
"Bang. Minggir kagak!" teriak Fio. Mukanya sudah pias karena Lio terus mengebut tanpa memedulikan keselamatan diri sendiri maupun orang lain. Fio bahkan beberapa kali menahan napas karena abangnya itu kedapatan hampir menabrak pengendara lain.
"Bang Lio, kalo mau mati jangan ngajak-ngajak. Gue belom mau mati, Bang! Dosa gue bejibun sedangkan pahala baru sebiji jagung. Jadi jangan ngadi-ngadi. Berhenti kagak!" lanjut Fio.
Namun lagi-lagi tidak ada respon dari Lio dan itu buat Fio makin ketat ketir.
"Bang, kalo kagak berhenti gue cekek lo!"
Ajaib, setelah mendengar ancaman itu Lio langsung menarik rem hingga motor metik milik Daisy berhenti mendadak di depan sebuah ruko yang kebakaran beberapa minggu lalu, garis polisi bahan masih ada. Keduanya hampir saja terjatuh andai kaki Lio tidak jenjang.
"Lo gila, Bang?" Spontan Fio melompat dari motor dan menatap kesal sang abang yang bergeming dengan mata melotot.
"Kalo stres jangan kebut-kebutan. Gue masih pengen senang-senang, pengen nikah sama Pak Kris, pengen ...."
"Apa dia penting banget buat lo!" teriak Lio yang buat Fio seketika bungkam. Jantung cewek berkepang dua itu dag-dig-dug tidak karuan. Rasa kesal bercampur takut menjadikannya terbengong mengerjap menatap lekat Lio.
"B-bang L-lio?"
"Jawab Fio!" teriak Lio lagi. Tidak main-main kali ini karena telah mengerahkan seluruh suara yang ada. Dia geram pada Fio yang tergila-gila pada Kris tanpa tahu apa pun tentang lelaki itu.
"Apa dia lebih penting dari gue dan Tante Daisy?" lanjut Lio yang masih di nada suara yang sama.
Fio yang kaget tentulah tergemap. Dia mematung dengan mata tidak mengerjap sama sekali. Seumur hidup baru ini melihat Lio segarang itu saat memarahinya.
"Bang Lio ...." Mata Fio mulai memproduksi air sedikit demi sedikit dan itu buat Lio makin geram.
__ADS_1
"Jangan menangis! Lo gak bisa nangis hanya karena ini! Lo gak berhak nangis!"
Bergegas Fio hapus air mata yang sudah tergenang. "Bang, lo sebenarnya kenapa? Kenapa marah-marah. Lo buat gue takut, Bang."
"Dan gue juga takut sama diri sendiri kalau lo terus begoo kayak gini."
"Maksudnya apa, Bang. Lo dipukulin dia? Enggak kan?" Fio hapus air matanya lagi, lantas memegang tangan Lio. "Bilang ke gue, apa yang terjadi. Kenapa lo pulang dengan muka bonyok begini? Terus kenapa marah-marah?
Lio tidak menjawab, hanya tangannya yang terkepal erat.
"Jadi bilang ke gue, lo begini karena apa? Apa hubungannya lo dipukuli sama dia? Gue yakin buka dia yang buat lo kayak begini. Dia gak mungkin, dia guru, dia ....
Lio tepis tangannya dari genggaman Fiona. "Fio! Bisa gak lo pake otak lo dikit aja."
"Bang ...." Air mata Fio menitik tanpa bisa dicegah. Dia shock hebat.
"Theo? Tapi kenapa?"
Lagi, Fio hapus jejak kesedihan di pipi. Meski bingung dia tetap butuh jawaban. Di matanya Lio adalah abang terbaik walau kadang sama gilanya dengan dia.
Akan tetapi satu hal yang pasti, abangnya itu tidak akan pernah marah tanpa sebab.
"Gak perlu tau kenapa sebabnya. Tapi yang gue pinta bisa enggak lo lepasin obsesi elo ke dia? Bisa gak?"
Spontanitas Fio menggelengkan kepala. Bagaimana bisa dia mengabulkan permintaan itu saat hati sudah tertaut dan tertambat. Meski dia sayang Lio dia tetap akan memperjuangkan cintanya pada Kris.
__ADS_1
"Fiona!" teriak Lio lagi. Orang-orang yang kebetulan lewat sampai menoleh dan menatap heran. Bahkan ada yang berpikir mereka hanyalah sepasang sejoli yang sedang bertengkar perihal hubungan asmara.ynag terjalin.
"Bang, bisa gak jangan bentak-bentak?"
Fiona yang tidak tahu menahu akan perubahan sikap Lio pun menghapus air mata. Dia mantapkan hati dan memberanikan diri menatap garang ke abangnya.yang sudah seperti orang kesetanan.
'Kasih gue alasan. Kasih gue alasan kenapa harus lakuin permintaan lo barusan," balas Fio akhirnya.
"Lo ya ...." Lio memukul angin. Berkali-kali dia melayangkan pukulan bahkan tendangan. Namun sia-sia, bukannya lega yang diterima, dia malah semakin gusar. Dia sugar rambut dengan sebelah tangan, lalu berteriak lantang.
Frustrasi? Ya, Lio merasakan itu. Tidak bisa dia tenang saat mengatakan kebenaran. Tapi juga tidak bisa dengan mudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Bang, kalo lo gak kasih gue alasan, gue bakalan tetap ngejar dia. Gue bakalan tetap ...."
"Dia yang buat ayah meninggal," potong Lio.
Sekonyong-konyong mata Fiona terbelalak. Dia tergemap dengan dada naik turun. Nyalang dia tatap Lio.
"Jangan bohong!" pungkasnya. Air matanya meluruh banyak.
Lio yang tidak punya pilihan terpaksa menjelaskan. Dia jelaskan semuanya tanpa dikurangi atau tambahkan. Fiona yang shock sampai memundurkan langkah. Kewalahan dia menopang berat badan sendiri.
"Gak, enggak. Lo pasti bohong! Lo pasti bohong!"
Setelah mengatakan itu Fiona pun membalik badan. Dia membiarkan air mata menganak sungai, lantas menahan tukang ojek yang kebetulan lewat.
__ADS_1
"Fio! Fio, lo mau ke mana?" teriak Lio. Dia coba kejar ojek itu tapi gagal karena lampu lalu lintas mendadak berubah warna menjadi merah.