
Kris segera berdiri. Tatapannya begitu nanar kala bertemu pandang dengan Fiona yang jujur saja membuat jantungnya kembali makin berdebar. Pasalnya gadis remaja yang ada di depannya itu sekarang terlihat sangat cantik dengan gaun dan riasan yang pas. Terlihat lebih dewasa dan imut secara bersamaan. Kesan remaja, bocah ingusan tidak terlihat lagi di wajah itu.
"Fiona kamu kok ...."
Lisan Kris terjeda karena seorang teman menepuk lengannya, teman yang ternyata adalah si pemilik kafe itu.
"Hey Kris, lo nyembunyiin cewek secantik ini? Wah, gila lo ya," ucap si pemilik kafe lalu mengulurkan tangan pada Fiona.
"Hai, salam kenal juga, aku Nanda, teman sebangkunya Kris waktu SMA dari kelas satu sampai kelas tiga, kita barengan terus. Iya, kan, Kris?" Dia menyenggol lengan Kris yang dibalas Kris dengan anggukan saja. Itu semua karena Kris masih cengo dengan perubahan Fiona yang signifikan dan tiba-tiba.
Akan tetapi Fiona tahu sesuatu, Nanda itu licik. Semua hanyalah sandiwara termasuk senyum itu. Fiona sudah tahu betapa jahatnya Nanda yang begitu ingin mempermalukan Kris di sana.
Jadi, rencananya Fiona akan membantu Kris agar tetap bisa menjaga kehormatan di depan teman. Dengan begitu Kris akan berterima kasih dan klepek-klepek padanya, setelah itu akan susah move on mengingat kebaikan yang telah dia berikan.
"Oh, gitu, ya. Beruntung banget dia punya temen baik kayak mas ini," balas Fiona memuji, padahal nyatanya ingin memukul Nanda.
Ni om om sok kecakepan banget. Liat yang bening matanya langsung juling, umpat Fiona, tapi tetep memperlihatkan senyumnya yang memang amat manis, bahkan laki-laki di sana memuji dan mengeluarkan decak kagum. Mereka tidak menyangka kalau Kris punya pacar baru.
"Ya bisa dibilang kita best friend," lanjut Nanda lagi. "Ya sudah ayo duduk. Gak capek berdiri?"
Namun Kris yang panik mencoba menjauhkan Fiona dari Nanda. Dia tarik lengan Fiona. Tapi Fiona seperti tidak peduli dan dengan santai duduk di kursi yang telah Nanda tarik untuknya.
"Makasih, ya, Masnya baik banget," puji Fiona lagi yang buat Kris makin masam kecut. Perasaannya tak menentu saat Fiona hadir dengan dandanan begini, ditambah sedari tadi tebar pesona ke taman seangkatan.
Kris senggol kaki Fiona, tapi Fiona balas menyenggol seakan bilang tidak akan menurutinya. Gadis itu juga mengerling galak padanya disela obrolan pada Nanda.
Dari gelagat itu Fiona sadar, kalau Nanda menaruh minat, bahkan terkesan terang-terangan bilang mengaguminya. Fiona pun menyambut. Sengaja bersikap ramah pada Nanda agar Kris marah. Terbukti, karena tanpa siapa pun lelaki itu terus mengepalkan tangan di bawah meja. Bahkan saat ditanya dia banyak bengongnya, planga-plongo seperti bingung. Itu karena perhatiannya terganggu, semua karena Fiona yang tebar pesona.
Sedang Alin, dia terus berusaha menahan tawa melihat tingkah centil Fiona dan gelagat Kris yang kentara sekali sedang cemburu.
"Minum, Sayang," ucap Fiona sembari menyerahkan gelas cappuccino es ke bibir Kris. Kris yang masam kecut menerima dengan hati dongkol. Dia berdengkus dan memberi kode keras agar Fiona pergi dari sana.
Namun Fiona menolak terang-terangan dengan cara memperlihatkan smirk jahat. Karena memang niat awal Fiona adalah balas dendam, maka dia secara total buat Kris kebakaran jenggot.
"Mas, Nanda. Boleh nggak aku nanyi. Aku mau kasih lagi buat pacarku ini," oceh Fiona yang buat Kris seketika tersedak.
"Astaga, kok kaget gitu."
"Iya tubuh Kris. Masa ceweknya mau nyanyi dipelototi gitu. Nggak asik," sahut teman lain. Seketika ribut semua dan Kris pasrah melihat Fiona makin disukai banyak orang.
__ADS_1
Fiona pin mulai ujuk kebolehan. Dia petik senar gitar lalu mulai memperlihatkan kemampuannya. Lagu Im Yours dari Jason Mraz.
Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you're so hot that I melted
I felt right trough the cracks, now I'm trying to get back.
Fiona terus menyanyi, sengaja memperlihatkan kemampuannya dalam menyanyi dan bermain gitar. Sampai-sampai semua pria di sana kembali memberi decak kagum. Remaja itu terus membuai mereka dengan suaranya yang renyah. Semuanya mengagumi Fiona tanpa ada yang menyadari kalau gadis yang ngakunya punya minimarket itu adalah seorang remaja kelas 3 SMA.
"Wah, hebat lo Kris bisa dapetin dia. Pandai main gitar, suaranya bagus banget lagi. Kayak Fatin Shidqia," oceh seorang teman Kris.
