
"Kembalikan."
Justin menggeleng, bahkan sengaja menduduki topi sang istri yang dia gunakan sebagai pelindung sejak tadi. Matanya sembab, artinya memang menangis. Dia bahkan meghindari tatapan Justin segera, memandangi jalanan lebih baik baginya.
"Kamu menangis?"
Sudah jelas dia menangis, tapi Justin masih bertanya. Namun, Agny masih memberikan respon dengan menggeleng pelan ketika Justin bertanya. Tanpa peduli bagaimana kemarahan istrinya, Justin melepas masker Agny dan itu menjawab semua pertanyaannya.
Agny begitu berbeda, bahkan tatapannya menusuk ulu hati Justin. Tidak pernah dia ditatap seperti itu sebelumnya, sekesal-kesalnya Agny dia masih menghargai. Kini, tampaknya semua itu hilang bahkan secara terang-terangan dia memilih pindah ke kursi yang lain.
"Ag ...."
Justin terpaksa berdiri, istrinya memilih duduk di tempat yang hanya cukup untuk dirinya seorang. Ingin dia tarik paksa, tapi di sini banyak orang yang melihat mereka. Siapapun pasti mengerti jika keduanya adalah pasangan suami istri.
"Aku bisa jelaskan, kamu tidak perlu marah dengan cara begini."
Justin tidak akan bertanya apa sebabnya, sejak tadi malam istrinya baik-baik saja. Semua berubah secepat itu ketika Justin tinggal pergi, jelas saja mata Agny sudah terbuka dengan fitnah yang terlanjur tersebar di media.
Meskipun saat ini fakta itu perlahan mulai berganti, akan tetapi belum seluruhnya membaik dan hujatan pada Agny masih tetap mengalir.
"Maaf, boleh kau pindah ke tempat lain? Aku ingin duduk di sebelah istriku."
Wanita dewasa yang kini duduk di sebelah Agny jelas saja berdecak sebal lantaran diusir tiba-tiba oleh Justin. Namun, sejenak ketampanan pria itu membuatnya tersihir dan menurut begitu saja ketika Justin memintanya beranjak.
__ADS_1
Baru saja Justin hendak duduk, Agny justru mencoba untuk berdiri dan hal itu jelas membuat kesabaran Justin seakan diuji. Pria itu mencekal tangannya dan memaksa sang istri untuk kembali duduk dengan sedikit kasar.
"Duduk, kamu tahu aku tidak sesabar itu, 'kan?"
Sorot tajam itu menatapnya, Agny mengalihkan pandangan segera. Kekecewaan membelenggu hatinya, dia marah dan ingin rasanya memberontak dengan apa yang dia ketahui tadi malam.
Agny memang penurut, tapi bukan berarti dia menerima semudah itu perlakuan Justin tanpa berpikir. Semua larangan yang dia terapkan berhari-hari hanya karena hal sepele jelas membuat Agny curiga.
Dilarang keluar, ponsel disita dan tidak bisa menonton televisi adalah hal yang sungguh-sungguh aneh. Hingga, ketika dia terbangun di malam hari Tuhan seakan mengizinkan Agny untuk mengetahui alasan sesungguhnya kenapa Justin melarangnya ini dan itu.
"Kamu berhak marah, tapi tidak seharusnya kabur-kaburan begini ... kita bisa selesaikan baik-baik, yang dirugikan di sini bukan hanya kamu, tapi aku juga."
Justin bicara lembut sekali, bukan hanya karena tidak ingin menyakiti hati sang istri, tapi dia juga berusaha menahan agar tidak diketahui orang-orang di sekelilingnya yang sejak tadi sudah mulai berbisik pelan. Mungkin saja hal itu terjadi, apalagi saat ini wajah Agny terlihat jelas akibat Justin dengan bodohnya melepas topi sang istri.
"Benar atau tidak?"
Beberapa menit memilih diam, Agny justru melontarkan pertanyaan yang membuat batin Justin berdesir. Apalagi ketika sang istri menoleh dan melayangkan tatapan tajam ke arahnya, istrinya semenakutkan itu jika sedang marah.
"Tidak, kamu sudah membaca berita terb_"
"Terbaru? Dengan kak Arga yang ada di sana? Berapa kamu bayar dia untuk membersihkan namamu."
Justin mengerjapkan matanya tak percaya, istrinya memang tidak semudah itu dibohongi sepertinya. Mata keduanya sesaat terkunci, Justin tidak mampu berkata-kata untuk menjawab sang istri beberapa waktu.
__ADS_1
"20 juta? 50 juta? 200 atau 500 juta? Tapi sepertinya lebih mahal dari itu ya, 1M mungkin masuk akal untuk membayar nyawa kak Arga."
Tepat, pendapat Agny tidak salah. Tanpa Justin ketahui, sang istri memang sudah mengetahui segala sesuatu yang diliput media, bahkan dia menyempatkan diri untuk memastikan kematian Arga ke rumahnya. Hanya saja, dia yang masih memiliki ketakutan pada Sigit memilih untuk tidak memperlihatkan diri tadi pagi.
"Apa memang begini cara hidup orang-orang kaya seperti kalian? Demi membuat namamu bersih, nyawa seakan tidak ada harganya."
Agny bukan wanita bodoh, apa yang dia ketahui membuat Agny mengambil kesimpulan sendiri. Dia sempat bertemu Vanya beberapa tahun lalu, ketika masih SMA dan Arga masih berperan sebagai kakak yang baik untuknya. Sebagai teman dekat Arga, hanya itu tidak lebih.
Semalam, dia membaca isu miring yang menyeret nama suaminya. Terlalu sulit untuk Agny bantah jika pengakuan Arga memang paksaan suaminya, apalagi ketika dia mengetahui kematian Arga tadi pagi.
"Kita bicarakan di tempat lain saja."
Justin tidak mungkin membahas hal ini di dalam bus. Jika sampai dia mengatakan yang sejujurnya, maka kemungkinan besar akan terdengar oleh banyak orang tentu saja. "Aku tidak mau, tujuanku belum sampai."
"Terserah."
Tanpa pikir panjang, Justin menarik sang istri keluar dari bus meski belum tiba ke tempat tujuannya. Agny berusaha menghempas tangan Justin. Namun, sayang sekali tampaknya Justin memilih cara keras hingga tidak membiarkan istrinya lepas begitu saja.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1