Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 43 - Tidak Perlu!! (Justin)


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang perkara jaket yang ingin Justin berikan padanya, kini keduanya sudah berada di perjalanan menuju rumah paman Agny. Tentu saja mereka menyempatkan makan malam lebih dahulu karena Justin khawatir Agny akan terlalu lapar jika menunggu pulang nanti.


Perjalanan yang cukup menyenangkan, Agny menatap kelluar dengan wajah sumringah seraya menikmati angin dari luar jendela. Justin yang mulai merasa terusik dengan hembusan angin malam tersebut segera menutup jendela mobil padahal wajah Agny bahkan sengaja sedikit keluar lantaran dia merasa butuh disapa angin segar itu.


"Ck, kok ditutup?"


"Dingin, nanti kamu masuk angin," ujar Justin sebenarnya dia juga khawatir tentang kesehatannya sendiri, ini adalah kali ketiga Agny membantahnya.


Beberapa saat memang dia menurut, akan tetapi sepuluh menit kemudian jemari Agny kembali berulah pelan dan dia kembali bisa menikmati dinginnya angin malam ini. Akan tetapi, ini adalah kali terakhir dan bagi Justin tidak ada kata ampun hingga dia menarik paksa tubuh Agny agar terbaring di pangkuannya.


Brugh


"Aaww, kenapa harus gini? Aku tidak nyaman."


"Kamu pembangkang, sudah kukatakan jangan buka masih saja ... diam di sini," titah Justin menepuk pelan pundaknya seakan itu bukan sebuah pelampiasan amarah melainkan cara Justin membuatnya tertidur.


Agny dengan segala pikiran buruknya mengira jika Justin tengah berusaha membuatnya melakukan hal gila selama Justin mengemudia. Sontak saja wanita itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan dan itu Justin sadari tentu saja.


"Kamu kenapa? Mual ya?"


Walau pikiran Agny sudah seburuk itu, Justin masih berpikir jika wanita itu kenapa-kenapa akibat ulahnya. Terlebih lagi ketika Agny mengangguk, sontak dia melepaskan Agny dan membiarkan wanita itu duduk dengan posisi sebenarnya.

__ADS_1


"Masih lama?"


"Jalan saja terus, nanti belok diri diperempatan jalan ... jalan terus, belok kanan terus kanan lagi nah diujung baru belok kiri, setelah it_"


"Stop, sekiranya masih sepanjang itu tidak perlu kamu jelaskan sekarang, Sayang."


Justin terkekeh dan menganggap jika wanita ini selain tidak penurut dan sedikit menyebalkan, akan tetapi sedikit menguji kesabaran juga. Jika masih serumit itu seharusnya Agny cukup menjawab satu kalimat saja terkait kebenaran masih jauh atau tidaknya.


"Siapa tahu butuh sekarang, maksudnya biar tidak kerja dua kali," ucapnya sama persis seperti sendok tadi pagi, padahal cara kerja dia sendiri yang dua kali dan dapat dikatakan ribet.


"Nanti," jawab Jusrin masih berusaha menahan sabarnya karena sejak dahulu dia sudah terbiasa.


Sepanjang perjalanan hati Agny sebenarnya tidak tenang sama sekali. Semakin dekat jarak mereka pada tujuan, hati Agny kian gugup dan khawatir jika pria pemabuk itu ada di rumah dan meminta hal macam-macam dari Justin.


"Om kamu kaya, kenapa bisa dia men_"


"Men apa? Menjualku?"


Benar, itu maksud Justin. Bagaimana dia tidak terkejut, rumah paman Agny cukup mewah dan alangkah tidak punya harga dirinya sampai menjadikan Agny oenghasil uang, bahkan berapapun yang Agny dapatkan tetap mereka embat juga.


"Bisa saja, ini rumah Papa dulunya ... tapi, kata mereka sekalipun rumah ini jatuh ke tangan mereka, hutang Papa tidak akan cukup makanya aku yang harus tanggung sisanya," ucap Agny tersenyum getir dan ini adalah kali pertama Justin sampai bungkam mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Sudah, jangan pikirkan ... aku turun dulu, Om tunggu di sini ya," ujar Agny, namun secepat mungkin Justin mencekal tangannya dan dia meggeleng kemudian, demi Tuhan Justin tidak rela jika orang-orang di depannya itu melihat Agny seenaknya.


"Aku ikut."


Agny hanya mengangguk, dan pria itu turun lebih dulu. Baru saja kakinya turun satu, mata orang-orang itu sudah tertuju padanya. Hanya saja, Justin memilih tidak peduli dan dia segera membukakan pintu untuk Agny.


Agny adalah miliknya, pria tua itu juga sudah mengetahui siapa Justin dari Edward hingga dia hanya memilih menatap seraya bersedekap dada ketika melihat Justin dan Agny kian dekat, ketika mereka hendak menginjak teras barulah dia beranjak.


"Ada apa, Tuan Justin? Apa anak itu mengecewakan sampai dikembalikan?"


"Kau tahu siapa aku? Baguslah," ungkap Justin lebih berani ketika pria itu mengutarakan sebuah pertanyaan tersebut. Jika benar dia tahu siapa Justin, maka itu adalah hal bagus dan Justin tidak perlu menjelaskan panjang lebar seakan hendak melamar seorang gadis pada orang tuanya.


"Ah iya, Edward cerita banyak tentang Anda ... senang mengenalmu, aku masih punya yang baru jika kau merasa bosan dengan mainanmu yang ini," ucap pria itu tanpa rasa bersalah dan sontak saja Agny mengepalkan tangannya.


"Tidak, ini sudah lebih dari cukup ... satu saja tidak habis-habis, oh iya apa kami boleh masuk sebentar? Agny ingin mengambil barang-barangnya." Justin berbicara padanya seakan benar-benar sosok pembeli pada penjual, tanpa pikir panjang pria itu memberikan izin dan tidak banyak protes. Jelas saja demikian, dia mendapat banyak uang dari Edward yang diketahui berawal dari Justin.


.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


Yuhu ... aku up langsung dua, karena mau aku atur satu ini di jam 12 tanggung kan ya. Aku ada perjalanan dan kemungkinan sampainya sore, Insya Allah up banyak tapi part tambahan nyusul sore ya. Tapi, asli ramein dulu kolom komennya karena penulisnya merasa kesepian weh.


__ADS_2