
Suara teriakan dan ratapan Fio menggema di dalam toilet. Dia tumpahkan rasa sedih dan kecewa sembari memeluk tangkai kain pel. Dia berjongkok, membiarkan air mata tumpah begitu deras. Kecewa serta sedihnya tidak terdefinisikan lagi. Hancur, remuk semua angan-angan untuk menggaet si guru baru setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Sementara Lio yang melihat itu jadi kelabakan sendiri. Sudah lebih dari setengah jam dia menenangkan adiknya itu, tapi tetap saja nihil. Justru makin kencang tangisnya. Cowok yang memakai seragam basket itu jadi bingung sendiri dan membiarkan Fio meratap.
"Udahlah. Berenti nangis, berisik! Nanti anak-anak pada ke sini terus mikirnya lo gue pukulin," oceh Lio, lantas menyugar rambut dengan kasar. Tak hanya itu, dia menatap kesal adiknya yang terduduk lemah itu.
"Please, Fio. Jangan lebhai. Gak capek apa nangis dari tadi?"
"Gue nggak bisa, Bang. Di sini sakit!" balas Fio sembari menekan dada, setelahnya kembali menangis. Bahkan intensitas tangisnya makin tinggi dan lama.
"Tapi mau gimana lagi. Dia udah punya anak. Mana anaknya segede Theo lagi. Lagian elo sih, belum juga tahu asal-usulnya udah main jatuh cinta aja."
"Jangan nambah-nambahin bisa gak sih, Bang. Gue lagi patah hati ni. Patah hati! Apa lu nggak tahu artinya patah hati?" oceh Fio sembari mengeja kata terakhir di kalimatnya.
"Ya enggaklah, seumur hidup gue nggak pernah patah hati. Gue nggak pernah ditinggalin cewek. Kebanyakan gue yang ninggalin."
Seketika itu juga mata Fio yang basah menyipit tajam kepada sang abang yang duduk di atas wastafel.
"Kalau mau nambah-nambahin mendingan lo pergi saja!" Fio kembali berteriak, sedetik kemudian menangis makin kencang dan itu membuat Lio jadi frustrasi. Dia turun dari meja wastafel lalu menepuk-nepuk pundak sang adik yang terguncang.
"Sabar, cowok gak cuma dia. Kalo beneran pengen pacaran, kenapa gak terima perasaan Ali? Dia kan udah lama demen sama lo."
"Gue gak suka Ali!" teriak Fio makin nyaring.
"Ya udah, kalo gak suka jangan ngegas."
Fio semakin sesenggukan. Di pakai jaket Lio sebagai kain untuk menyeka air mata juga ingusnya. Tak menyangka dia kalau Kris sudah menikah dan punya anak sebesar Theo.
"Gue nggak nyangka cinta yang baru aja bertunas udah di injak-injak. Sakitnya itu sampai ke sel-sel darah. Nusuk sampe ke sumsum. Sakit banget," lirih Fio lagi yang kembali memukul dada.
Sesak. Cewek itu baru pertama jatuh cinta dan pertama kali juga patah hati. Lebih mirisnya itu terjadi hanya dalam waktu satu hari.
"Gue gak percaya kalau dia punya anak. Umurnya masih muda, Bang. Kayaknya seumuran Tante Daisy. Tante Daisy aja belom nikah. Masa iya dia udah punya anak. Mana anaknya Theo lagi."
Setelah mengatakan itu Fio pun mengembuskan dengan kasar isi di hidungnya. Lio yang melihat itu sampai menjauh. Agak jengkel dia kala melihat jaket kesayangan jadi korban. Tapi, mau bagaimana lagi, adiknya kini sedang dalam fase menyedihkan dan dia tidak ingin menambah dengan omelan. Bisa tidak selesai tangisnya.
"Fi, Tante Daisy sama Pak Kris itu beda, ya. Beda jauh. Walaupun mereka kayak seumuran tapi nasib berkata lain. Ibarat ni ya, Tante Daisy Utara, Pak Kris itu selatan. Beda itu. Lagian enggak mustahil Pak Kris punya anak sebesar Theo, bisa aja Pak Kris nikahin janda tua makanya anaknya segede Theo. Sedangkan Tante kita, jangankan nikah, pacar aja pasti kagak punya. Wong galaknya ngalahin singa."
"Kenapa bukan gue jandanya? Kenapa harus ibunya Theo yang jadi istrinya?"
Lagi, isak tangis Fio semakin kencang. Lio yang gregetan pun ingin menoyor kepala adiknya itu, tapi terjeda karena ponsel yang ada di meja wastafel bergetar.
Bergegas Lio meraih benda itu dan memerintahkan Fio untuk berhenti menangis. Dia mengatakan kalau yang menelpon adalah tante mereka, Daisy.
Meski sedih teramat sangat mendera hati, Fio tetap menuruti perintah itu. Dia redam emosi juga isak tangisnya lalu mendekat ke Lio yang sudah ke mode gemetar harap-harap cemas.
__ADS_1
"Lio! Lagi di mana kalian?" teriak Daisy. Spontan Lio dan Fio menutup telinga. Agak menyesal mereka menekan tombol speaker. Tantenya itu jika sedang teriak melebihi suara toa.
"K-kita lagi di sekolah, Tan," balas Lio terbata. Dia sikut lengan Fio dan secara cepat diiyakan oleh Fio.
"Kenapa masih di sekolah? Apa kalian dihukum?" cecar Daisy lagi dengan nada masih tinggi. Sebuah pernyataan yang membuat Lio dan Fio saling tatap. Keduanya sama-sama menelan ludah.
