Sugar Teacher

Sugar Teacher
Antara evolusi dan reproduksi.


__ADS_3

Fio telah bertekat, mau seperti apa pun dunia menantang dia akan tetap mengejar Kris. Baginya Kris adalah dunia baru yang menjanjikan kebahagiaan. Itu mutlak, tak akan ada siapa pun yang bisa mengganggu gugat apa yang telah dia putuskan itu


Bagi Fio bahagia itu pilihan, Berjuang adalah keharusan dan mencintai Kris adalah keputusan. Dia akan menerima apa pun risikonya. Masalah kedepannya akan dia tantang dengan dada membusung dan pastinya tanpa penyesalan sedikit pun.


Bagi Fio, berjuang lebih baik daripada cuma menunggu Si Doi sadar diri. Dia tidak ingin menjadi Aulia generasi kedua dengan kepasrahan yang hakiki. Apa bagusnya menunggu Lio yang entah kapan akan menyadari kalau ada yang menyukai begitu dalam?


Menunggu itu kebodohan. Menunggu itu seperti menoreh urat nadi sendiri dengan belati. Menunggu itu hanya akan menyakiti luar maupun dalam tubuh. Itu tidak baik. Seperti sengaja menenggak racun.


"Ck, gue gak mau nyesel. Gue harus berjuang dapetin permata. Gue yakin Kris adalah jodoh yang Tuhan beri. Gue gak mau pasrah kayak si Aulia itu. Gedek gue lama-lama sama tu anak. Betah banget nunggu," gerutunya.


Akan tetapi, ketika melihat tempat bekal yang dibawa senyumnya pun kembali hadir. Hati-hati dia letakkan benda bawaan ke meja Kris, lantas bergegas meninggalkan ruang itu.


Sekarang masih pagi, satu murid pun tak ada yang datang karena memang sekarang baru pukul setengah enam. Hanya ada penjaga sekolah dan tukang kebun yang melakukan kegiatan mereka.


Kini, langkah Fio begitu panjang ketika keluar dari lingkungan sekolah. Dia juga bergegas menaiki ojek online yang sudah dipesannya dan mereka menuju ke suatu tempat.


Tibalah Gio di tempat tujuan. Di sana, di depannya kini ada bangunan megah, rumah mewah tiga lantai yang cukup membuat mata siapa saja mengerjap takjub. Namun, tidak Fiona, dia sudah terbiasa ke sana.


"Ok, Fio. Lu cuma harus berevolusi sedikit, tinggal poles, sat set sat set maka bersiaplah mejadi ratu kecantikan. Jangankan mantan dia, Miss Universe aja lewat," gumamnya pelan sembari membenarkan ransel yang ada di punggung. Niatnya untuk menggaet Kris sudah bulat dan kini dia sedang berusaha mewujudkannya.


Setelah bergumam begitu tiba-tiba khayalan kala malam pertama memenuhi sudut otak. Tak ayal pipinya menghangat dan senyuman jadi semakin lebar.


"Oke, gue cuma harus berkorban dikit. Setelah itu gue bisa bereproduksi dengan baik dan benar. Membina rumah tangga harmonis dan dikaruniai banyak anak. Ah, nikmat mana yang lebih dari ini?" gumamnya lagi, setelah itu nyengir bak orang gila. Dia lalu memencet bel dan seorang wanita setengah baya menyapa.


"Aulia ada, Mbok?" tanyanya pada Warsih, satu-satunya perempuan dewasa yang ada di rumah itu, selain satpam, supir dan tukang kebun.

__ADS_1


"Ada, Neng. Kayaknya masih di kamar. Mbok panggilan dulu, ya."


Fiona cuma mengangguk paham, lantas menunggu dengan tenang di ruang tamu. Tak bernama si mbok yang tadi kembali menghampiri dan mempersilakan dia untuk langsung saja ke kamar Aulia.


