
Kehidupan Agny dan Justin benar-benar semakin sempurna. Justin memutuskan untuk meneruskan perusahaan keluarganya. Yah, tidak dapat dipungkiri, dia juga harus mengutamakan keluarganya saat ini.
Akan tetapi, demi tetap menjaga persahatannya, Justin memutuskan tetap berada di Indonesia. Pria itu meneruskan Jtc Inc, perusahaan yang bergerak di industri elektronik dunia yang merupakan warisan keluarganya yang kini berpindah pusat ke dalam negeri.
Status Justin yang kini bukan lagi direktur perusahaan Keyvan, semakin membuat Sonya menjadi garda terdepan sebagai pendukung Giska untuk menjadi wanita pilihan Renaga di masa depan. Hal paling menyebalkan yang dari dahulu Renaga tidak suka, terlebih lagi saat ini usianya sudah 16 tahun dan mulai mengerti maksud pembicaraan Sonya.
"Mommy please!! Aku tidak suka dia masuk ke kamarku."
Sore itu terdengar jeritan Giska yang memaksa masuk ke dalam kamar Renaga. Giska bukan lagi balita, usianya sudah hampir tiga belas tahun dan jelas saja Renaga tidak akan bersikap lembut.
"Aga, jangan marah-marah begitu ... dia adik kamu juga loh."
Begitulah seorang Agny yang selalu menerima dengan baik siapapun ke rumahnya. Akan tetapi, berbeda dengan Agny, anak itu justru merasa kehadiran nereka hanya membuat ketenangannya terganggu.
"Adikku hanya Cia, Mommy."
Meski tidak protes di panggil kakak oleh siappaun, bagi Renaga, adiknya hanya Cia seorang. Dia berkacak pinggang menatap Giska dengan tatapan permusuhan, entah kenapa anak ini terus mengganggu kehidupannya.
"It,s okay ... Giska memang bukan adiknya kak Aga, tapi Giska bidadarinya Kak Aga."
Lihat, menyebalkan bukan? Saat ini Renaga tengah melayangkan tatapan permusuhan padanya. Namun, bukannya sadar diri, Giska justru menjawab dengan santainya.
Dia ingin mendorong Giska keluar, tapi Agny menggeleng pelan hingga Renaga tidak bisa melakukan apa-apa. Matanya menatap tajam gadis kecil dengan rambut terurai sebahu itu, entah sampai kapan anak itu menjadi beban hidupnya.
"Jangan sentuh apapun."
Tidak mengapa, Giska hanya tersenyum mendengar bentakan Renaga. Meski dia harus dimaki Renaga lagi, tapi setidaknya dia tetap diizinkan masuk ke kamar pangerannya.
"Okay ... Aku duduk di lantai saja."
__ADS_1
Tanpa Renaga tanya tujuannya datang sore ini untuk apa, Giska lebih dulu mengeluarkan buku matematika dari tasnya. Dia yang bodoh sangat mencintai pelajaran matematika dengan alasan bisa mendapat perhatian Renaga.
"Kursi, aku tidak mau Daddy marah hanya karena kamu masuk angin."
Tanpa perlu menunggu lama, Giska menurut begitu saja kala Renaga memintanya duduk. Sadar betul bahwa dia tidak akan bisa bermain game setelah kehadiran Giska, yah sejak anak itu masuk SMP, beban Renaga justru ikut bertambah.
"Hari ini Giska dihukum, Kak ... Soalnya susah, tapi Giska catat rumusnya ... Giska juga pinjam buku Zavia."
Tidak peduli seberapa datar ekspresi Renaga, Giska tetap berceloteh hingga pada akhirnya berhenti sendiri dan sadar Renaga sama sekali tidak peduli. Tatapan tajam Renaga membuatnya menunduk, bukan takut, melainkan malu lantaran ditatap sosok yang selalu dia impikan sebagai pasangan ketika dewasa.
"Coba lihat buku catatannya."
Dari sekian banyak cerita Giska, hanya buku Zavia yang menarik perhatian Renaga. Terlalu cepat sebenarnya untuk gadis seusia Giska merasakan cemburu, akan tetapi ada secebis rasa sesal dia membawa nama Zavia sore ini.
"Mana? Aku ingin lihat."
Mau tidak mau, Giska memberikann buku catatan Zavia. Sahabat, sekaligus satu-satunya gadis yang membuat Giska merasa tidak berguna hidup di dunia, termasuk di hadapan Renaga.
Dia hanya terdiam, memberikan waktu untuk Renaga memandangi buku itu. Dimanapun memang hanya Zavia pemenangnya, bahkan di sisi Renaga sekalipun Giska benar-benar kalah telak.
"Mana PR-nya?"
Renaga kembali seperti sebelumnya usai menuutp buku catatan zavia. Dia beralih pada Giska yang sejak tadi memandanginya dalam diam.
"Giska."
"Ah? Apa, Kak?"
"PR mu yang mana, jangan lama ... jam lima aku mau keluar," ujarnya yang membuat Gisa sontak melirik ke arah jam digital di meja belajar Renaga, hanya tersisa satu jam lagi.
__ADS_1
"Ini, Kak."
"What? Sebanyak ini?"
Belum apa-apa, Renaga sudah mengeluh dan dia merasa Giska tengah memanfaatkannya. 85 soal, dan demi apapun akan terasa sulit jika jika harus dikerjakan dalam waktu sesingkat ini.
"Iya, bantuin ya."
"Oh my god ... Giska, I hate you!!"
Renaga menghembuskan napas kasar, sejak dahulu gadis ini selalu merepotkan. Bahkan tidak jarang dia membuat jiwa Renaga seakan hampir meledak. Akan tetapi, sekalipun Giska menyebalkan setinggi langit, tetap saja Renaga tidak mampu menolak permintaannya.
"Hihihi kata Papa, kalau orang bilang i hate you, itu tandanya dia sayang ... Kak renaga sayang Giska berarti?"
"Sayang?"
"Iya, Sayang, kenapa?" sahut Giska sembari tersenyum yang membuat Renaga menyerah pada akhirnya.
Renaga tidak ingin berdebat, karena kemungkinan besar gadis ini akan besar kepala. Gadis centil ini memang kerap kali membuat kepala Renaga sakit, akan tetapi jika dia usir khawatir justru tidur di jalanan seperti waktu itu.
"Kak Aga marah ya?"
"Diam, Giska ... aku sedang berpikir."
"Mikirin apa, Kak? Soal ucapanku tadi ya? Jangan, Kak kita masih kec_"
"Aku sedang berpikir bagaimana cara membunuhmu tanpa ketahuan Daddy-ku," balas Renaga yang berhasil membuat Giska bungkam.
.
__ADS_1
.
Jan lupa komen❤