ... mana mungkin orang sepertimu bisa lupa, coba ingat-ingat lagi."


"Lupakan, Ken. Aku benar-benar gila sepertinya."


Pembicaraan mereka terhenti kala Agny mendekat dan memberikan minuman panas untuk keduanya. Paham jika sang suami sedang kurang fit, hingga Agny rela berkorban sedikit waktu untuk menyediakan teh panas itu.


Justin menatap wajah sang istri yang tampak serius kemudian tersenyum ke arah Keny sembari mempersilahkan pria itu meminumnya. Lebih menyebalkannya lagi, Keny justru membalas dan memuji teh yang Agny buat. Justin yang sejak tadi memang panas hanya membuang napas kasar dan meminta istrinya segera berlalu.


"Tunggu di kamar, awas saja kamu," bisik Justin namun tidak begitu Agny pedulikan, dia segera berlari dan meninggalkan kedua pria itu.


"Manisnya pas ... Sonya harus belajar dari Agny."


"Kau mau aku bunuh pakai tangan kanan atau tangan kiri, Keny?" tanya Justin spontan dan hal itu membuat Keny hampir tersedak teh panas yang cukup untuk menghangatkan tubuhnya.


"Kau kenapa lagi? Aku salah apa memangnya?"


"Salah apa, kau senyum-senyum pada istriku ... mau kuadukan Sonya?"


"Astaga!! Aku hanya membalas senyuman istrimu ... lagipula itu wajar, kecuali jika aku mencium bibirnya baru kau boleh mar_"


"KENY!!"


Teriakan kali ini berhasil membuat Keny memilih lari, teh panas yang Agny sediakan untuknya dia paksa masuk bahkan lidahnya mungkin terbakar. Wajah masam Justin mengerikan hingga membuat Keny segera menyelamatkan diri, "Kita lanjutkan saja kapan-kapan ... Tenangkan pikiranmu, aku akan sampaikan pada Evan."


BRAK


Suara pintu ditutup dengan tenaga dalam, jika Justin sudah marah biasanya Keny memang akan setakut itu. Sejak dahulu memang demikian, bahkan bisa dikatakan Justin adalah pelindung utama untuk mereka. Jadi, wajar saja jika Keny lari terbirit-birit jika tanduk Justin sudah keluar.


"Ya Tuhan, kenapa makhluk seperti dia dibiarkan hidup?"


.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2