Sugar Teacher

Sugar Teacher
Kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

"Maaf, Pak. Aku gak minat keluar kalau gak penting. Aku mau belajar," jawab Fiona. Setelah itu bergegas pergi sembari menenangkan hati.


Di saat bersamaan ada Theo yang ternyata mengamati. Tangan cowok itu mengepal, bergegas dia dekati Kris yang masih mematung menatap punggung Fiona. Dan entah apa sebabnya tiba-tiba Kris mengingat momen dimana Fio mengecup bibirnya. Tanpa Kris sadari timbulkan seulas senyum.


"Dad!"


Kris yang mendengar seruan lantang tersebut langsung menoleh dan mendapati wajah masam sang anak.


"Kenapa?" tanya Kris heran.


"Daddy bicara apa sama dia?" tuding Theo yang membuat Kris menelan ludah.


"Daddy gak berubah pikiran, 'kan?"


"Maksud kamu?"


"Jangan ada rasa. Haram hukumnya. Karena aku gak bakalan membolehkan."


Kris berdengkus, dia balik badan dan melangkah lagi. Theo mengikutinya.


"Aku serius, Dad. Aku lihat tatapan Daddy penuh cinta. Jangan bilang Daddy jatuh cinta sama dia."


"Ngaco kamu."


"Aku serius, Dad. Gini-gini aku bisa lihat mata orang yang tertarik dengan enggak."


Kris pun membalik badan menatap anak tiri yang tingginya hampir sama dengan dia.


"Dan Daddy juga serius. Kamu berhalusinasi. Sudahlah. Pulang sana. Daddy harus ke tempat lain." Kris pun meninggalkan Theo yang mematung menahan geram.


Tidak dipungkiri Theo kesal. Entah kesal pada Kris atau Fiona dia juga tidak bisa memastikan itu. Yang jelas melihat tatapan Kris dan betapa rapuhnya Fiona saat bertemu Kris buatnya kesal. Sangat kesal. Ada semacam rasa yang mengganjal dan itu mengganggu. Dia tiba-tiba cemburu pada Kris yang bisa buat Fiona menangis dan seemosional itu, sedang selama ini dia yang mencoba berteman baik dengan Fiona selalu mendapatkan penolakan. Fiona benar-benar menjaga jarak dan membangun dinding yang tinggi dan Theo bingung cara merubuhkan penghalang itu.


Sementara itu yang terjadi pada Kris, dia mulai memikirkan perkataan Theo. Sembari menekan dada, dia pun menarik napas panjang. Dia perlu tenang untuk memastikan sesuatu.


"Apa aku tertarik sama bocah itu?" gumamnya.


Dup-dup-dup-dup.

__ADS_1


Jantung terdengar menggila dan Kris kaget sendiri karena itu. Dia gelengkan kepala lalu menepuk pipi sendiri.


"Aku pasti gila. Aku gila dan kegilaan ini harus aku buang. Aku yakin ini hanya efek iba. Ya, iba. Aku merasa bersalah sama dia. Ck, Theo, awas saja dia. Gara-gara dia aku jadi mikir yang bukan-bukan."


Bergegas Kris membuka buku tugas siswa dan memeriksanya. Dia butuh sesuatu untuk mengenyahkan pikiran itu.


Lain Kris, lain Theo. Setelah berpisah tadi dia memilih membuntuti Fiona. Bedanya Fiona berjalan kaki sedang dia bermotor, ya walaupun sangat lambat.


Fio yang menyadari itu pun mengentak napas, dia balik badan menatap galak Theo yang nyengir.


"Jangan ikutin gue bisa?" tegur Fiona datar, lalu kembali melangkah lebih panjang.


Akan tetapi Theo tidak peduli dan tetap membuntuti. Fio balik lagi badan. "Pulang Theo. Jangan cari perkara. Gue lagi bad mood."


Lagi, Theo menebalkan telinga dan tetap membututi hingga membuat Fio yang memang sedang kesal tidak bisa menahan lagi. Dia balik badan untuk ketiga kali lalu mengentak napas. Nyalang matanya menatap Theo.


"Eh, Lo mau apa, sih? Gak ada kerjaan ya? Pulang sana!"


