Sugar Teacher

Sugar Teacher
Inget dosa


__ADS_3

Setelah selesai mengerjakan tugas Fiona pun minta diantar Theo ke rumah Aulia. Rencananya remaja itu akan menginap dan akan langsung ke sekolah besok pagi.


"Heh, ngapa ngelamun?" tegur Aulia. Dia datang dan berdiri di sebelah Fiona. Keduanya memegang pembatas balkon dan melihat langit malam. Angin malam berembus pelan menyibak rambut keduanya.


"Bosen, ya?" lanjut Aulia. Dia mengembuskan napas panjang. "Ya beginilah rumah gue, sepi. Rumah lo pasti rame."


"Banget. Lo tau Bang Lio sama Tante Daisy, mereka terus-menerus adu mulut. Sikap Bang Lio yang nyebelin dan cemprengnya suara Tante Daisy merupakan perpaduan yang buat lo gak akan bisa paham. Perpaduan yang buat rumah gak pernah sunyi. Bayangkan, di rumah itu kami cuma bertiga tapi kayak nampung dua tim kesebelasan. Pusing gue kadang-kadang," balas Fiona yang disertai helaan napas lagi


"Ya, itu mending daripada sendiri." Kini Aulia yang seperti tidak bersemangat.


Fiona pun membalik badan menatap Aulia. "Atau lo ngekos aja di rumah gue."


"Ya enggak mau. Ngapain? Yang ada nanti ...." Lisan Aulia terjeda dan Fiona tau artinya.


"Apa? Lo takut ketahuan?"


Aulia nyengir. "Gue takut khilaf terus melompat ke kasur abang lo."


Spontan Fiona memukul pundak sahabatnya itu. "Heh Marimar, cinta ya cinta. Suka ya suka. Tapi jangan gila juga. Ingat, ada surga neraka. Lo siap masuk neraka? Percaya omongan gue. Bobrok bobrok begini nilai akidah akhlak dan fikih gue bagus. Gue juga hapal surat Yasin. Jadi jan macam-macam lo ye. Gue sate entar. Gue gak mau masa depan lo sama abang gue ancur gara-gara perasaan."


Aulia kembali nyengir, lalu garuk-garuk kepala. "Ya maap. Habisnya abang lo gemesin, sih."


Fiona cuma tepok jidat. Lalu memukul jidat Aulia. Keduanya terkekeh bersama. "Kita jangan jadi generasi micin."


Hening. Keduanya diam. Fiona pun merasakan dadanya sesak. Dia itu tadi tidak hanya menasihati Aulia, tapi menasihati diri sendiri juga sebenarnya. Rasa sukanya pada Kris sudah di atas wajar. Dia takut sebelum Aulia gila, justru dia yang gila duluan.


"Tapi memang, suka itu gak bisa kita kendalikan. Lo ingat kan gimana gilanya gue ngejar Pak Kris?"


"Ho oh. Seumur hidup gue baru liat orang gila segila elo. Lo bahkan ngasih ciuman pertama ke dia." Aulia geleng-geleng kepala, lalu menatap sinis Fiona yang menatap depan. "Gak takut dosa lo? Pas nekat begitu inget hapalan Yasin gak?"


Sekarang giliran Fiona yang nyengir. "Gue nyesel, Au. Inget itu malu sendiri. Malu dapet, dosa juga dapet. Gue kayak gak punya harga diri."


"Jangan ulangi lagi."


Keduanya menempelkan kepala, lalu menghela napas hampir sama durasinya. Tatapan mereka juga sama.


"Gue tadi ngeliat dia. Gue liat itu guru liatin gue sama Theo," ujar Fiona setelah sekian lama. Aulia sampai menarik kepala dan menatap lekat.


"Jadi elo mikirin itu dari tadi?" tanya Aulia lagi.


Fiona mengangguk pelan. Jemarinya saling tertaut. "Pandangannya ngusik banget. Gue jadi gak tenang. Kira-kira apa ya artinya?"


"Lah, elo salah. Ngapain nanya gue? Tanyain langsung ke orangnya," decak Aulia kesal.

__ADS_1


Spontan Fiona mendorong pundak Aulia dan buat sahabatnya itu terhuyung ke samping. "Lo kira gue gila? Ngapain hubungin dia saat gue mau move on? Lagian nomornya juga udah gue hapus. Cuma lagi proses ngapus jejaknya aja di hati sama otak gue."


"Jan baper. Kali aja dia cuma liatin Theo."


Fiona manggut-manggut. "Iya juga sih ya. Cuman gue ngerasa tatapannya itu beda aja gitu, kayak nyimpen luka."


"Terus, lo mau berlari terus nyembuhin luka dia gitu. Ingat Fiona, elo udah nerima anaknya jadi harus tanggung jawab, dong. Jangan plin-plan ngapa. Kasihan hati anak orang kalau patah nanti susah disembuhin," omel Aulia lagi.


Fiona membenarkan ucapan Aulia. Tapi Fiona memang tidak ada niatan untuk mengkhianati Theo. Dia sungguh-sungguh akan coba terima Theo. Hanya saja melihat tatapan Kris tadi buatnya memikirkan banyak hal. Tentang arti tatapan dan segala macam.


Aulia pun menyenggol lemah Fiona. "Mumpung masih awal kita jalan aja, yuk. Temenin gue beli baju. Tante gue bakalan ulang tahun jadi rencananya gue mau kasih dia gaun. Lo temenin gue, ya? Sambil kita cuci mata."


Fiona menyipitkan mata, tapi sedetik kemudian merangkul lengan Aulia. Tawa keduanya pun mengudara.


