
Untuk sementara waktu, Justin membawa Renaga bersamanya. Dengan atau tanpa izin Vanya, dia tidak peduli. Justin hanya ingin melindungi Renaga, terbukti dengan dia yang memilih membayar seseorang untuk menjaga Vanya di rumah sakit.
Dia tidak ingin istrinya terluka, mau bagaimanapun Vanya adalah masa lalunya. Ya, walaupun saat ini Agny terlihat dewasa, akan tetapi tetap saja wanita itu pernah marah tidak jelas pada Justin hanya karena mengingat masa lalu Justin.
Satu minggu berlalu, Justin sudah mulai masuk kerja. Pagi-pagi begini Keny sudah cari masalah. Entah apa tujuannya hingga nekat sekali membuat Justin malu seakan tidak punya harga diri. Wibawanya sebagai Direktur di sini hancur dalam sekejab.
"Kau cari mati, Ken? Kau tidak tahu kepalaku hampir meledak dengan semua masalah yang menimpaku saat ini?!" teriak Justin marah sekali, dia benar-benar tidak habis pikir kenapa bisa Keny menjatuhkan martabatnya hingga ke mata kaki.
"Hei, aku mengerti ... maka dari itu aku menyemangatimu, Just."
Justin memejamkan matanya, Keyvan tampak tenang saja. Dia yakin semua ini juga atas izin Keyvan, kedua sahabatnya ini memang kerap kali tidak menggunakan otak dalam bertindak, melainkan dengkul.
"Menyemangati? Kau mempermalukanku, Badjingan!!"
Kesabaran Justin benar-benar diuji. Ya Tuhan, kenapa manusia seperti Keny masih hidup. Sungguh dia memijat pangkal hidungnya saat ini, dimana lagi harga diri Justin kala semua bawahannya mengetahui kejadian menyebalkan yang Justin alami satu minggu lalu.
Tepat, kejadian ketika dia dianggap pengemis lantaran duduk di trotoar dengan piyama putih dan keadaan persis gelandangan itu. Meski wajahnya masih terlihat tampan tetap saja Justin malu lantaran reklame ukuran besar itu berdiri gagah di depan gedung perusahaan dan beberapa poster kecil di sepanjang jalan.
Lebih memalukan lagi, ucapan semangat di papan reklame itu membuat Justin ingin membantai Keny secepatnya. - Semangat Justin bibir, hidup memang tidak pernah lari dari masalah ... we love you - Hal paling konyol yang tidak akan pernah Justin terima lagi sekalipun dalam mimpi.
__ADS_1
Ide semacam ini memang kerap Keny gunakan. Mereka biasanya bergantian, tapi tidak dengan keadaan gembel seperti itu. Hari ini mungkin hari terburuk bagi Justin selama bekerja di kantor Keyvan, demi apapun dia sebal sekali.
"Sudahlah, Justin ... hal begitu saja jadi masalah, sekarang ayo jelaskan kenapa bisa isu miring tentangmu itu jadi kenyataan," tutur Keny tidak peduli seberapa kesalnya Justin sekarang.
Dia telanjur penasaran, Justin tidak segera bicara kemarin-kemarin. Hanya saja, dia mengirimkan foto Renaga yang tengah tertidur pulas di kamarnya. Pengenalan singkat, Justin hanya menyebutkan nama dan mengatakan anak kecil itu adalah putranya.
"Aku tidak menelantarkannya, Ken, jaga bicaramu," Justin tidak terima dengan ucapan sahabatnya, sungguh demi apapun sama sekali tidak ada niat Justin menelantarkan putranya.
"Justin benar, Ken. Memang Vanya saja yang bodoh," sahut Keyvan yang langsung mengambil langkah sebagai penengah untuk mereka.
Jika diteruskan biasanya akan berakhir degan pertengkaran sengit di antara keduanya. Memang Keny kebiasaan, disaat temannya tengah dilanda sakit kepala, pria itu akan menambah bebannya.
"Bukan bodoh, Van ... mungkin saja malu atau bagaimana, kita tidak tahu apa yang Vanya rasakan sampai dia memilih diam padahal mengandung anak Justin," ungkap pria itu sok bijaksana dan membuat Keyvan serta Justin saling menatap.
"Tidak, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Coba kau pikir kenapa dia sampai begitu jika bukan karena malu? Selama ini kau sendiri, dan Vanya tidak pernah mengusikmu walau sudah melahirkan anakmu," ungkap Keny lagi-lagi membuat Justin ingin muntah rasanya.
"Masuk akal, Just. Aku sependapat dengan Keny kalau begitu," ucap Keyvan kembali menambah kekesalan Justin lantaran kali ini mereka berdua sama gilanya.
"Ah berhenti membahas wanita itu, yang penting saat ini Renaga sudah jelas anakku ... walau sebenarnya terlambat," ungkap Justin kembali terlihat menyesal dan dia bersandar lemah di sofa empuk itu.
__ADS_1
"Tidak, Just, semua ini bukan salahmu ... Jadi tidak perlu disesali," ucap Keyvan lebih dulu menenangkan Justin karena jika Keny yang ambil alih, kemungkinan besar dia akan melontarkan kalimat-kalimat yang akan membuat batin Justin semakin tertekan.
"Oh iya, aku jadi penasaran sama satu hal."
"Apa?"
Justin dan Keyvan menjawab secara bersamaan dan menatap ke arah Keny. Wajah pria itu terlihat serius dan berpikir ada yang penting dalam dan harus disampaikan pada mereka.
"Evan dan Vanya, sama-sama Van panggilannya. Apa jangan-jangan dia adik kembarmu?"
"Ini dia kalau ari-arinya dibakar pas lahir, otaknya ikut hangus." Keyvan berdecak kesal usai mendengar pertanyaan konyol Keny, sama sekali tidak penting dan menyia-nyiakan fungsi telinganya.
Sementara Keny yang kini masih diam terus berpikir, pertanyaan itu serius dia utarakan karena baru menyadari hal itu. Tidak hanya Keyvan yang kesal, Justin juga sama hingga pria itu memilih berlalu dan kembali meneruskan pekerjaannya.
Pria itu belajar untuk menjadi sosok ayah, meski sangat terkejut karena putranya sudah sebesar itu, akan tetapi Agny selalu mengatakan untuk menerimanya sepenuh hati.
Tidak ada Renaga yang lucu seperti Zavia, tidak akan ada gelak tawa dan Justin tidak menjadi saksi giginya tumbuh pertama kali seperti Giska. Justin terlambat, sangat-sangat terlambat. Akan tetapi, seperti yang Vanya katakan, semua kesalahan ada padanya hingga Renaga harus merasakan neraka selama bertahun-tahun.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -