Sugar Teacher

Sugar Teacher
Perjaka satu-satunya.


__ADS_3

Karena hal itu Fiona tidak keluar sama sekali. Dia terus saja mengurung diri tanpa peduli pada Daisy yang resah dan khawatir menunggunya keluar.


"Fi, kamu gak berangkat sekolah, Sayang? Ini hari Kamis, loh. Jean bilang ada ulangan hari ini," ucap Daisy yang terus saja berdiri memegang nampan nasi goreng, ada ayam KFC di atasnya.


Akan tetapi tanda-tanda terbukanya pintu sama sekali tidak ada dan itu meresahkan bagi Daisy. Diketuknya lagi pintu itu.


"Fi!"


"Biarin aja, Tan. Letak aja di sana sarapannya. Dia gak bakalan buka pintu kalau ada kita di sini," sambar Theo. Dia sudah rapi dengan seragam batik khas sekolah. Cowok itu baru saja keluar kamar. Ransel terlampir di sebelah pundaknya.


"Tapi, Lio ...."


"Yuklah, Tan. Aku juga laper. Hari ini ada ulangan jadi kudu belajar lagi nanti di kelas."


Mata Daisy langsung menyipit dan Lio paham artinya. Cowok itu pun nyengir garing.


"Jangan bawa contekan Lio. Tante gak mau kalau harus ke sekolah lagi gara-gara kamu ketahuan nyontek."


Lagi, Lio nyengir kuda.


"Dan juga jangan malakin anak orang. Kita memang hidup serba pas-pasan tapi bukan berarti kamu bisa ngelakuin itu. Itu gak baik. Kalau butuh apa-apa bilang Tante, Tante pasti usahakan."


Lio menepuk jidat tidak percaya Daisy membahas masalah itu.


"Ya Tuhan, Tan. Kasus jaman baholak dibahas lagi. Lagian itu udah lama. Waktu aku sama Fio kelas satu. Lagian waktu itu kita gak niat malak, kok. Cuma mau ngerjain aja. Siapa suruh dia belagu."

__ADS_1


"Lio!"


"Iya deh iya." Lio nyengir lahi dan turun ke bawah lebih dulu meninggalkan Daisy yang masih mematung di depan pintu kamar Fiona.


"Ya udah, Fi. Sarapannya Tante taroh depan pintu, ya. Jangan lupa dimakan. Dan ngambeknya jangan lama-lama. Gak kasian apa sama Tante. Tante turun timbangan loh gara-gara kamu," kalakar Daisy lagi, tapi yang didapatnya hanyalah keheningan. Dia pun meletakkan nampan dan menjauh. Sebelum itu sempat dia membalik badan dan melihat pintu kamar terbuka. Setelahnya nampan yang diletak di sana sudah masuk dengan perlahan. Daisy yang melihatnya merasa lega tapi juga sedih secara bersamaan.


Di bawah ada Lio yang begitu lahap menghabiskan sarapannya.


"Pelan-pelan, Lio."


Lio yang sedang mengunyah mengangguk pelan. Dia perhatikan wajah murung Daisy dari depan. "Biarin aja, Tan. Nanti juga baek lagi."


Alis Daisy mengernyit. Dia jadi ingat perkataan Kris yang mengatakan kalau Lio tahu sesuatu.


"Lio, sejak kapan kamu tau?"


"Soal dia laki-laki itu sudah lama. Sejak dia datang ke sini, aku dengar semua obrolan Tante sama dia," balas Lio tenang.


Daisy terbeku.


"Maafin Tante Lio. Tante ngaku salah. Alasan Tante ngelarang dia nemuin kalian karena Tante benci dia. Tante masih sakit hati ditambah ayah kalian juga nyoba nyelametin istrinya." Daisy menunduk. Dia menghela napas panjang. "Kamu pasti mau bilang Tante kenakan. Tante akui kok. Tante emang picik waktu itu."


"Enggak kok, Tan. Aku ngerti."


Daisy mengangkat kepala dan menatap wajah tenang sang keponakan. "Kamu gak marah?"

__ADS_1


"Awalnya iya, aku marah sama Tante. Tapi setelah aku pikirin lagi wajar Tante begitu. Tante perempuan yang menyukainya tulus tapi gak dianggap. Ya pasti sakit hati. Andai dulu aku udah sebesar sekarang, udah pasti aku kasih dia bogeman. Enak aja bikin tanteku yang cantik nan soleha ini nangis-nangis."


"Lio ...." Berbunga hati Daisy. Dia tidak menyangka Lio yang selalu buat ulah ternyata dewasa dan mengerti wanita.


"Aku ngerti. Tapi aku gak bisa ngerti dia yang nyerah gitu aja. Dia pengecut."


Senyum Daisy sirna. "Lio, dia gak seburuk itu. Itu cuma kecelakaan."


"Enggak, itu kebodohan dia. Andai dia gak ngotot masuk gak mungkin Ayah yang masuk," dengkus Lio.


"Lio, ayah kamu petugas pemadam, wajar dia menyelamatkan orang yang terjebak."


Lio terdiam. Nanar dia melihat Daisy. Dia mengakui kalau perkataan Daisy benar, pemadam seharusnya seperti itu. Hanya saja dia masih kesal pada Kris. Sangat kesal malah.


"Ayah kamu gugur dengan cara terhormat," lanjut Daisy lagi.


"Terhormat apa gunanya kalau buat anak-anaknya jadi yatim." Balasan Lio sontak buat air mata Daisy meluruh.


"Maafin Tante ...."


"Tante gak salah, untuk apa minta maaf?"


Daisy menunduk makin dalam.


Lio berdiri lalu memakai kembali tasnya. "Aku hanya bilang ini buat jaga-jaga. Mau monyet lebaran pun aku gak bakalan maafin dia dan Theo. Dua cunguk itu gak pantes dimaafkan. Hais, bahas mereka langsung ilang hapalanku semalam," dengkus Lio dan Daisy makin terisak.

__ADS_1


"Sudahlah, Tan. Jangan nangis lagi. Jangan buat satu-satunya perjaka di rumah ini stres. Gak lucu nanti. Ya sudah, Tan. Aku berangkat. Assalamu'alaikum."


__ADS_2