-


-


-


Jam telah menunjukkan pukul delapan malam saat Aulia dan Fiona selesai memilih baju di salah satu butik tidak jauh dari rumah. Keduanya tampak saling gandeng, mereka terus bercerita tentang banyak hal. Heboh sendiri.


"Au, sekarang kan masih awal, kita nyantai di kafe ini yok. Kayaknya seru," bisik Fiona.


"Eh Au, kafe ini kayaknya mau ada acara," oceh Fiona yang terus melihat sekitar dan melihat karyawan tengah sibuk menyusun bangku dan gelas. Mejanya dibuat memanjang. Muat hampir tiga puluhan orang.


"Kayaknya reuni," balas Aulia dengan berbisik pula.


"Ya udah yuk kita pulang aja. Pasti rame nanti di sini."


Aulia kembali membenarkan kacamata. Heran. "Lah, tadi katanya mau yang seru. Kan ini seru. Tu liat mereka mau reunian. Dan kayanya yang datang adalah om om ganteng. Kali aja ada yang lirik kita."


Fiona spontan melemparkan kentang goreng ke Aulia. "Jan ganjen. Lagian dari mana lo tau?"


Tangan Aulia menunjuk tulisan yang ada di atas meja. Posisinya di sebelah buket bunga. Bertuliskan Reuni SMA Pertiwi.


"Itu, ada tulisan, bahkan ada tahun angkatan berapa. Kayaknya seumuran tante lo deh," jelas Aulia yang direspon Fiona dengan gelengan kepala resah. Dia kemas semua barang.


"Bodo ah. Mending cabut. Nggak nyaman gue."


Keduanya pun berniat pergi namun urung saat melihat dua orang lelaki dewasa melewati mereka. Kedua orang itu berdiri tidak jauh dan menatap meja panjang itu.


"Eh, lo yakin kalau Kris datang?"

__ADS_1


"Kris Manggala? Iya dong. Gue yakin tahun ini dia pasti datang."


Fiona yang tadinya berdiri langsung terbeku dan kontan duduk lagi. Dia kaget saat mendengar ada yang menyebut nama Kris, bahkan nama lengkap.


"Eh, ngapain lo bengong?" bisik Aulia.


"Gue kaget, Au. Jantung gue kayaknya melorot ke lambung. Perut gue sampe keram. Gak bisa gerak gue."


Aulia yang paham mencoba mengembalikan kewarasan sahabatnya itu dengan cara menepuk pipinya. "Cuma kebetulan. Bukan orang yang sama itu. Ayo cepetan. Katanya mau pulang?"


Namun respon Fiona cuma gelengan kepala. Tatapannya kosong menatap meja yang sudah disulap sedemikian rupa, lalu ke punggung dua pria yang berdiri hanya berjarak dua meter saja dari meja mereka. Salah satu pria terlihat menginstruksikan pada karyawan. Dari sana Fiona bisa menebak kalau dia adalah pemilik kafe.


"Oh iya, dong. Dia kayaknya bakalan menghangatkan suasana. Dia angkatan kita dan cuma dia yang masih jomlo. Bisa kita pake buat nyudutin dia. Jujur gue masih dendam. Sok kecakapan, sih," timpal si pemilik kafe.


Kedua pria itu terkekeh meremehkan.


"Iya gue juga masih dendam. Padahal gue kira dulu dia bakalan jadi sama Alin. Ee taunya malah sama janda anak satu. Heran gue sama si Kris. Udah gitu mendudanya lama banget lagi," sahut pria lainnya.


Aulia dan Fiona saling tatap. Mereka tidak jadi bergerak.


"Padahal itu si Alin kayaknya naksir loh. Kris enggak peka."


"Nasib dia sih. Gue denger si Alin bakalan nikah bulan depan. Calonnya seorang pengacara. Gila si Alin, beruntung dia gak jadi sama Kris yang cuma jadi guru."


Mendengar itu air mata Fiona meluruh. Di sini dia tahu fakta baru, kalau Kris dan Alin kembali membohonginya.


"Malam ini gue mau nyudutin si Kris habis-habisan." Si bos kafe tertawa licik.


Tak lama setelah itu gerombolan wanita dan pria datang. Mereka langsung menempati tempat dan itu buat Fiona menatap nanar. Namun, tatapan itu berubah seketika saat melihat Kris merupakan salah satu orang yang ada di gerombolan itu.


Tatapan mereka beradu. Kris bahkan sempat terbeku, tapi karena kepalang tanggung Kris putuskan pura-pura tidak lihat dan tetap berbaur dengan teman semasa SMA dulu. Dia mengabaikan Fiona.


"Hai Kris. Sendirian aja. Alin mana? Kalian gak bareng?" tanya pria tadi. Pria bos kafe yang mengatakan punya dendam pada Kris.


Kris tidak menyahut, matanya hanya tertuju ke Fiona. Saat semua heran di mana tatapan Kris berlabuh, segera Fiona dan Aulia memunggungi.


"Lo liat apaan, sih? Jangan bilang liat hantu bini lo. Lo bareng dia ke sini?" lanjut di bos kafe.


Ocehan itu tak pelak membuat situasi riuh rendah dan sialnya Kris tidak bisa membalas walau telah dipermalukan. Pikirannya hanya tertuju ke Fiona.


Fiona yang geram segera merampas paper bag yang Aulia pegang.


"Heh, mau ngapain lo?" bisik Aulia. Harap-harap cemas.

__ADS_1


"Gue mau balas dendam," balas Fiona.


__ADS_2