
Daisy yang tidak bisa tenang terus saja bolak balik di teras rumah. Pikiran wanita itu bercabang karena dua keponakannya tidak kunjung pulang, belum lagi tadi secara singkat Kris menjelaskan hal yang buatnya shock bukan kepalang—tantang Lio dan Theo yang berkelahi dan Lio mengungkit pasal pembunuhan.
Daisy makin resah, makin dipikir makin stres dia dan yang dilakukannya hanyalah merapal doa dan meninggikan harapan, berharap Lio dan Fio pulang dengan selamat.
Setelah lelah mondar mandir Daisy pun duduk di kursi sembari menopang kepala. Berat. Dia merasa ada ribuan batu yang mengimpit dada dan memukul kepalanya.
Tidak pernah dia duga sebelumnya kalau Lio ternyata mengetahui kebenaran yang selalu dia tutup rapat, kebenaran tentang siapa suami wanita yang dulu hendak diselamatkan almarhum ayah mereka.
"Des!"
Daisy yang pucat lesu mencari arah suara dan mendapati ada Kris yang berlari menghampirinya. Lelaki itu juga terlihat panik dengan sesekali celingukan.
"Mana mereka?" tanya Kris lagi yang dibalas Daisy dengan gelengan kepala.
"Aku gak tau, Kris. Tadi Lio langsung kabur ajak Fio. Aku takut, takut ...."
Lisan Daisy terjeda berganti dengan isakan pilu yang buat siapa saja kasihan. Selama ini Daisy adalah sosok wanita kuat di mata Kris maupun orang lain, termasuk Lio dan Fio. Namun, ketika tiba di titik paling rendah seperti ini, Daisy tidak bisa menguasai diri sama sekali. Dia kalut dan menyerah hingga air matanya tumpah ruah.
"Des, kamu tenang. Jangan nangis. Kamu kuat. Mana sosok Destian yang tomboy yang gak terkalahkan? Mana sosok Dastian yang selalu logis sampai jadi asisten dosen kesayangan? Ayolah, kamu bisa. Tenang, mereka pasti gak bakalan kenapa-napa," ujar Kris.
__ADS_1
"Aku gak bisa, Kris. Aku gak bisa ...."
"Kamu bisa, pasti bisa. Mereka bakalan baik-baik aja." Kris tekan kuat kedua pundak Daisy, berharap dapat memberi energi positif dan buat temannya itu tenang. Namun bukannya tenang, Daisy justru makin terisak, tidak terkendali.
"Aku gak bisa, Kris. Aku gak bisa. Hanya mereka berdua kelurga yang aku punya. Hanya mereka."
Kris terdiam. Mendengar keluh kesah Daisy ini tak pelak buat dia juga merasa pilu. Semacam ada perasaan berat yang perlahan merangkak naik ke dada dan menyelimuti dia secara keseluruhan. Saat begini ....
Ah tidak! Bukan hanya saat ini, sering kali dia berpikir begini, andai ... andai dulu dia tidak bersikukuh menyelamatkan Marwa dan masuk ke apartemen yang terbakar. Andai dia mencegah seorang petugas kebakaran yang mencoba menyelamatkan Marwa, tidak mungkin ada meninggal. Tidak mungkin petugas itu meninggal juga.
Kris sungguh sangat menyesal, karena kejadian itu Daisy jadi tulang punggung keluarga. Karena kejadian itu juga Kris merasa bersalah seumur hidupnya ini karena itu.
Andai dulu dia tidak terlalu bucin sama Marwa, dia pasti menurut saat dibilang berbahaya masuk ke dalam. Jika dia menurut, pasti tidak akan menambahkan korban. Namun mau bagaimana lagi, saat itu dia sangat mencintai Marwa dan tidak peduli apa pun. Dia hanya ingin segera menyelamatkan Marwa. Kala kebakaran itu terjadi banyak yang mencegah tapi dia nekat menerobos hingga satu lengan buatnya berhenti di tengah kepulan asap yang mulai pekat. Seorang bapak-bapak berseragam lengkap mengatakan agar tugas menyelamatkan Marwa dia emban saja.
Melihat air mata Daisy yang mengalir, Kris secara naluriah ingin menenangkan. Dia rangkul Daisy hingga mendarat di dadanya yang bidang, sedangkan Daisy sendiri, dia terlalu kalut dengan hati, ketakutannya menggunung sampai tidak menyadari kalau ada Fiona yang berdiri mematung tidak jauh dari mereka. Cewek berkepang dua itu mengepalkan tangan. Air matanya berlinang. Perih, sakit, sesak. Sudah tidak terdefinisikan. Hari ini merupakan hari terberat dalam sejarah Fiona. Kris ternyata adalah orang yang terlibat dalam kecelakaan itu, dan sekarang dia melihat kalau Daisy dan Kris tampak begitu akrab.
Tersakiti, terkhianati, perasaan itu bergumul dalam dada dan buat dia tidak bisa apa-apa selain menangis, bibir bergetar. Kris, adalah lelaki pujaan yang dia pikir bisa memberinya kasih sayang yang sudah lama tidak dia dapat dari seorang ayah.
"Tante ...." Fiona memanggil. Nada suaranya sangat pelan tapi bisa didengar Daisy. Bergegas Daisy menjauh dari tubuh Kris, lantas mendekati Fiona yang seperti sudah kehilangan separuh jiwa Tatapannya begitu kosong.
__ADS_1
"Fi, kamu gak apa-apa, 'kan? Lio mana?"
Fio tidak menjawab. Dia terlalu kalut menenangkan diri dan tidak punya waktu mencerna maupun menjawab pertanyaan Daisy.
Daisy yang paham ada kesalahpahaman menarik Lengan Fiona. Keponakannya itu tidak berkedip sama sekali saat menatap Kris yang ada dibelakangnya.
"Fi, dengerin Tante. Dengerin apa yang mau Tante katakan. Ini gak bener. Yang kamu lihat itu sebenarnya."
"Aku paham sekarang," sela Fiona. Dia halus jejak kesedihan dan menatap lekat Daisy yang panik. "Aku paham apa yang mau Tante bilang."
"Fiona ...." Daisy pegang tangan kanan Fiona tapi ditepis.
"Sudah aku bilang, aku paham, Tan."
Daisy terbeku sama halnya dengan Kris. Lelaki itu mencoba mendekati Fiona, tapi belum juga sempat mendekat lebih dekat Fiona lebih dulu mengangkat tangan—kode agar Kris berhenti.
"Fi ...."
Fiona tidak menggubris panggilan Kris. Dia hanya diam terbeku sembari menghapus air matanya.
__ADS_1
"Gak perlu dijelaskan, Pak. Sekarang aku udah paham walau gak sepenuhnya ngerti. Tapi satu yang bisa aku pastikan, mulai sekarang aku bakalan menghentikan ini. Mulai sekarang aku gak bakalan ganggu Bapak lagi. Hari ini, aku mengakhiri perasaanku. Cinta sepihak yang aku punya telah berkahir," jelas Fiona. Setelahnya berlari masuk rumah. Daisy pun mengejar masuk ke dalam, sedangkan Kris sendiri mematung di teras sembari menekan dada. Dia merasa sakit teramat sangat tapi tidak tahu apa sebabnya.