
"Ehm, itu ...."
"Ya, itu sebenarnya apa, Pak?" Saking geramnya Fiona sampai mengepalkan tangan. "Bapak beneran ngintilin kita, 'kan?" cecar Fiona lagi.
Kris yang sudah terpojok pun mengembuskan napas panjang, lantas menatap berani Fiona. "Ya, ya saya ngikutin kalian. Bahkan satu kali pun nggak pernah terlewatkan."
"Hah?" Fiona terbeku, kesal dan marah buatnya kesulitan melisankan kata. Tak menyangka dia ternyata gerak-gerik selama ini bersama Theo dipantau terus oleh Kris.
"Bapak keterlaluan! Bapak melanggar hak asasi kami sebagai manusia," geram Fiona dan lagi-lagi direspon Kris dengan helaan napas panjang.
"Saya minta maaf. Saya cuma ingin jagain kalian."
"Jagain kami?" Fiona pun tertawa sumbang. Ingin dia mencekik Kris, tapi apa daya sudah kepalang pernah sayang. Mau memaki juga tidak bisa. Dia kesal, tapi tidak sampai tega berlisan kasar. Dia tahu Kris orangnya seperti apa. Lelaki itu terlalu baik untuk seorang laki-laki, baik tapi sayangnya pengecut.
"Apa bapak nggak ngerasa kami ini udha ketuaan buat dijaga. Kami udah besar, Pak. Punya privasi."
__ADS_1
"Saya benar-benar minta maaf. Nggak ada niatan buat ganggu kalian," ujar Kris lagi.
"Ck, gampang banget Bapak minta maaf. Kalau Bapak diintilin terus apa Bapak nyaman?"
Kris diam, dimarah Fiona pun dia tidak akan menyela maupun membela diri karena tahu tingkahnya ini memang salah sejak awal. Itu konsekuensi yang harus dia terima karena mengusik privasi orang. Kris sadar salah, hanya saja hati tak pernah tenang jika Theo bersama Fiona. Entah khawatir mereka kenapa-napa atau melakukan apa-apa dia juga tidak tahu, tapi yang jelas lelaki itu tidak pernah bisa tenang membiarkan mereka berdua. Beberapa bulan ini itulah yang ada dalam benak Kris. Lelaki itu merasa menjadi laki-laki paling jahat karena tidak tenang dengan kebahagiaan anak sendiri. Saking tidak tenangnya dia bahkan memasang kamera pengawas di ruang tamu tanpa Theo tau. Alat itu sangat membantu, meski tidak melihat langsung tapi dia bisa mengawasi keduanya.
"Saya hanya ngelakuin hal yang wajar orang tua lakukan. Saya nggak mau kalian salah jalan."
Alibi Kris ini buat Fiona makin geram.
"Hah! Salah jalan konon. Norak tau nggak, Pak." Seketika mata Fiona terpicing, lalu bersedekap sembari mengangkat sedikit dagu.
Dicecar begitu buat Kris gelagapan.
"Ya, ya bukan. Siapa bilang saya cemburu. Kamu enggak seistimewa itu." Kris terdiam dan menutup rapat bibir karena sadar telah salah bicara. Sebenarnya itu adalah kebalikan dari isi hatinya sendiri. Dia tersiksa melihat kedekatan Fiona dan Theo, tapi juga tau batasan. Dia dan Fiona tidak akan bisa bersama.
__ADS_1
Sedangkan Fiona, dia terbeku. Ada air yang perlahan menggenangi peluk matanya. Sebab, penolakan itu terlalu kejam buat dia dengar secara lantang. Hatinya berdenyut nyeri. Fiona juga tidak tahu kenapa bisa begitu, harusnya biasa saja karena memang keduanya sepakat untuk mengubur perasaan masing-masing. Tapi tetap saja rasanya agak sakit. Ucapan Kris bak jarum yang terus menusuk yang menghancurkan setiap pembuluh darahnya.
"Lalu kenapa Bapak ngelakuin ini?" tanya Fiona, sekeras hati dia menahan air mata.
"Ya ya karena saya ... karena saya takut kalian melampaui batas. Itu saja," sahut Kris.
Fiona pun semakin geram, tapi lidahnya benar-benar tak bisa melisankan apa-apa. Dia pun memutuskan menyudahi perdebatan itu dan pergi meninggalkan Kris. Namun sebelum itu, dia lepas jaket Kris dan melemparkannya begitu saja ke lelaki itu.
"Seharusnya Bapak nggak usah kayak gini. Ini keterlaluan. Aku itu nggak bakalan ngancurin masa depan Theo."
Setelah mengatakan itu Fiona pun melangkah dengan langkah panjang. Sambil berjalan Fiona hapus jejak air mata yang sudah terlanjur turun, lantas mengikat rambutnya tinggi-tinggi ke atas. Dia kesal, sangat kesal hingga berlari tanpa mengindahkan tatapan aneh para pengunjung.
"Dia keterlaluan, keterlaluan!" gumam Fiona. Dia lawan rasa sesak di dada dengan berlari.
-
__ADS_1
-
-