Sugar Teacher

Sugar Teacher
telor


__ADS_3

"Nggak bisa!" tegas Kris lantang.


"Dad?" Theo agak shock mendengar penolakan itu. Seumur-umur baru ini Kris menolak permintaannya bahkan tanpa menimbang terlebih dulu.


Kris spontan berdiri lalu menatap garang Theo. "Kamu masih muda. Kenapa harus buru-buru tunangan?"


"Ya, ya kerena aku ngerasa udah cocok aja, Dad. Aku nggak mau kehilangan Fiona."


"Jangan gegabah, Theo. Kamu belum siap," tekan Kris lagi.


"Yang merasa siap atau enggaknya itu aku, Dad. Hanya aku yang ngerasa. Aku ngerasa udah siap buat serius sama Fiona."


Kris memegang kedua sisi kursinya. Dicengkramnya kuat tanpa mengalihkan pandangan dari Theo. "Theo, kamu sudah dewasa, kamu juga pintar, kamu pasti tahu bertunangan itu ada tanggung jawab. Ada resiko juga."


"Tapi, Dad?''


"Nggak ada bantahan, Theo. Daddy itu ingin yang terbaik buat masa depan kamu."


Theo diam-diam menelisik wajah Kris dan kemarahan Kris membuatnya menerka-nerka sebenarnya apa alasan Kris menentang? Murni karena masa depan atau karena cemburu?

__ADS_1


Setelah itu Kris pun masuk kamar dengan agak membanting pintu. Tentu aja bunyian yang dihasilkan buat Theo kembali kaget. Kris seperti bukan Kris yang dikenal. Kris adalah orang paling tenang dan paling sabar yang dia kenal, tapi sekarang .....


-


-


-


Sedang di rumah lain, Fiona sedang merebah memeluk boneka dolphin kesayangannya. Matanya tertuju ke plafon berwarna putih tulang. Di kamar yang didominasi warna abu monyet itu dia terus-menerus mendesahkann napas berat dan panjang. Seakan seluruh masalah dunia dia yang pikul. Padahal masalahnya saja tidak ada. Ujian sudah selesai, jurusan tata boga juga disetujui tantenya. Hubungan dengan Theo juga lancar jaya. Hanya ... beberapa kata dari Kris sudah buatnya kehilangan semangat hidup. Semua warna mendadak jadi abu-abu di matanya.


Namun, kegalauan itu tak bertahan lama sebab tercium sesuatu yang membuatnya kontan menyentuh hidung.


"Wah, ini dia biang keroknya," gumamnya lagi.


"Bang, lo ngapain? Mau bakar rumah?"


"Sembarangan!" balas Lio. Dia yang memunggungi Fiona terlihat sibuk menata sesuatu di piring, lantas membalik badan dan memperlihatkan isinya pada Fiona. Kontan adiknya itu terbahak-bahak.


"Bang, lo masak apaan?" Fiona masih saja terpingkal dan itu buat Lio geram. Dia letak piring itu ke meja hingga bunyian membuat tawa Fiona sedikit mereda.

__ADS_1


"Nggak liat? Gue masak makan malam buat kita. Tante Daisy lagi nginep ke rumah mertuanya jadi ya siapa lagi yang buat makan malam kalo bukan gue. Nih, makan! Gue buat telor mata sapi."


"Ya jangan maksa juga kali, Bang. Ha-ha-ha. Ini mah nggak mirip telor mata sapi, tapi telor mata jahanam. Item gitu. Ha-ha-ha."


"Bacot sekali lagi gue sumpel ya mulut lo."


Kontan Fiona menutup rapat mulutnya, sedang air sudah tertumpu di ujung mata. Sumpah, lihat hasil karya Lio membuatnya tak bisa berkata-kata.


"Makan, ini telor mata sapi dan lihat bukti betapa sayangnya gue ke adek tercinta," geram Lio lagi sembari mendorong masakannya yang gosong.


"Ih, ogah. Yang ada malah sakit perut," cibir Fiona lagi.


Lio pun menggerutu, tapi juga tidak bisa memaksa Fiona makan masakannya. Telurnya hitam semua. Aromanya juga buat hidung tersumbat. Nggak enak.


"Dah, Bang. Kita pesen aja."


Alis Lio naik sebelah. "Elo yang traktir, ya. Gue cuma ada gocap, itu pun buat jajan besok."


Fiona mendengkus sebal, tapi berakhir mengangguk juga. Dia gunakan ponselnya untuk memesan makanan, tapi belum juga terealisasikan bunyi mesin mobil di depan menginterupsi, tak lama ada di susul ketukan pintu buat keduanya berpandangan.

__ADS_1


"Fio, Lio, kalian ada di rumah, 'kan?" seru seseorang di balik pintu. Suaranya familier.


__ADS_2