
Sepuluh menit.
Tiga puluh menit.
Akhirnya satu jam pun berlalu sia-sia. Baik Kris maupun Theo tak kunjung pulang hingga membuat Fiona yang kelelahan terlelap di sofa. Di sebelahnya ada Mun yang mondar-mandir resah.
"Ini anak kenapa susah sekali dibangunin," oceh Mun.
Tak berapa lama terdengarlah suara mesin motor dan hanya dalam satu menit saja masuklah Theo. Alis cowok itu hampir tertaut saat melihat Fiona tertidur dengan tubuh selonjoran dan mulut setengah terbuka.
"Alhamdulilah." Mun mendekati Theo yang melepas ranselnya.
"Kenapa dia ada di sini, Bik?"
"Bibik juga nggak tau, Den. Tadi dia nyari Den Kris, tapi malah tiduran di sini," sahut Mun. Dia tatap jengkel Fio. Karena Fio dia harus menunggu di sana padahal harusnya sudah pulang.
"Daddy mana?" tanya Theo sembari melihat keadaan sekitar.
"Belum pulang dari rumah sakit, Den."
Theo mengembuskan napas panjang, lantas mendekati Fio, setelah itu melihat kembali ke belakang dan mendapati Mun mengetik pesan. Mimik wajah wanita yang selama ini mengurus kebersihan rumahnya tampak resah dan Theo sudah mengerti apa artinya.
"Pulang aja, Bik. Gak apa-apa. Dia biar aku yang urus," ujar Theo
"Tapi, Den.".
"Nggak apa-apa, Bik. Bentar lagi Daddy pulang."
__ADS_1
Dikarenakan situasi yang tidak memungkinkan untuk menemani Fio, Mun pun memilih pulang segera dan meninggalkan Theo dan Fiona setelah sebelumnya berpamitan.
Sekarang, tinggallah Theo dan Fiona di ruang tamu dan ruang itu. Tidak ada sesiapa selain mereka. Theo yang lelah memilih duduk di depan Fiona, memperhatikan cewek itu yang masih tertidur dengan kaki terbuka. Beruntung Mun tadi sempat menutupi kakinya dengan selimut.
Melihat itu tidak ada yang dilakukan Theo selain mengembuskan napas frustrasi sembari geleng-geleng kepala.
"Gue penasaran, apa isi kepala cewek barbar ini? Banyak cewek yang gue kenal tapi nggak pernah ada yang seaneh dia," gumam Theo.
Bukan tanpa sebab Theo begitu. Jika dilihat kasatmata Fiona ini manis, tubuhnya mungil dengan kulit yang putih bersih. Cewe pendek kadang menggemaskan untuk sebagian cowok termasuk Theo sendiri. Hanya saja kelakuan Fiona yang klemer-klemer ngejar sang ayah buat dia muak. Dia benci kenyataan kalau harus memiliki ibu tiri yang seumuran.
Membayangkan itu bergidik semua bulu kuduk Theo. Dia memang ingin Kris segera menikah dan melupakan sang ibu yang telah tiada. Tapi buka berarti harus sana Fiona.
Tak terbayang di otaknya yang cerdas apa yang akan terjadi jika harus serumah sama Fiona yang seperti itu.
Theo sugar rambutnya dengan sebelah tangan, lantas melihat jam dinding telah menunjukkan pukul empat sore.
Sesaat setelah bergumam begitu berdering ponsel Fiona dan anehnya Fiona sama sekali tidak terusik. Cewek itu hanya menggeliat kecil lalu kembali pulas.
"Ni cewek kebo banget, sih." Theo menggerutu, lalu menendang pelan betis Fiona. "Heh, Bangun. Ada telepon."
Hening, Fiona sama sekali tidak merespon.
"Astaga, mimpi apa gue semalam?" gerutunya lalu mengusap wajah kesal. Dia rogoh ponsel Fiona yang terus-menerus berdering dan memberanikan diri menjawab panggilan video call dari Daisy.
"Loh, Theo. Kok kamu yang angkat? Fio mana?" tanya Daisy.
"Ada, Tan. Bentar." Segera Theo mengubah arah kamera dan sengaja membidik Fiona yang tergeletak di sofa dengan memeluk ransel.
__ADS_1
"Astaga Fiona!" pekik Daisy yang membuat Theo nyengir tidak nyaman.
"Itu anak kenapa bisa tidur di sana?" tanyanya lagi. Beberapa kali bertemu Theo membuat Daisy percaya kalau remaja itu tidak akan macam-macam sama Fiona. Terlebih lagi dia tahu kalau Theo adalah anak tiri Kris.
"Nggak tau juga, Tan. Pas Aku pulang dia udah gini aja."
Giliran Daisy yang mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. "Ya sudah tolong bangunin, ya. Bilang aja kalau telat pulang jatah jajan dikurangi."
"Baik, Tan."
Panggilan terputus dan Theo kembali menatap heran Fiona. Dia bahkan rela dan menatap lekat gadis itu dengan posisi berjongkok.
"Hey, bangun. Bangun dari mimpi lo."
Hening. Fio terus terpejam dan itu buat Theo jadi kesal. Cowok itu goyang-goyang pundak Fiona berharap cewek itu bangun.
Namun lagi-lagi nihil. Theo justru semakin gregetan karena Fio yang tidak kunjung bangun.
Tiba-tiba saja tanpa pemberitahuan sebuah ide gila terbesit di kepala Theo. Senyumnya tampak mengerikan.
"Oke kita pakai trik pamungkas." Dia dekati lagi Fiona, tepat di telinga cewek itu. "Fiona! Kabur, kebakaran!" teriaknya.
Tak ayal teriakan itu buat Fiona kalang kabut dan bergegas hendak berdiri. Apes, kakinya tersangkut kaki Theo hingga tidak bisa mengimbangi. Theo yang kaget juga tidak bisa mempertahankan keseimbangan. Keduanya limbung dan berakhir terjatuh dengan Theo ada di bawah Fiona.
"Kalian ngapain?" sentak seseorang dari depan dan itu adalah Kris.
"Kalian ngapain?" sentaknya lagi sembari mendekat secara cepat ke arah Theo dan Fio yang sedang saling impit.
__ADS_1