Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 50 - Kesalahan Pertama


__ADS_3

"Katakan sekali lagi, aku ingin dengar lebih jelas," titah Justin masih dengan posisinya membelakangi Agny sementara wanita itu memeluknya semakin erat seakan takut malam ini kembali Justin tinggalkan.


"Aku ingin jadi istrimu, Justin Anderson."


Pria itu berdebar, tidak dapat dia pungkiri anak kecil itu mampu membuat jantung Justin sama sekali tidak aman. Sungguh, ini kali pertama seorang wanita mengutarakan niatnya hingga membuat pertahanan Justin seakan luluh seketika.


Secepat mungkin dia berbalik, Justin menatap lekat sepasang mata bulat yang kini tengah mengu-lum senyumnya. Ya, mungkin masih malu namun ini adalah hal paling nekat yang pernah Agny lakukan. Bukan hanya mngungkapkan cintanya pada pria dewasa, akan tetapi naik satu tingkat yang mana bersedia menjadi istrinya.


"Aku pasti sudah gila."


Justin khawatir ini hanya ilusi, pria itu menggeleng pelan dan menepuk kepalanya lantaran menduga bahwa ini adalah imajinasinya. Akam tetapi, Agny yang justru menjentikkan jemari di hadapannya membuat Justin yakin jika dia tidak sedang berkhayal.


"Om?"


"Om Justin ... kenapa?"


"Kamu sedang bercanda?"


"Tidak, sejak awal aku memang tidak pernah menolak ... cuma minta waktu untuk berpikir kemarin tapi sekarang sudah selesai pikir-pikirnya."


Tepatnya terpaksa terhenti karena ketakutan Agny dicampakkan pria itu semakin membuncah saja. Andai saja Justin tidak hendak pergi keluar malam ini, mungkin Agny tidak akan nekat mengutatakan kalimat penahan paling ampuh untuk Justin.


"Dan soal cinta, sepertinya aku sudah merasakannya ... walau aku tidak tahu persis ini cinta atau bukan."


Agny memberanikan diri untuk mendongak dan menatap wajah pria itu. Dia berdebar setiap bertemu mata itu, mata indah Justin yang sempat membuatnya terpeleset setelah membantu Justin naik dari selokan kala itu.


"Tunjukkan jika memang sudah cinta."


Itu adalah permintaan, Justin meminta wanita itu melakukan hal yang masih terkesan membingungkan bagi Agny. Akan tetapi, pria itu tidak mengalihkan pandangan sementara wajah Agny sudah bersemu merah.


"Bagaimana caranya? Cium atau bagaimana? Papa mencintai Mama tapi tidak begitu caranya ... apa ajak buat anak langsung saja ya?"


"Ayo tunjukkan, kalau kamu tetap diam artinya rag_"

__ADS_1


Tanpa Justin duga, secepat itu Agny mengalungkan tangan di lehernya dan mengecup bibir Justin setulus itu. Ini adalah kali pertama Agny berinisiatif melakukannya lebih dulu, biasanya dia hanya menunggu keagresifan Justin semata.


Beberapa saat menunggu, Justin kembali dibuat terpana kala Agny melummat bibirnya rakus seakan penuh tuntutan untuk segera dia penuhi. Wanita itu menjelma menjadi penggoda padahal Justin hanya meminta diperlihatkan sedikit, bukan meminta dia melakukan hal semacam ini.


Dia adalah pria dewasa yang normal tentu saja. Justin jelas menggila pasca Agny kian melummat bibirnya sebegitu hangat, tidak butuh diminta Justin membalas lummatan itu hingga keduanya menjadi saling melepaskan kasih sayang hingga Agny sesak pada akhirnya.


Seakan berpisah lama, Justin membopong tubuh Agny begitu lembut dan merebahkannya di tempat tidur. Mereka saling menatap dan untuk pertama kalinya Agny melakukannya penuh perasaan, tidak hanya sekadar menerima tapi juga membalas serangan Justin.


Akan tetapi, ketika semua terlanjur basah Justin tiba-tiba menghentikan aksinya dan membuat Agny yang pasrah dalam kungkungannya menatap bingung. Apa mungkin salah, atau mungkin Justin meminta hal yang berbeda hingga pria itu memilih berhenti.


"Kenapa? Masih ragu? Aku tidak bercanda, aku benar-benar bersedia jadi istrimu, sungguh."


