
Cukup lama Justin pandangi Renaga yang tengah tertidur pulas, selama ini dia sendirian. Hidup berantakan dan berpikir tidak punya masa depan. Tanpa dia ketahui, putranya tumbuh dalam dekapan orang yang salah. Perasaan bersalah itu kembali mencekam tubuh Justin, bagaimana membayangkan anaknya tidur di tempat yang tidak nyaman itu.
Justin buang-buang uang, sementara putranya mungkin kesulitan. Entah bagaimana nutrisi yang mampu Vanya berikan, pakaian serta mainan dan lainnya.
Terlalu peduli dengan anak kedua sahabatnya, bahkan rela sakit pinggang demi mengejar Zavia dan Giska. Nyatanya, ada sosok malaikat kecil yang sama sekali tidak mendapatkan haknya.
Tidak hanya setelah lahir, tapi juga sewaktu masih dalam kandungan. Justin rela mencari sesuatu yang tidak ada untuk Mikhayla karena Keyvan kesulitan menuruti kemauan istrinya. Sementara ketika Renaga dikandung? Demi Tuhan, Justin bahkan tidak percaya jika Arga pernah membelikan susu hamil untuk Vanya.
Dada Justin sesak, dia membenci Arga, Vanya dan juga dirinya sendiri. Kesalahannya terlalu besar pada Renaga, jadi tidak salah jika putranya selalu marah. Justin memejamkan matanya, dia bukan pria cengeng, tapi untuk kali ini dia menangis.
Lebih menyakitkan lagi, Justin yang selalu menginginkan tes DNA padahal secara kasat mata sudah jelas Renaga adalah putranya. Sungguh keterlaluan, seorang Agny saja menerima dengan tulus dan yakin Renaga adalah putranya. Lantas, kenapa dia ragu dengan status Renaga.
"Cih, kenapa aku menyedihkan begini."
Justin berdecih dan mengusap kasar air matanya. Dia lemah sekali, padahal Justin paling tidak suka siapapun menangis, tanpa dia sadari sepasang mata bulat itu tengah menatapnya hingga Justin salah tingkah.
"Ehm Mommy?"
Renaga melihat ke arah lainnya, mungkin dia berharap ada Vanya di sini. Akan tetapi, sayang sekali hanya ada Justin di sini. Dia kembali terlihat takut, Renaga beranjak bangun dan menggosok matanya berkali-kali.
"Daddy ganggu, Aga?"
Justin bertanya selembut itu, sejak kemarin Agny sudah mengajarinya cara memperlakukan Renaga bagaimana. Dia menguap seraya menggaruk kepalanya, rambut acak-acakan itu terlihat menggemaskan.
"Kenapa, Sayang? Panas atau Aga haus?" tanya Justin mendekat, dia mengusap pelan wajah anak itu. Tidak ada penolakan dan dia terlihat lebih tenang kali ini.
__ADS_1
"Dingin, Daddy."
Justin tersenyum, ini kali pertama Renaga memanggilnya begitu. Entah bagaimana Agny mengajarinya hingga anak ini melunak, Justin meraih baju tidur Ranaga yang ada di sisi tempat tidur.
"Kalau tidur jangan lepas baju, nanti masuk angin bagaimana?"
Dia tidak menjawab, tampaknya memang dingin. Justin mencoba untuk mendekapnya, sedikit gugup, tapi ternyata dia berhasil dan Renaga tidak menolak. "Tidurlah," ucap Justin mengusap pelan punggungnya, terdengar jelas Renaga menghela napas panjang.
"Mommy dimana?" tanya Renaga kemudian setelah beberapa saat dia terdiam dalam pelukan Justin.
"Di rumah sakit ... Aga lihat sendiri Mommy sakit, 'kan?"
Interaksi pertama yang sedikit manusiawi, mungkin pengaruh Zumba bersama Agny dan sikap Justin yang begitu lembut kali ini.
"Ehm, tidak." Justin memang seadanya, sekalipun itu anak kecil dia tetap akan berkata jujur.
"Kenapa, Daddy?"
"Mommy Agny ada di sini, Daddy tidak bisa tinggal bersama dua Mommy, Sayang."
Renaga mendongak, matanya tidak terlihat penuh dendam lagi. Keduanya saling menatap hingga Renaga memeluk Justin tanpa terduga.
"Daddy Aga dua, Mommy Aga dua juga ... jadi banyak," ungkapnya benar-benar membuat Justin seakan menidurkan anak kecil yang lain, ini bukan Renaga yang kemarin.
"Daddy Aga hanya satu, Mommy-nya boleh deh dua," ujar Justin kemudian mencubit hidung putranya, andai dari kemarin begini mungkin kesabaran Justin tidak akan terkuras.
__ADS_1
"Iyah, Daddy Aga satu. Daddy yang ini tidak jahat dan tidak suka pukul Aga."
Arga binattang!!
Hati Justin panas begitu mendengar penurutan putranya. Dia mulai membuka diri dalam pelukan Justin dengan kalimat-kalimat manisnya.
"Aga pernah dipukul?"
"Ha'ah, Daddy tidak suka sama Aga ... kata Daddy yang itu kalau Aga nakal mau dibuang ke kandang harimau, Daddy."
Memang anjink!! Percayalah, saat ini sekalipun Justin tampak tenang jiwanya panas dan ingin sekali menghajar Arga. Sayang sekali pria itu tidak dia siksa lebih dulu.
"Tapi Daddy yang itu sudah meninggal, Aga happy sekali, Daddy."
"Kamu happy?"
"Iya, Aga sama Mommy tidak dimarah lagi yeay!!" Dia bertepuk tangan menceritakan kematian Arga, sontak hal itu membuat perut Justin tergelitik. Ini terlalu lucu, apa yang mereka rasakan sama dan memang bahagia dengan kematian Arga.
"Bagus Renaga, tertawalah atas kematian orang-orang yang menyakitimu."
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1