
Kedatangan Kris beserta teeetek-bengek tak bisa buat Daisy biasa saja. Wanita hamil dua bulan itu menatap sang suami lekat, begitu juga sebaliknya. Namun meski bingung keduanya tetap mempersilakan Kris, Theo dan wanita tua—pembantu rumah tangga Kris—untuk masuk.
"Fio, buat minum dulu," titah Daisy.
Fiona dan Aulia segera ke dalam, tapi bukannya segera ke dapur dua remaja itu justru mengintip. Dari balik tirai mereka bisa melihat wajah tegang Kris dan Theo.
"Fi, ayo bikin minum," bisik Aulia, dia tarik paksa lengan Fiona hingga gadis itu mau tak mau menjauhi ruang tamu.
"Fi, itu si Theo ngapain bawa seserahan? Lo tau?" tanya Aulia. Dia bantu menata buah anggur ke dalam piring, sedang Fiona menuang teh ke dalam gelas.
"Gue juga nggak tau, Au. Tiba-tiba aja datang, nggak ngasih tau lagi." Fiona mengembuskan napas panjang, lalu berjalan ke depan diikuti Aulia. Dua gadis itu ikut duduk di sofa, tepat berhadapan dengan Kris dan Theo.
"Pak Kris, Theo, Mbok, minum dulu," tawar Fiona ramah. Hanya saja nihil, tidak ada yang menyentuh minuman itu.
"Theo, lo ngapain ke sini?" ucap Fiona setengah berbisik, mulutnya komat-kamit. Sayangnya Theo pura-pura tuki dan tidak paham. Fiona yang geram sampai menendang kaki Theo yang ada di bawah meja. Sialnya bukan Theo yang merintih, melainkan Kris. Fiona nyengir, buat sadar kalau salah sasaran.
__ADS_1
Daisy yang tahu pertarungan di bawah meja pun berdeham kecil. "Fiona, jaga sopan santun. Mereka tamu," katanya terdengar setengah geram. Kendati demikian wanita itu tetap menatap lekat si tamu, si pria cinta pertama.
"Ehm, matanya tolong dikondisikan," bisik Aris yang buat Daisy melotot, tapi berakhir menunduk malu. Wanita itu mengerti, suaminya kini tengah di mode cemburu. Jadi langkah aman adalah menetralkan emosi walau sebenarnya masih ada sejumput dendam yang masih bersarang dalam dada.
Mendadak semua diam, atmosfer berubah aneh dan tidak ada yang sanggup mengurai kebisuan yang ada. Fiona yang gerah beranjak dari sofa, lalu ke dalam dan mengambil kipas angin turbo. Dia arahkan ke segala arah hingga membuat rambut setiap orang berkibar. Bahkan Kris kesulitan bernapas karena kipas Fiona arahkan tepat di wajahnya.
"Fio, ngapain kencang-kencang?" omel Daisy. "Matiin nggak, sekarang," lanjut wanita itu lagi.
"Habisnya aneh, kali aja dikipasin ruangan ini jadi adem."
"Jadi maksud kedatangan kalian ke sini bawa seserahan buat apa ya?" tanya Daisy, mukanya agak masam. Dia tidaklah bodoh, jika sudah bawa seserahan pasti akan ada lamaran. Terlebih lagi dia juga tahu kalau Theo dan Fiona dekat. Hanya saja kalau menikah semuda itu dia tidak akan setuju.
Kris pun mengeram pelan, lalu melihat Theo dan Fiona secara bergantian, setelah itu menatap lekat wajah Daisy.
"Maaf sebelumnya, mungkin kedatangan saya kali ini mendadak dan buat kalian sekeluarga nggak nyaman. Sebenarnya, sebenarnya kedatangan saya sekeluarga ini berniat melamar Fiona buat ...."
__ADS_1
"Daddy," sela Theo.
Kris kontan menatap Theo, tidak percaya dia anaknya berani menyela terlebih lagi mengatakan hal gila. Jelas-jelas kedatangan mereka itu untuk melamar Fiona. Dan masih jelas diingatan Kris kalau Theo inginkan pertunangan. Lantas, kenapa jadi ngawur begitu?
"Theo, lo gila ya." Fiona angkat bicara.
"Fio, jaga sikap!" Kali ini Daisy yang menegaskan. Tatapan wanita itu tak ubahnya laser yang bisa memecah bebatuan, membuat Kris keringat dingin dengan detak jantung tak seirama.
"Ma-maaf. Maaf sebenarnya saya kesini buat melamar Fiona untuk The—"
"Ya kami ke sini buat melamar Fiona buat Daddy," sela Theo lagi. Keras, lantang, dan lancar
Fiona terbelalak begitu juga Kris. Lelaki berkacamata itu sampai melepas kacamata lalu mencekal lengan anaknya. Sebagai kode untuk diam.
"Theo, jangan main-main," geramnya.
__ADS_1
Namun sang anak seperti tidak ingin berpihak. Dia malah dengan berani melepas cekalan tangan Kris dan menatap Fiona. "Fi, lo mau nggak jadi Mommy tiri gue?"