Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 84 - Dejavu


__ADS_3

"Sayang."


"Agny kamu dimana?"


Justin memijat pangkal hidungnya, sakit dan kantuk masih begitu terasa. Pria itu menuju dapur, tapi tidak ada tanda-tanda istrinya di sana. Bukan hanya tidak ada Agny, melainkan makanannya juga. Istrinya tidak masak, sekalipun di kulkas masih banyak bahan makanan.


"Ck, kemana dia? Tidak mungkin olahraga."


Agny tidak serajin itu, lagipula ini sudah terlalu siang untuk kategori lari pagi. Jelas saja pria itu bingung kemana sang istri, Justin berpindah ke ruangan lain untuk memastikan istrinya tetap ada di sini.


Namun, semua ruangan sudah Justin jelajahi tidak ada istrinya di sana. Tanpa pikir panjang, Justin keluar meski hanya dengan piyama dan rambut bak singa liar itu. Otak justin sudah mulai meraba-raba, jantungnya berdegup tak karuan dan mulai menduga yang tidak-tidak.


"Bodohnya kau, Justin."


Kenapa dia bisa terkecoh dengan keadaan setenang tadi malam. Sembari terus melangkah Justin mencoba menghubungi Agny, seratus persen yakin istrinya sudah mengetahui fakta itu. Bagaimana tidak? Ponsel sang istri tidak lagi berada di nakas, sementara di tempat ini hanya ada mereka berdua. Jelas saja Justin dibuat sakit kepala, pria itu turun dengan perasaan yang tidak bisa dia utarakan.


Takut, kalut dan kini tujuannya sama sekali tidak jelas. Mau kemana mencari sang istri, apalagi ini adalah kali pertama dan sebelumnya Agny tidak pernah pergi tanpa pengawasan Justin.


Bermodalkan kata hati, Justin menuju kediaman Arga. Ya, mungkin istrinya ada di sana, walau ada sedikit kemarahan kenapa tidak dia bangunkan lebih dulu.


Tiba di sana, Justin segera menerobos masuk. Jelas saja kedatangannya yang hanya mengenakan piyama trsebut menjadi tanda tanya, dimana etikanya seseorang menghadiri rumah duka dalam keadaan begitu.


"Tante ...."


"Justin? Kenapa sendirian? Agny mana?"


Bak tersambar petir di siang hari, Justin terdiam seketika. Tidak ada Agny di sini, walau situasi masih ramai wanita itu tetap memedulikan kedatangan Justin. Tanpa dia ketahui jika pria itu datang bukan untuk alasan berduka, melainkan mencari istrinya.

__ADS_1


"Istriku belum ke sini?"


"Belum, kenapa kamu bertanya? Apa kalian sedang ada masalah?" tanya wanita itu seraya menatap lekat-lekat Justin, meski dia tengah dilanda kesedihan dengan kepergian putra tunggalnya tetap saja berusaha bersikap tenang.


"Ti-tidak, Tante."


Justin menunduk kemudian pamit dari hadapan wanita itu. Sama sekali dia tidak berniat berada di sini, ketika hendak berlalu keluar Justin menyadari kehadiran Vanya bersama Renaga. Secepat mungkin Vanya menghindari tatapan Justin, pura-pura tidak mengenalnya.


"Mommy."


Renaga tampak menarik tangan Vanya begitu menyadari kehadiran Justin. Pria itu sontak merasa tersindir dengan perubahan sikap Renaga, dihindari layaknya penjahat membuat Justin kesal sendiri.


"Meyebalkan sekali anak itu."


Kali pertama Justin merasa risih dengan reaksi anak sekecil Renaga padanya. Akan tetapi, hendak dia pedulikan justru membuang waktu dan lebih baik Justin segera pada tujuannya.


"Agny?"


Justin tidak salah, wanita di sebrang jalan tersebut memang istrinya. Akan tetapi, hendak dia kejar sulit sekali karena keadaan tidak memnungkinkan. Kesabaran Justin yang hanya setipis tisu tidak dapat ditoleransi hingga dia memutuskan untuk turun dari mobil dengan maksud menghampiri istrinya.


Suara klakson jelas saja bersahutan, dia yang berlari menerobos ramainya kendaraan menjadi pusat perhatian. Ada berapa banyak mulut yang marah dan tidak terima dengan kelakuan Justin, akan tetapi pria itu tidak peduli karena yang dia inginkan hanya sang istri.


Tiiiit Tiiit


"Woey!! Cari mati ya?!!" sentak seseorang yang hampir saja menabrak Justin dari arah berlawanan.


"Sabar badjingan!!"

__ADS_1


Meski sebenarnya dia salah, Justin tetap tidak terima dibentak seperti itu. Matanya tetap kembali tertuju pada Agny yang kini fokus dengan layar ponselnya. Percayalah, saat ini antara mata dan kaki Justin tidak lagi selaras, dia ketakutan jika terlambat.


Apalagi, ketika bus tersebut sudah berada di sana. Justin bingung, kembali ke mobil atau tetap mengejar bus tersebut. Akan tetapi, tidak memungkinkan mobilnya bisa melepaskan diri dari kemacetan di seberang sana, Justin kembali berlari mengejar bus tersebut meski rasanya sangat sulit.


"Siallan, mau kemana dia?"


Langkah kaki Justin seakan lambat sekali, bus mulai bergerak sementara dia masih butuh beberapa waktu. Dalam hitungan mundur, tiga, dua, satu ... pria itu berhasil masuk meski pintu hampir saja tertutup.


Dada Justin naik turun, kakinya terasa sakit karena berlari sejauh itu. Dia menatap sekeliling bus untuk mencari dimana istrinya duduk, "Ya Tuhan, jangan bilang dia tidak naik bus ini," gumam Justin kembali putus asa karena tidak menemukan sang istri segera.


Tidak mungkin salah, Justin yakin seratus persen Agny naik bus ini. Dia tetap fokus meski kakinya terasa ngilu entah luka karena menginjak benda tajam tadinya. Sialnya lagi, bus tersebut ramai dan Justin tersiksa dengan aroma kehidupan di sini.


Beberapa saat mencari, Justin baru bisa bernapas lega kala melihat wanita bertopi dan jaket hitam tengah duduk di sisi kiri, dekat jendela paling belakang. Kebetulan di sebelahnya kosong hingga Justin duduk di sana.


Brugh


"Ah, kamu mau pergi kemana?"


Justin bertanya kemudian membuka topi wanita itu sembarang, tubuh kecilnya membuat Justin sedikit kesulitan mecarinya di tengah keramaian.


.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2