"Iya, wajahnya juga cantik, imut. Walaupun gak tinggi tapi dia punya banyak kelebihan. Gak apa deh pendek, kata orang cewek pendek gak makan usia. Mukanya tetep imut. Jadi kira-kira kapan ini undangannya?" timpal lelaki yang ada di sebelah Kris. Kris cuma bisa tersenyum canggung sembari mengunyah keras es batu.
"Kalau lo belum siap gue siap kok gantiin elo." Nanda menimpali, smirk terlihat jelas.
Kris yang geram dengan keadaan mengepal kuat. Nanar dia tatap Fiona yang sedang menyanyi, lalu berubah ke Alin yang memberinya senyum mengejek pula. Kris sadar, ini pasti ada campur tangan Alin, sebab perhiasan itu pernah dia lihat saat menemani Alin memilih perhiasan dan Alin terang-terangan mengatakan akan beli perhiasan itu kalau sudah gajian.
"Iya, Kris, cepat di segerakan. Takutnya nanti diembat orang," oceh Alin kini yang dibalas Kris dengan pelototan tajam.
Kris pun tidak tahan. Dia berdiri lalu menatap satu persatu teman. "Aku duluan."
Setelah mengatakan itu Kriss segera menghampiri Fiona tanpa peduli banyak yang menyayangkan dan melarang Kris pulang.
"Loh Pak, tapi aku belum pamit."
"Nggak perlu, saya udah bilang tadi."
Jika sudah begini Fiona cuma bisa pasrah dan mengikuti langkah Kris. Namun, tanpa Kris sadari sebelah ujung bibir gadis itu tertarik.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Tapi selama diam begitu Fiona sadar kalau Kris sedari tadi mencuri pandang padanya. Menyadari itu Fiona pun kembali tersenyum jemawa.
Pasti terpesona dia. Rasain, batin Fiona.
"Ini rumahnya?" tanya Kris saat tiba di depan rumah Aulia.
Fiona mengiakan, lalu membuka sabuk pengaman. "Nggak ada yang mau Bapak katakan?" tanyanya.
Kris terdiam, dia menelan ludah.
__ADS_1
"Gimana menurut Bapak saya malam ini. Apa masih keliatan anak kecil?" lanjut Fiona. Matanya mengerjap.
Namun Kris tidak menjawab, jangankan menjawab menatap mata Fiona saja dia tidak berani.
"Oiya, Pak, calon suaminya Tante Alin ganteng ya. Mereka serasi."
Untuk kali ini Kris terlihat berubah. Dia usap muka dengan sebelah tangan, lalu menatap wajah Fiona lekat.
"Maafkan saya. Saya berbohong," ucap Kris Akhirnya dan itu buat Fiona tersenyum puas.
"Kenapa harus bohong?" tanya Fiona lagi dan Kris tetap diam.
"Bapak ternyata penuh kebohongan. Apa jangan-jangan ucapan Bapak saat di halaman rumahku tempo hari juga kebohongan?"
Kris pun menampik. "Itu saya jujur. Saya menyadari kalau memang punya rasa ke kamu. Saya serius. Tapi ... tapi gak tau kalau ternyata Theo juga ...."
"Jadi bapak nyerah?"
Kris terdiam lagi. Jakunnya saja yang naik turun.
"Ya sudahlah, Pak. Nggak guna juga." Fiona hendak membuka pintu mobil tapi tangannya berhenti saat mendengar Kris memanggil.
"Kenapa lagi, Pak?" Masih dengan posisi memunggungi, Fiona pun mengeluarkan napas panjang. "Kalau nggak ada apa-apa lagi aku permisi."
"Saya hanya ingin bilang, tolong jaga hati Theo. Soal perasaan saya, jangan kamu katakan. Ini cukup jadi rahasia kita. Bisa?"
Fiona membuang napas kesal. "Aku nggak niat bahas begituan. Bukan obrolan yang menarik juga. Dan soal hati, aku beneran sungguh-sungguh sama Theo."
Kris tersenyum getir, ada lega bercampur sedih. Lega karena Fiona benar-benar menerima Theo, tapi juga sedih secara bersamaan, itu artinya cintanya kini bertepuk sebelah tangan.
"Belajarlah yang bener. Nggak lama lagi ujian. Jangan banyak main. Jangan banyak tebar pesona. Jangan banyak ...."
Belum juga selesai Fiona telah keluar dari mobil tanpa menyadari ponselnya tertinggal. Segera Kris mengambil dan memanggil Fiona lagi.
"Ponsel kamu ketinggalan!" serunya sembari keluar dari mobil.
Fiona yang dongkol kembali memutar tumit. Dia dekati Kris dengan tergesa-gesa dan tidak sadar kalau heelsnya menginjak lubang.
Alhasil Fiona oleng. Dia mendarat tepat di dada Kris. Jarak terkikis habis. Kris bahkan menegang saat merasakan dadanya menempel pada dua gundukan kenyal. Saking gugupnya lelaki itu bahkan sampai menahan napas dengan tangan mencengkeram erat sisi celana.
__ADS_1
Fiona yang menyadari kesalahan fatal itu pun memukul kepala sendiri. Pelan-pelan dia bergerak menjauhi Kris dan agak kaget saat melihat sesuatu di wajah lelaki itu.
"Pak, Bapak mimisan!"