
Acara kembali berlanjut walau tadi sempat terjeda. Siswi maupun guru tetap di halaman, hanya beberapa saja yang ada di UKS. Guru yang berkepentingan, salah satunya Kris. Lelaki itu terus ada di sana dan mengawasi Fiona. Tadi segera dia membawa dan menggendong Fiona menuju UKS. Tanpa bantuan siapa pun dia terus membopong gadis itu, kekhawatiran begitu kentara di wajahnya.
"Bu Sri, apa enggak sebaiknya kita bawa ke puskesmas?" tanya Mrs Jean pelan. Wanita cantik itu tampak sedikit panik. Pasalnya sudah lima menit berlalu tapi Fiona tak kunjung sadar padahal sudah di beri menyimak kayu putih, minyak angin dan lain-lain. Bahkan Aulia sedari tadi memijit kakinya.
Sri yang sedang mondar-mandir di dekat Jean pun mulai berpikir. "Saya juga heran. Tadi saya itu lihat dengan jelas, kalau yang terbentur duluan itu bukan kepala, tapi pundak. Terus jatuhnya juga bukan di semen tapi pasir sisa bangun pagar. Nah, melihat ketinggian panggung juga nggak terlalu tinggi, harusnya nggak kenapa-napa, kan? Nah ini anak nggak sadar-sadar dari tadi," sahut si Sri dengan berbisik pula.
Sri dan Jean pun bertatapan. Otak mereka mulai mengingat sesuatu. Selama tiga tahun sekolah Fiona tidak pernah pingsan sekalipun. Fisik muridnya itu kuat, dan kebal. Jadi mustahil bisa pingsan hanya gara-gara terjatuh dari panggung yang tingginya hanya satu meter.
Keduanya kontan menggeleng, lalu menatap Fiona yang terbaring di dipan. Tak jauh dari sana ada Kris yang duduk menatap lekat gadis itu.
"Pak, Bapak nggak mau keluar?" tanya Sri.
Kris cuma menatap dengan wajah datar. "Tidak, Bu. Saya mau nunggu dia bangun."
Jean yang sudah mendengar sedikit banyak kisah Kris dan Fiona pun tersenyum kecil. Dia tahu semuanya dari Daisy karena memang berteman baik. Dia ajak Sri pergi dari sana.
__ADS_1
Kini tinggallah Kris, Aulia dan Fiona yang sedari tadi bersandiwara. Dia malu, sungguh malu. Tapi sialnya Kris tak berkeinginan untuk pergi
Sialan ini si Aulia, harus gue kasih pelajaran nanti. Bisa-bisanya asal nyablak. Congornya kagak pernah makan bangku sekolah itu pasti. Bisa-bisanya nyuruh Pak Kris kasih napas buatan. Kan gue enggak sekarat, batin Fiona. *I*ni juga si guru, kenapa betah banget nunggu dimari? Nggak pegel apa dia? Ya Alloh, gini amat sih hidup. Mau ngindarin malu malah pegel, mana pengen pipis lagi.
Sementara itu ada Theo yang menatap. Matanya tak berkedip. Dadi jendela kaca dia bisa melihat kekhawatiran sang ayah tiri. Bahkan sedari tadi tak berkedip menatap Fiona. Lelaki itu memang tidak memperlihatkan, hanya saja Theo sudah bisa melihat kalau Kris khawatir. Ada sesuatu yang dia tidak tahu.
"Kenapa nggak masuk?" tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri di sebelah Theo. Orang yang tak lain adalah Filio.
Theo tak menggubris dan tetap melihat ke dalam. Dari jendela segi empat itu mereka bisa melihat keadaan di dalam.
"Gue lihat apa yang lo lihat dan gue satu pemikiran. Tapi soal keputusan, hanya elo yang bisa memutuskan." Filio tepuk pundak Theo lalu pergi begitu saja meninggalkan Theo yang mulai gamang. Haruskah egois ataukah mengalah?
Karena tak kunjung mendapat jawaban Theo pun pergi dari sana.
Sedang di dalam Aulia sudah mulai pegal. Tapi juga paham kenapa Fiona tak kunjung bangun juga. Itu pasti karena ada Kris di sana.
__ADS_1
Mengeram pelan, Aulia pun memberanikan menatap Kris yang duduk di kursi tak jauh darinya.
"Pak, Bapak nggak kebelet?"
Kris auto melotot. "Maksud kamu?"
"Eh enggak enggak. Maksud saya nggak apa-apa kalo Bapak tinggal. Saya bisa kok jaga Fiona."
Namun, Kris bergeming. Dia hanya fokus ke Fiona saja.
Gila, gimana buat itu guru pergi? Udah pegel ini jari dari tadi mijitin, sungut Aulia dalam hati.
Dia tarik napas panjang, lalu menatap Kris yang masih fokus ke Fiona.
"Pak Kris, ada kecoa!"
__ADS_1
Kontan Fiona berdiri. Dia peluk dirinya lalu menatap sekitar. "Kecoa? Mana kecoa? Mana kecoanya?" teriak Fiona yang buat Kris terbelalak dan Aulia menepuk jidat