
"Jadi enjoy pacaran sama gue?" tanya Theo lagi.
Fiona mengangguk.
"Jadi gue pacar ideal ni ceritanya?" Theo ngoceh lagi, senyumnya mengembang bangga.
Fiona kembali mengangguk.
"Kalau untuk jadi suami?"
Fiona tadinya mau mengangguk, tapi tidak jadi. Dia malah memindai Theo dari atas sampai kaki.
"Lah, kenapa gitu ekspresinya?" tanya Theo.
"Lo emang tipe pacar ideal. Kalo suami ideal kayaknya belom."
Statement menohok itu tak buat Theo sakit hati, malah penasaran. "Loh kok bisa? Katanya gue pacar ideal?"
"Iya, kalo pacar mungkin ideal. Tapi kalo suami kayaknya belom. Suami ideal itu kan harus mapan. Bukan pengangguran."
"Ya kan nanti juga kerja," kilah Theo.
__ADS_1
"Ya makanya jangan bahas suami apa segala. Masih muda ini."
"Tapi katanya Lio lo mau nikah muda," goda Theo lagi sembari mengedip genit dan itu memantik sedikit emosi Fiona. Gadis itu pun sampai mengentak kaki.
"Ngeledek sekali lagi gue pergi ni," cetusnya galak.
Namun, respon Theo hanya senyum saja. Mereka kembali melangkah bersisian.
"Jangan ngambek. Canda doang kok. Jadi tipe suami ideal pikiran elo kek mana?"
"Ya yang gak gimana-gimana. Yang penting baik, yang pengertian, yang penyayang sama gue, terus mapan. Nah itu, mapan itu penting. Ya kali gue yang cari duit, bisa hancur berantakan rumah tangga. Dan yang jelas harus punya sisi ke bapakkan. Ya lo tau sendiri kan gue dari kecil udah jadi yatim piatu. Selama ini hidup hanya dengan kasih sayang Tante Daisy. Jadi gue itu paling senang lihat laki-laki dewasa. Kayak bisa mengayomi gitu," jelas Fiona, tanpa sadar dia membayangkan Kris dan senyumnya terukir amat manis.
"Jadi itu yang buat lo suka pada Daddy gue?" sindir Theo, baru kali ini dia agak terganggu dengan ocehan Fiona.
"Apa karena Daddy punya sisi itu semua makanya lo nekat ngejar dia?"
Fiona makin gugup. Namun berusaha sewajarnya saja. "Ish, lo apaan, sih? Kok bahas dia lagi?"
"Ya kan gue penasaran?"
Aneh memang, dia yang mulai dia yang kebakaran jenggot. Tak dipungkiri Theo cemburu, cemburu karena Kris mampu menguasai isi kepala Fiona tanpa Fiona menyadari itu
__ADS_1
Namun, Fiona tidak memedulikan. Dia terus melangkah sembari memukul bibir sendiri. Dia yakin ocehannya kali ini menyakiti Theo tanpa sadar.
Sementara itu, Theo diam-diam melihat punggung Fiona yang menjauh. Dia mulai berpikir sesuatu, kalau Fiona memang belum move on seutuhnya.
Fiona yang menyadari ketidakberadaan Theo pun membalik badan jarak mereka sekarang sekitar enam meter.
"Ayo mengapa berhenti di sana?"
Theo memaksakan senyum walau hatinya mulai mengkerut.
"Ish, ayo!" lanjut Fiona lagi. Dia pun segera menghampiri Theo, tapi langkahnya terhenti ketika merasakan ponsel bergetar. Dia rogoh saku dan agak melotot saat melihat nomor tak bernama tapi tahu siapa pemiliknya.
Kris, itu nomor Kris. Fiona sudah lama menghapus nomornya tapi sialnya nomor itu seakan terekam begitu saja dalam kepala. Hapal luar kepala.
Namun, karena menghargai Theo, dia pun menekan panel merah dan memasukkan kembali ponselnya ke saku. Dia dekati Theo lalu memberi senyuman.
"Jangan ngambek, ngambek jelek."
Namun, ponsel Fiona kembali bergetar dan itu dari nomor yang sama.
Ngapain ini orang nelpon? batin Fiona.
__ADS_1
Pelan dia jawab juga nomor itu dan meletakkannya ke telinga, sedang mata, tetap berserobok dengan mata Theo yang sendu kala menatap.
"Fiona, cepat pergi dari sana. Cepat pergi!"