Agny bangun dan menatap Justin panik kala pria itu hendak beranjak dari tempat tidur. Keduanya sudah dalam keadaan polos, tidak pernah sekalipun Justin mempermainkan perasaan Agny begini. Wanita itu menahan pergelangan tangan Justin karena memang bayang-bayang ketakutan pria itu masih akan meninggalkannya terus saja menghampiri.


"Bau gosong, kamu ada sesuatu yang di masak?"


Justin medengkus memastikan bau yang dia perkirakan berasal dari dapur. Pintu kamar tidak tertutup sempurna hingga dia dapat menyadari dengan cepat dan tidak berselang lama, keduanya saling menatap dan Agny berteriak seketika.


"Ya Tuhan!! Aku rebus telur, astaga kenapa bis_"


Keduanya tergesa mengenakan pakaian masing-masing, Justin yang tidak punya waktu hanya mengenakan underwear sebagai pelindung aset pribadinya. Sementara Agny juga demikian bahkan dia tidak mengenakan bra dari balik piyamanya itu.


"Kenapa bisa lupa?"


"Ays aku tidak tahu, Om sih diam saja ... kan tadi aku bilang pas mau rebusnya, harusnya ingetin aku lah."


Yang salah siapa yang disalahkan siapa, Justin menatap sebal wanita yang kini menyalahkannya. Agny berlari ke arah kompor dan mematikannya segera, malang sekali nasib panci Justin yang kini menghitam bersamaan dengan telur yang sudah berubah jadi telur bakar.


Belum jadi istri sudah merusak panci, akan tetapi tidak masalah karena Justin sama sekali tidak merasa keberatan. Pria itu tidak akan marah meski sebenarnya sedikit sebal lantaran wanita itu hampir saja membuat apartementnya terbakar.


"Yah, om cobain masih bisa dimakan tidak?"


"Kamu gila ya? Sudah hitam begitu, buang saja."

__ADS_1


Bukannya meminta maaf karena sudah merusak parabot Justin, dia justru meminta calon suaminya ini mencoba telur bakar yang sama sekali tidak bisa diselamatkan itu.


"Om marah ya?"


"Ck, tidak ... sudah biarkan saja, kita teruskan saja yang tadi."


"Apa masih naffsu?"


"Ya masihlah, kamu tidak lihat sejak tadi dia tidak tidur ... cepat, Agny." Agny menatap ke bawah perut Justin, wajahnya memerah kala melihat sesuatu menyembul di dalam sana. Jelas saja berdiri tegak, malam ini adalah kali pertama Agny berani memainkannya dengan bebas hingga Justin dibuat lupa hendak kemana dia malam ini.


.


.


.


Sementara di sisi lain, malam ini Keny dan Keyvan dibuat terkantuk-kantuk lantaran menunggu pria sialan yang meminta ditemani malam ini. Justin Anderson tampaknya menipu mereka semudah itu, Keny mengusap wajahnya kasar sembari menikmati secangkir kopinya.


"Ck, dia jadi tidak sebenarnya?"


"Entahlah, tadi dia bilang sedang ganti baju, Ken ... mungkin tidak lama lagi."


"Ays, menyesal aku percaya ... tahu begini mending tidur, hampir satu jam kita di sini sementara tempat tinggalnya ada di depan sana, tidak logis sekali."


"Sabar, Ken ... kita maklumi saja, lagipula daripada dia ke club malam lebih baik begini, dengan dia yang minta waktu untuk bertiga artinya niat dia menjaga diri untuk Agny memang sudah sebesar itu."


Mau bagaimanapun pendapat Keyvan, entah kenapa sama sekali Keny tidak berpikir demikian. Dia sangat yakin seorang Justin tentu sedang menikmati kebahagiaannya hingga lupa diri, hendak nekat masuk ke apartement Justin juga percuma karena passcode pria itu sengaja dia ganti hingga Keny tidak bisa asal masuk seperti dahulu.


Ck, Evan kenapa percaya sekali ... dia lupa sedang berurusan dengan siapa atau bagaimana?


- To Be Continue -


1000 kata, bisakah tembus 1000 like dan 100 komen sebelum aku up selanjutnya? Tolong tinggalkan jejaknya, males komen seenggaknya like, Cintaku. Tolong yakinkan aku kalau masih banyak yang nunggu Justin 😖

__ADS_1


Sementara Up, mampir dulu ke karya temenku ya❤



__ADS_2