Theo pun tak peduli, dia dekati Fio. "Gue mau nawarin tumpangan," balasnya sembari menepuk jok penumpang.


"Gak butuh. Rumah gue deket."


Fio cuma balas menyipitkan mata. Dia lalu kembali berjalan dan Theo pun tetap mengiringi.


"Serius, gue heran kenapa bawa banyak buku?" lanjut Theo.


''Lo pelajar, 'kan? Masa pelajar heran liat pelajar lain bawa buku? Aneh lo."


"Ya bukan gitu juga maksud gue."


"Heran. Apa anehnya bawa buku paket. Toh, yang gue bawa ini buku pelajaran, bukan buku utang. Kalo buku utang status gue bukan lagi pelajar, tapi rentenir," balas Fiona sewot.


"Rentenir?" Theo tidak bisa untuk tidak tersenyum. Meski galak, Fiona tetaplah Fiona. Ada sisi unik yang tidak akan bisa dia dapatkan di cewek lain.


"Gue gak maksud, Fi. Maksud gue itu kan sekarang serba internet. Mau baca buku apa aja tinggal searching. Kagak perlu lah bawa buku. Itu namanya mempersulit hidup."


"Itu untuk anak yang kuotanya selalu ada. Nah gue, harus hemat uang jajan baru bisa beli kuota," balas Fio sewot.

__ADS_1


"Ya ampun Fi. Gitu amat." Theo tetap mengiringi langkah Fiona dengan motornya.


"Ya emang gitu kenyataannya. Elo anak sultan mana paham," sindir Fiona lagi yang sekonyong-konyongnya buat Theo berhenti, setelah itu tanpa sungkan memberikan ponselnya.


"Pake ini. Gue belajar pake ini. Gampang, enggak ribet. Di sini gue juga belajar lewat aplikasi yang tutornya dijamin keren. Udah langganan juga. Lo bakalan mudah belajar dari ini," tutur Theo yang tetap menyodorkan HP miliknya.


"Lo?"


"Ambil aja. Gue pinjemin. Kuotanya banyak bisa lo pake buat apa aja. Tapi jangan buka bokep."


"Theo!" Mata Fio makin memicing.


"Ambil." Theo yang tidak paham terus menyodorkan ponsel tanpa sadar kalau Fiona telah tersinggung.


"Lo mau pamer?" desis Fiona.


Theo melibaskan tangan. "Bukan gitu maksudnya."


"Alah, lo mau nertawain gue kan? Ngaku lo. Gak punya etika emang. Pergi sana."


Fio mendorong tangan Theo dan tanpa diduga ponsel lelaki itu terhempas, kacanya retak dan langsung mati total di tempat. Fio yang panik memungut dan mencoba menghidupkan kembali.


"Mati," gumamnya pelan. Matanya penuh ketakutan. Fio yakin harga ponsel Theo tidak akan sama dengan harga ponselnya.


Theo yang menyadari adanya celah langsung memasang wajah kesal. Dia pura-pura panik dan mencoba menghidupkan kembali ponsel yang sudah mati total.


"Maaf, gak sengaja gue," cicit Fiona. Rasa bersalah menyeruak dan mengecilkan nyali yang tadi ada.


"Enak aja. Lo kira kata maaf bisa ngidupin lagi. Gosah minta maaf, deh. Benerin aja. Heran gue, dibantu malah begini."


Ragu-ragu Fiona meraih benda pipih itu. "Iya deh, entar gue coba bawa ke konter. Kali aja masih bisa diselamatkan."


"Hmm, itu baru adil. Ya udah naik sini. Gue anter lo pulang biar sore ini bisa langsung ke konter. Asal lo tau, hape gue cuma itu. Itu mahal."


Mendengar kata mahal merinding semua bulu kuduk Fiona. Dia masukkan ponsel Theo dalam ransel lalu ikut duduk dibelakang Theo.


"Pegangan!" titah Theo yang buat Fio tak berkutik.

__ADS_1


Alamat bangkrut ini gue. Bang, ijin pecahin celengan lo, ya? batinnya. Gue janji kalo ada duit celengan babbi lo gue lipat gandain jadi dua.


__ADS_2