
Setelah bertanya seperti itu Lio tanpa merasa bersalah pergi begitu saja meninggalkan sang adik yang nelangsa memikirkan jawaban. Fiona itu begitu suka sama Kris dan sangat ingin menjadikan Kris miliknya. Akan tetapi merasa berat jika harus mengorbankan Daisy.
Seperti yang Lio bilang, kalau Daisy adalah pengganti ayah mereka yang sudah meninggal. Walau galak Daisy tak ubahnya payung bagi mereka. Melindungi tanpa pamrih. Tanpa Daisy, tidak mungkin dia dan sang abang bisa hidup dan tumbuh dengan layak. Tidak mungkin bisa mengenyam pendidikan tanpa kekhawatiran. Jika bukan karena Daisy, mungkin mereka akan putus sekolah, atau mungkin bisa lebih parah, jadi berandal atau gelandangan mungkin.
Memikirkan kemungkinan buruk membuat Fiona bergidik. Dia merebah di kursi plastik dan menatap isi toko yang penuh dengan rak-rak. Isinya beraneka ragam, dari makanan ringan sampai kebutuhan rumah tangga. Bahkan ada juga ATK.
Melihat sekitar berdenyut hati Fiona. Kalau bukan Daisy yang bekerja keras untuk mereka, tidak mungkin dia dan abangnya bisa makan cukup. Daisy bahkan berkorban banyak untuknya dan Lio. Mengorbankan cita-cita agar bisa memberi kehidupan yang layak untuk mereka.
Kendatipun toko itu peninggalan sang ayah, tapi kalau tidak ada campur tangan Daisy, sudah dipastikan tidak beroperasi dengan benar. Daisy itu ayah sekaligus ibu baginya.
Merasa frustasi karena tidak mendapatkan jawaban, Fiona pun menjambak rambut sendiri, lalu berteriak keras hingga pembeli yang baru saja mendorong pintu kaca toko terkejut dan terjungkal ke belakang.
"Aduh maaf maaf." Fiona yang berada di belakang meja kasir bergegas membantu pengunjung toko yang tidak lain adalah orang yang dikenalnya.
"Theo? Kamu gak apa-apa? Sini aku bantu." Tangan Fiona mengambang karena Theo tidak menerimanya sama sekali. Cowok yang masih mengenakan seragam itu menyugar rambut kesal, lalu menatap sinis Fiona yang cengar-cengir.
"Heh, harus ya teriak-teriak? Ngagetin aja," balas Theo. Dia berdiri dan merapikan seragam yang kotor terkena pasir dan debu.
"Sorry ...."
__ADS_1
Theo yang kesal tidak mengindahkan. Dia dorong tubuh Fiona, lalu melengos melewati begitu saja dan bergegas mencari apa yang dia inginkan. Minuman dingin yang ada di showcase menjadi tujuan cowok tinggi berhidung bangir bermata sipit itu.
"Berapa?" tanya Theo ketus sembari menyerahkan sebotol minuman isotonik rasa apel ke Fiona.
"Gratis buat calon anak," balas Fio yang masih saja cengar-cengir.
"Gajelas banget sih lo."
Theo berdengkus. Dia letakkan uang dua puluh ribu di meja. Dia pilih mengabaikan ocehan Fiona karena berpikir cewek itu akan lelah sendiri mengejar sang ayah.
"Jadi gimana, masih mau belajar apa enggak?" tanya Theo setelah menenggak hampir seperempat isi dalam botol.
"Kenapa? Kangen?" goda Fiona, matanya mengedip yang seketika membuat Theo ingin muntah.
"Dih, ni mulut pedes amat. Hati-hati durhaka. Aku itu calon ibu kamu."
Lagi, Theo tenggak air isotonik itu. Dia butuh asupan gula agar tidak gila menghadapi Fiona.
"Mau apa enggak?"
__ADS_1
"Mau dong. Ya kali nolak rejeki. Kan bisa cmemew sama ayang embeb."
"Oh god." Theo yang geram pun mereemmas botol yang ada di tangan hingga bunyinya terdengar jelas. Matanya juga melotot menatap Fiona yang seakan tidak punya malu. Cewek yang ada di depannya kini hanya cengar-cengir memperlihatkan gigi.
"Oke, kita lanjut. Mid gak lama lagi. Tapi ...."
"Tapi?" ulang Fiona spontan karena Theo menggantung lisan.
"Tapi kita belajarnya gak di rumah gue. Tapi di rumah elo."
"Yah ...."
"Gak ada bantahan. Gak setuju artinya batal."
Wajah Fiona cemberut. Dia duduk lagi di kursi sembari menatap wajah Theo yang merah padam.
"Theo," panggil Fiona kala tubuh Theo sudah membelakanginya.
"Kenapa lagi?" balas Theo tanpa mau membalik diri. Dia gemas, takutnya jika berdekatan dengan cewek itu lebih lama, dia tidak bisa mengendalikan diri.
__ADS_1
"Kita kencan yuk!"
Bagai disambar petir. Theo limbung dengan sendirinya. Dia balik badan dan menatap Fiona geram. "Apa lo gila?"