Sugar Teacher

Sugar Teacher
Hati ke Hati.


__ADS_3

"Fi, buka pintunya. Tante mau ngomong!"


"Fi, ayolah, buka pintunya. Kita bicara!" lanjut Daisy yang terus saja menggedor pintu.


Fiona yang sedang merapikan baju ke lemari pun mau tak mau beranjak dari kasur, lalu membuka pintu dan berhadapan langsung dengan Daisy yang seharian ini dihindarinya.


Sebenarnya ingin sekali dia berontak keras jika mengingat kejadian tempo hari. Menyalahkan Daisy dan segala macam. Dia bahkan punya beberapa unek-unek yang rencananya akan diungkapkan pada Daisy jika wanita itu ngotot melarangnya menyukai Kris.


Nyatanya, dia kicep saat teringat dengan perkataan Lio, bahwa Daisy adalah pengganti kedua orang tua mereka yang sudah meninggal. Jadi harap dimaklumi jika Daisy bersikap begitu. Itu semua karena semata-mata ingin melindungi.


"Mau apa?" ketus Fiona sembari bersedekap.


"Tante mau ngomong."


"Apa?" lanjut Fio yang tetap mempertahankan gengsi. Sebenarnya dia sudah memaafkan Daisy. Hanya saja hati masih sedikit kesal. Beruntung Kris tidak ilfil dan mau melanjutkan kencan mereka yang hanya tinggal tiga kali lagi.


"Ini." Daisy menyodorkan amplop kecil ke tangan Fiona. "Buka, buat kamu."


"Buat aku?" Mata Fiona mendelik menyelisik. Dia yang awalnya sandaran di ambang pintu pun mengerjap heran. Daisy yang tidak sabar menarik tangannya dan meletakkan amplop putih itu.


"Ini buat kamu. Buka aja."


Meski kesal bercampur jengkel Fiona buka juga amplop itu dan betapa kagetnya dia setelah melihat isi amplop tersebut.


"Tante mau nyogok aku?" tanyanya dengan nada naik satu oktaf. Tadi dia yang ingin memaafkan jadi kembali berang. Sebab di dalam itu adalah uang yang jika Fio hitung sebesar lima ratus ribu.


"Tante pikir uang ini bisa gantikan perasaan aku?"

__ADS_1


"Bukan, bukan begitu. kamu jangan ngegas dulu. Tenang, Fio."


"Lalu ini apa?" lanjut Fiona. Dia genggam uang dalam amplop. Hatinya juga sama seperti itu, bagai di remas.


"Itu uang yang Tante siapkan khusus buat kamu. Bukan sogokan. Itu Tante dapat bayaran les dan rencananya memang buat kamu. Sepatu kamu hampir rusak, 'kan?"


Fio terdiam, emosinya sedikit mereda dan cengkeraman di amplop juga sedikit mengendur.


"Maaf, Tante baru bisa kasih sekarang. Sebenarnya udah lama pengen kasih kamu, cuma pengeluaran kita terlaku banyak. Maafin Tante ya."


Lagi, Fio mati kata. Dia mematung, bingung mau jawab apa. Harusnya Daisy marah seperti biasa dan mereka beradu mulut. Tapi lihatlah, Daisy dengan baiknya memberi uang setelah apa yang telah dia lakukan.


Saat hati tengah berkecamuk bimbang begitu tiba-tiba Daisy menggenggam tangannya, lantas menatap lekat. Penuh ketulusan dan Fiona makin serba salah. Haruskah melanjutkan aksi marah-marah padanya?


"Pakai uangnya dengan baik, ya, Fi. Beli sepatu sama pakean dalam kamu. Tante liat ada beberapa yang udah melar. Masa anak perawan pake dalaman melar," canda Daisy yang tidak dibalas Fiona dengan tawa sama sekali.


"Maafkan Tante. Tante lupa, selain cari uang buat makan Tante harusnya juga lebih perhatian," lanjut Daisy yang mulai merasakan matanya memanas.


"Tante ...." Air mata Fio sukses lirih. Sang Tante yang dia cap galak, yang selalu dia kutuk jadi perawan tua sampai mati, ternyata begitu peduli bahan ke hal terkecil pun.


"Maafin Tante yang gak becus jadi orang tua, Fi. Tante masih gak paham gimana caranya jadi orang tua yang baik."


Fiona menggeleng cepat, makin sesenggukan dia begitu juga Daisy. Keduanya saling mengeratkan dan menguatkan dalam pelukan.


"Tante jangan ngomong gitu. Tante orang hebat walaupun galak. Maafin aku juga, Tan. Aku kekanakan. Kalau bukan Tante entah jadi apa aku sama Bang Lio. Tante orang tua kami. Aku sayang kok sama Tante walau Tante galak."


"Galak?" Daisy tersenyum getir saat di cap galak. "Apa Tante galak sama kalian?"

__ADS_1


Fiona mengiakan dengan gerakan kepala. "Tapi kami sayang Tante. Tolong jangan nyerah jadi orang tua kami."


Daisy mengusap pipi yang juga telah basah. Mendengar ucapan Fiona serasa ada kepedihan yang perlahan merayap naik ke dada dan itu menyesakkan. Daisy merasa gagal menjadi orang tua setelah kepergian Fiona beberapa hari yang lalu. Dia merasa menjadi orang tua egois padahal bukan itu niat sebenarnya.


"Tante juga mau minta maaf soal yang tempo hari. Tante salah. Tante gak seharusnya kasar. Kamu pasti benci banget sama Tante kan?"


Fiona menggelengkan kepala. Air matanya meluber ke mana-mana.


"Tapi percayalah. Tante hanya takut kamu salah jalan. Tapi sekarang Tante janji, Tante bakalan percaya kamu dan akan mendukung apa pun yang kami mau."


Fiona yang sudah berlinang air mata mengendurkan pelukan. Dia menatap lekat mata Daisy yang juga ikut basah.


"Maksud Tante apa?" tanyanya.


"Tante gak bakalan ngekang kamu lagi. Kamu mau suka sama siapa aja Tante gak akan ikut campur. Tapi meski begitu tolong jaga diri, ya. Jangan terjerumus ke hal yang bakalan kamu sesali nanti."


"Ih, Tante apa-apaan, sih? Gini-gini nilai fikih sama akidah akhlak aku tuh tinggi tau," sungutnya sembari menghapus air mata. Daisy yang gemas mengusap pucuk kepalanya.


"Iya, Tante percaya kamu."


"Beneran?" Mata Fiona berbinar seketika.


Daisy pun mengiakan dengan anggukan.


"Makasih, Tan. Makasih banyak." Fio kembali menghambur ke dalam pelukan Daisy. Semua sikap curiga dan kekesalan yang menggunung selama ini luntur seketika. Dia menyayangi Daisy, sangat.


Aku hanya berharap Kris menepati janjinya, batin Daisy. Dia usap lagi rambut lurus Fiona.

__ADS_1


Maafin Tante, Fi. Ini semua demi kebaikan kamu. Kamu itu gak cocok buat dia terlepas dari masa lalu kami dan dan bagaimana ayah kalian meninggal karena nyoba nyelametin istrinya. Maafin Tante, dia gak cocok buat kamu. Dia gak pantes kamu sukai sebesar ini. Kamu punya masa depan yang lebih cerah. Tolong jangan benci Tante, ya. Tante sayang sama kamu. Lio juga.


__ADS_2