"Ya ... ya enggaklah, Tan. Ngapain kita dihukum? Kita ini kan murid teladan. Iya kan, Fi?" Lio kembali menyikut lengan Fio.
"I-iya, Tan," timpal Fio dengan suara sengau.
"Lah, itu kenapa nangis? kamu nangis, Fi?"
"Enggak Tan." Spontan Fio dan Lio mengatakan itu.
"Kalau gitu cepetan datang ke toko. Tante mau pulang. Anak-anak pasti udah nungguin di rumah. Nggak ada yang jagain toko ini," lanjut Daisy.
Lio menelan ludahnya begitu juga Fio.
"Kayaknya nggak bisa deh, Tan. Kita lagi ada kerja kelompok," sahut Lio.
"Jangan bohong!"
Kedua bersaudara itu sontak berjengket.
"Kalian lagi gak bohongin Tante, kan?"
"Enggak dong." Keduanya kembali menjawab serentak.
"Oh ya udah, toko berarti Tante tutup sore ini."
Keduanya pun mengiakan. Sebenarnya mereka tidak tega melakukan ini. Sebenci apa pun mereka menjaga minimarket, tetap saja akan melakukannya mengingat itu adalah sumber pendapatan keluarga.
Semenjak ayah mereka meninggal, Daisy yang menjaga dan merawat serta menjadi kepala keluarga. Daisy yang menjaga dan menghidupi mereka sembari mengajar les di rumah. Ada beberapa murid SD dan SMP yang belajar dengannya.
Dulu, Daisy adalah guru honorer yang memegang pelajaran matematika, tapi sejak ayah Fio dan Lio meninggal tujuh tahun yang lalu, dia memutuskan berhenti dan mengajar les private. Menurutnya pendapat mengajar les lebih menjanjikan dan bisa menopang kebutuhan keluarga daripada menjadi honorer di sekolah.
"Ya udah. Lanjut aja belajarnya. Jangan banyak main. Tante gak mau ya kalian jadi sampah masyarakat. Pokoknya kalian harus lulus!"
Tut-tut-tut!
-
-
-
__ADS_1
Nyatanya, ratapan Fio berlanjut sampai ke rumah. Dia mengunci diri sejak pulang sekolah. Tidak ada yang dilakukannya selain meraung di dalam kamar dan tak membiarkan siapa pun masuk, termasuk Daisy. Wanita dewasa berusia dua puluh delapan tahun itu sampai lelah membujuknya untuk keluar makan malam.
"Kenapa Fio, kesurupan penunggu sekolah atau apa?" tutur Daisy sembari menarik piring dan mengisinya dengan nasi. Setelah itu menaikturunkan alisnya kala matanya menatap Lio yang asyik makan tanpa menghiraukan Fio yang meraung-raung.
"Lio! Tante lagi nanya!"
"Jangan teriak-teriak dong, Tan. Cukup Fio aja yang jadi polusi suara di rumah ini," balas Fio setelah menenggak air putih dalam gelas. Lamat dia menatap Daisy yang masih saja memasang wajah galak.
"Fio lagi patah hati. Jadi biarin aja dia kayak gitu, entar kalo haus atau laper pasti turun juga," lanjutnya.
"Patah hati?" ulang Daisy yang masih mencoba mencerna apa yang terjadi. Sebab, seumur hidup keponakannya yang satu itu jarang sekali menangis. Seingatnya terakhir kali Fio menangis histeris seperti itu saat mengetahui kalau ayahnya yang bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran meninggal saat bertugas.
"Iya, dia patah hati. Ada guru baru di sekolah tadi, terus si blooon itu bilang dia jatuh cinta. Tapi apesnya si guru udah nikah dan punya anak."
"Apa?" Teriakan Daisy menggema. Matanya juga melotot kala melihat keponakannya yang satu itu.
"Wow, selow, Tan. Yang gila itu Fio, bukan Lio."
"Tapi tetep aja kamu harusnya jaga adikmu itu. Gimana ceritanya dia naksir suami orang? Wah, gak bisa ini. Gak bener ini. Fio harus di ceramahi. Gampang banget dia jatuh cinta. Dia kira idup ini cuma tentang cinta? Dasar bocah edan."
Daisy yang geram sudah berancang-ancang akan pergi ke lantai dua rumahnya, tapi di tahan Lio.
"Biarin dulu, deh, Tan. Nanti dia malah ngamuk."
Spontan sebuah apitan keras mendarat di telinganya.
"Sakit, Tan. Lepasin dong! Aku bukan anak-anak. Ngapain dijewer sih, Tan? Lagian aku gak salah!" rintihnya dengan suara keras.
"Siapa bilang kamu gak salah? Ini itu juga gara-gara kamu juga Lio. Dia jadi gini karena kamu gak jagain dia," balas Daisy setelahnya melepas apitan. Tak ayal telinga Lio pun sudah memerah bak kepiting rebus.
"Kok aku yang salah sih, Tan?" sungut Lio yang masih saja mengusap telinganya. Mukanya manyun dengan bibir tak henti menggerutu.
"Iya, kamu sebagai abang gak bis jaga hati adek sendiri."
"Kita memang saudara, Tan. Tapi ya gak sampe gitu juga. Fio itu udah gede. Mana bisa aku ngatur hatinya. Anaknya keras kepala gitu."
"Sama aja kayak kamu."
Daisy mengeratkan rahang kala melihat Lio yang dengan santainya beranjak dari kursi hendak pergi. Cepat-cepat dia menarik kerah baju kaus keponakannya itu.
"Mau ke mana, ha?" tanyanya dengan nada geram.
"Ke kamar, Tan. Belajar."
"Alasan! Cuci piring dulu baru masuk kamar! Tante mau ngomong sama Fio."
__ADS_1