
Dua minggu yang Keyvan berikan, faktanya Justin menunda kepulangannya hingga 27 hari. Benar-benar seenaknya, pada dasarnya baik Keyvan maupun Justin sama saja. Ya, sama-sama kerap membuat aturan sendiri dan tidak peduli peraturan yang telah diciptakan sebelumnya.
Kedatangan mereka disambut baik oleh Keny, sebenarnya terpaksa lantaran Keyvan ingin memastikan mereka baik-baik saja. Hendak meminta Bastian, pria berlemak itu sibuk karena harus mengantar Khayla, maka untuk hari ini terpaksa Keny yang kena imbasnya.
"Koperku satu lagi."
Dia melirik salah satu koper yang masih tertinggal di sampingnya. Seakan Keny benar-benar sopir untuknya, wajah Keny sontak berubah masam lantaran Justin semakin semena-mena.
"Ck, bawa sendiri ... kau pikir aku supirmu?"
"Ikhlas tidak?"
Keny menghela napas perlahan, tampaknya setelah menikah Justin balas dendam. Memang dahulu Justin juga kerap kali direpotkan, akan tetapi setelah memiliki kesempatan Justin sepertinya sengaja membuat darah Keny naik.
"Jangan bercanda, aku menjemput kalian karena Evan yang meminta ... tugasku hanya sebatas jemput, bukan angkat barang juga," protes Keny tidak terima, sedikit tidak sadar diri sebenarnya karena dahulu Keny lebih merepotkan dari Justin.
"Kali ini saja, pinggangku sedikit sakit ... kau pahamlah," bisik Justin dan itu benar-benar membuat Keny naik pitam, pria itu hanya bisa terdiam kala sahabatnya itu masuk ke dalam mobil layaknya tuan muda di negeri ini.
Sementara di dalam mobil, sembari menunggu Keny memasukkan koper keduanya. Agny tengah merasa bersalah dan menoleh sesekali demi memastikan keadaan keny, sungguh tidak pernah dia duga jika Justin akan bersikap seperti itu.
"Kamu lihat apa?"
"Kak Ken, kasihan ... kenapa disuruh-suruh begitu?" Netra Agny menuntut penjelasan, dia sedikit tidak suka dengan sikap Justin kali ini.
"Tugas dia," jawab Justin singkat dan sama sekali Agny tidak setuju karena di mata dia Keny bukan kacung yang bisa diperintah seenaknya.
__ADS_1
"Tugas dia apanya? Kalian berteman, dan kita bukan majikan," bisik Agny seraya mencubit pelan lengan Justin, berharap sekali suaminya ini tidak berbuat seenaknya sendiri.
"Sayang, kamu tidak tahu saja bagaimana kejamnya dia sewaktu aku menjadi supir pribadinya setelah menikah, belum lagi sewaktu menemani dia meminta restu ke rumah calon mertuanya," ucap Justin kembali mengungkit jika perjuangannya untuk Keny juga tidak main-main, keduanya sama saja dan Agny hanya melihat dari satu sisi saja, tanpa dia ketahui jika Keny tidak jauh beda.
"Dengarkan baik-baik, suamimu ini bahkan pernah dia tinggal di jalan raya sendirian dan dia pakai mobilku demi menjemput calon istrinya ... tidak hanya itu, sewaktu dia menikah aku harus menghabiskan waktu enam jam jadi supir tanpa dia gaji sama sekali," lanjut Justin menceritakan bagaimana penderitaannya ketika Keny menikah, tidak hanya merepotkan tapi juga kerap kali membuat Justin di posisi sulit.
Di tengah pembicaraan serius mereka, Keny masuk dan menutup pintu dengan tenaga dalam hingga Agny sedikit bergetar. Dia yang memang selalu merasa tidak enak pada orang lain sontak bingung dan khawatir sebenarnya Keny marah karena kehadirannya.
"Kak Ken, maaf jika merepotkan ... kalau lelah aku saja yang bawa mobil, Kak Ken duduk di sini."
"Heh? Tidak bisa, Ken jalan."
Jelas saja Justin tidak terima, mana mungkin dia rela sang istri mengemudikan mobil sementara Keny duduk di belakang. Sungguh hal semacam itu tidak akan terjadi hingga akhir hayat nanti.
"Agny bisa?"
"Ken ... kau mau mati?" tanya Justin menatap tajam Keny dan membuat pria itu menghela napas kasar, baru saja dia hendak meminta Agny tukar posisi, tapi pria itu sudah menabuh genderang perang lebih dulu.
"Aku cuma tanya, Justin ... istrimu saja punya belas kasihan padaku, kenapa kau tidak sama sekali?"
Belas kasihan kata dia? Justin berdecih mendengarnya. Padahal, Keny sejak awal berusaha menikahi Sonya sudah merepotkan, berbeda jauh dengan dirinya yang hanya butuh bantuan untuk dijemput ketika di bandara.
"Dia hanya basa-basi, seharusnya kau paham ... sudah jalan sana," titah Justin kembali bersikap seakan dia majikannya, fakta bahwa hadirnya seorang istri membuat mereka seolah raja benar terjadi.
Keny melaju dengan kecepatan sedang, sebenarnya ingin sekali dia melaju secepat kilat. Akan tetapi, bentakan Justin yang memintanya untuk pelan-pelan membuat Keny mengalah, mungkin khawatir istrinya merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Selama perjalanan dia harus terbiasa dan pura-pura tidak melihat bagaimana Justin yang tidak punya malu itu bahkan berciuman panas di belakang Keny. Ya, memang sebenarnya hal semacam itu sudah biasa, akan tetapi untuk kali ini sedikit menyiksa lantaran Sonya sedang tidak suka melayaninya.
Jika di depan Keny tengah panas dan berusaha pura-pura tidak melihat apa yang Justin lakukan, di belakang kini Agny tengah berusaha menahan dada Justin yang kembali hendak menghimpitnya, demi apapun rasanya menyebalkan sekali.
"Jangan di sini, aku malu," pinta Agny dengan suara pelan, khawatir jika penolakannya akan Keny dengan dan membuat suaminya malu.
"Malu? Anggap saja hanya kita berdua, dia juga memaklumi."
"Tetap saja malu, nanti kan bisa ... jangan di sin_"
Chiiit
Dalam hitungan detik, bibir keduanya kembali bersatu lantaran Keny yang tiba-tiba menginjak rem dan hal itu di luar dugaan Agny. Sebuah kesalahan yang sama sekali tidak membuat Justin marah, dia suka sementara Agny hanya bisa diam dengan mata yang kini membola.
"Astaga, maaf sekali, Justin ... manusia itu kurang waras!! Sen ke kanan belok ke kiri, tollol!!" umpat Keny hampir saja menabrak pengendara lainnya. Dia menoleh dan berdecak kesal kala melihat posisi mereka justru masih seperti tadi.
"Tidak masalah, Ken ... kami baik-baik saja," jawab Justin yang kemudian sama sekali tidak Keny pedulikan lagi, jelas saja tidak masalah karena tragedi itu membuat Justin semakin erat bersama istrinya.
"Baik-baik saja dengkulmu, menyesal aku mengkhawatirkan mereka."
.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -