Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 102 - Masih Berlanjut


__ADS_3

Kabar terkait Agny yang masuk rumah sakit diketahui begitu cepat oleh kedua sahabatnya. Sudah tentu Keny yang mengatakan hal itu pada Keyvan hingga keesokan harinya, mereka datang menjenguk lantaran khawatir istri Justin celaka. Mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya, jelas saja Keny manjadikannya bahan ejekan hingga Agny dan Justin merah padam.


"Ckckck aku kira sudah berubah, ternyata makin gila ... kau minum obat kuat ya jangan-jangan?"


"Diam, Keny. Jangan pernah samakan aku denganmu."


Keny menduga Agny yang mengalami pendarahan diakibatkan Justin terlalu egois. Padahal, sama sekali tidak dan sebelumnya Justin bahkan lebih liar dari kali ini. Agny yang terlanjur malu memilih pura-pura tidur lantaran merasa tidak punya muka lagi di hadapan Keny dan Justin.


"Kasihan sekali calon besan mungilku."


Lihatlah, setelah cari perhatian kepada Vanya, kini dia mulai cari perhatian Agny meski wanita itu tertidur. Keyvan mengerjap pelan dengan kelakuan Keny yang tiba-tiba begini. Meski memang sudah kebiasaan Keny begitu, akan tetapi, kali ini dia merasakan sesuatu yang berbeda dengan sahabatnya.


"Besan mungil? Heh, jaga mulutmu ... mungal mungil, mungal mungil."


Sebutan mungil memang hanya Justin yang boleh pakai. Bagaimana mungkin dia izinkan Keny memanggil istrinya dengan sebutan itu. Mendengar protes Justin, bukannya mikir dia justru tertawa.


"Ck, kau ini."


"Besan apanya? Kalian ada kesepatakan di belakangku?"


Belum selesai Keny, kini Keyvan ikut-ikutan padahal mereka tengah menjenguk orang sakit. Ruang rawat Agny sudah persis rumah pribadi, fasilitas yang memang cukup mewah dan nyaman membuat anak-anak mereka betah di sana.


"Ada."


"Tidak."


Mereka menjawab bersamaan hingga Keyvan merasa dikhianati. Tampaknya memang mereka berdua main api, Justin mendelik dan Keny menampilkan gigi rapihnya.


"Justin serius."


"Evan dengarkan aku, kau tahu aku sangat pemilih, 'kan? Tidak mungkin aku asal menjalin kesepakatan bersama dia, apalagi terkait masa depan putraku."


Keny mengerutkan dahi mendengar ucapan Justin. Sungguh, apa mungkin seburuk itu dia di mata Justin. Ya, walau memang sedikit merepotkan, akan tetapi kemampuannya tidak kalah dari Keyvan, pikir Keny.

__ADS_1


"Hahaha Keny membual, artinya belum jadi hak milik ... berarti Zavia masih punya kesempatan, Justin?"


"Astaga kalian berdua ini kenapa, tidak Zavia dan tidak juga Giska. Jangan aneh-aneh, ini tahun berapa? Masih zaman begitu? Lagipula sejak kapan kita percaya hal itu ... perjodohan hanya untuk pria yang tidak percaya diri, aku ingin putraku bebas menentukan pilihan."


"Okay setuju, andai Renaga benar-benar memilih Giska maka kalian berdua harus ikhlas dan memberikan restu, terutama kau, Justin," ucap Keny yang ternyata seakan serius dan menatap kedua sahabatnya ini bergantian.


"Begitu juga sebaliknya jika Renaga pilih Zavia."


Sejak kapan Keyvan mau kalah, padahal sejak awal dia sudah kalah telak satu langkah. Keny melihat peluang ini besar dan tampaknya dia yang akan menjadi pemenang.


"Aduh, tidak mungkin, Van ... kalian beda keyakinan, mana bisa bersatu."


"Saat ini, belum tentu Renaga bertahan kepercayaan orang tuanya ketika dia sudah dewasa," ujar Keyvan lantaran merasa mungkin saja hal itu terjadi, papa dan mamanya berbeda agama sebelum menikah.


"Sudahlah, ada Fabian kenapa harus Renaga ... kita juga mengenal Zayyan sebagai orang yang baik," ungkap Keny mewanti-wanti dari awal agar posisi putrinya aman.


"Aku lebih suka Zavia mendapat pasangan lebih dewasa walau sedikit darinya, lihat ... bersama Renaga putriku tidak pernah menangis, sementara bersama Fabian? Khayla saja pusing kalian tahu?!"


.


.


"Hadeuh namanya masih kecil, Van. Kau dulu mungkin sama begitu, maklumi saja ... nanti kalau sudah dewasa tidak mungkin mereka begitu."


Yang sakit Agny, tapi yang dibahas justru anak-anak mereka. Bahkan mungkin kini Agny sudah benar-benar terlelap, dia sudah lelah mengobrol singkat bersama Sonya dan Khayla. Sementara istri sahabatnya itu tampak sibuk menampingi putri mereka bermain lantaran khawatir terjadi perang dunia antara Zavia dan Giska.


Tidak ada lagi perebutan tahta sang papa, selama mengenal Renaga baik Zavia maupun Giska lebih memilih anak itu. Entah karena dia yang penyayang dan pengalah, atau memang karena darah centil dua anak itu sudah mengalir sejak dini.


Begitu cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin mereka melakukan banyak hal tanpa memikirkan baik buruknya. Kini, malaikat kecil mereka sudah hadir dan tampaknya saling menyayangi di masa depan.


Hingga, beberapa saat mereka tenang suara serak Agny mengejutkan Justin. Pria itu segera menghampiri sang istri untuk mendengar keinginannya.


"Kenapa, Sayang?"

__ADS_1


"Haus," jawab Agny sedikit berbisik karena dia khawatir dianggap terlalu manja oleh sahabat sang suami.


"Haus? Sebentar aku ambil_" Justin bergerak cepat, tapi secepat mungkin Agny menahan pergelangan tangannya.


"Kenapa?"


"Bukan mau air, bosan."


"Terus maunya apa?" tanya Justin seraya membelai lembut rambut indahnya, apapun akan dia turuti karena memang sempat hampir kehilangan istri dan anaknya sekaligus dalam waktu bersamaan.


"Maunya dawet, tapi yang pakai batok bukan gelas."


Gleg


Mulai, ujian Justin tampaknya memasuki tahap awal. Kemarin dia memang sudah terlihat aneh dengan meminta apel dan hanya diambil yang bulat sempurna, kini dia kembali merengek dan tampaknya akan semakin sulit.


"Sekarang?"


"Iya sekarang."


Tidak mengapa, apapun bisa Justin dapatkan dengan bantuan dua makhluk astral yang sedang berbincang dari jarak tidak jauh darinya. Lagipula dulu mereka merepotkan, sesama manusia jelas harus balas budi.


"Tunggu ya, apapun yang kamu minta akan berikan." Sekalian balas dendam pada mereka, Agny.


.


.


- To Be Continue -


Hai-hai, Bestie❤ Met sore, nih aku up 3 bab juga tampol votenya ya ntar malem ke Justin. Btw, sementara aku up, mampir ke novel temen aku yang satu ini. Dijamin ngubek-ngubek air mata.


__ADS_1


__ADS_2