Fiona memang begitu, dia selalu di sambut oleh Aulia dan si mbok itu. Sebab sudah terlampau akrab. Rumah besar dan status sosial tak berlaku untuk hubungan persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak SMP.


"Fio, tumben ke sini gak bilang-bilang?" ujar Aulia sembari membuka pintu kamar. Penampakan ala-ala princess pun memanjakan mata Fio. Hanya saja Fio sudah biasa dan bergegas duduk di ranjang, menatap sang sahabat yang masih mengenakan kimono mandi.


"Au, lo sahabat gue kan?" balasnya tanpa memedulikan pertanyaan Aulia barusan.


"Ya iya lah. Gue sahabat yang berharap jadi ipar."


Fiona jadi gemas dan spontan melempar bantal ke Aulia yang tengah memakai seragam. Aulia bahan tak peduli dan tanpa sungkan sama sekali. Bagi mereka ini sudah biasa. Baik Fio maupun Aulia bahkan sering mandi bersama.


"Kalo ngebet banget pepet aja ngapa?" dengkus Fiona.


"Lah kan belom usaha. Usaha aja dulu, entar gue bantuin."


Aulia yang sudah siap dengan seragam pun berdecak malas. Dia melirik sinis ke Fiona lalu duduk di depan cermin meja rias.


"Gue gak berani, Fi. Kagak bisa gue ikutin gaya lo yang udah mirip Tarzan kehilangan hutan demi ngejar tu duda. Gue anak tunggal pengusaha, harus hidup elegan. You know elegan?"


"Bacotan elu kagak sesuai realita."


Alih-alih tersinggung Aulia justru terbahak. Pun Fiona yang sama senangnya. Cara mereka menyayangi satu sama lain memang tergolong ekstrem.

__ADS_1


"Lu udah kasih bekalnya?" tanya Aulia, dia yang sedang merias wajah m melirik sekilas Fio. Sahabatnya itu masih duduk di sisi ranjang big size memiliknya.


"Udah."


"Trus apa rencana lo lagi?"


"Ya gak gimana-gimana. Gue juga bingung, harus ambil hati siapa dulu, hati Theo dulu apa hati dia dulu. Bingung gue. Soalnya tu burung beo kayak gak demen banget ama gue. Heran gue. Apa salah gue ke tu anak?"


Spontan Aulia melempar sisir ke Fiona. "Lu lupa apa amnesia? Kan lo sendiri yang nguber-nguber dia dengan dalih keadilan dan tanggung jawab. Sekarang keder sendiri kan lo. Lagian mana ada anak yang mau nerima ibu tiri jadi-jadian kek elo ini yang mirip gorila ketimbang manusia."


Mendengar nyinyiran Aulia membuat Fiona mendesaah panjang. "Bantuin gue, Au."


Lantas, dengan langkah mantap Fiona dekati Aulia yang keheranan. "Bantuin ubah gue. Seperti yang lo bilang, gue mungkin mirip gorila ketimbang manusia, dan elo adalah ibu peri baik hati yang diciptakan Tuhan buat bantuin gue. Jadi, bisa kan lo sulap gue?"


Mata Aulia melotot. Dia pindai Fiona dari atas sampai kaki dan rasanya tidak ada yang harus membuat Fiona malu. Fiona cantik natural, bibir tipis dan kulit bersih, hidung juga mancung. Minusnya hanya di tinggi badan yang tidak proporsional sama sekali. Hanya 152 cm.


"Lo udah cantik, Fi. Mau diubah kayak gimana lagi?"


Fiona menggeleng tegas. "Ubah gue jadi keliatan dewasa biar tu burung beo kagak ngerendahin gue."


"Lah, kagak tau diri. Emang selama ini lo ngerasa tinggi gitu?"


"Aulia!"


Tawa Aulia pecah. Tak tahan dia untuk tak menggoda Fiona. Dia tarik lengan sang sahabat lantas mempersilakan duduk di depan meja rias.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang peri Aulia akan beraksi."


__ADS_2